Minggu, 14 September 2025

Ghirah Mading Sekolah

Dokpri Mading Sekolah


SDIT Baitul Quran kembali berusaha menghidupkan tradisi baik. Tradisi baik tersebut yakni mengisi mading sekolah dengan ragam hasil karya siswa. Sebenarnya tidak hanya siswa, guru pun memiliki kesempatan berpartisipasi di dalamnya. Ragam karya mulai dari cerpen, puisi, pantun, komik hingga gambar bercerita sesuai tema. 

Tema yang diusung pada bulan kemerdekaan ini adalah hikmah di balik kemerdekaan. Kemerdekaan merupakan momentum sakral yang kerap kali kita peringati setiap tahun. Peringatan yang menandakan bahwa kita sebagai warga Indonesia mengakui dan menerima akan sejarah bangsa Indonesia yang ada. 

Jika boleh jujur, mading utama sekolah belakangan memang sempat vakum. Kurang lebih sekitar tiga tahun terakhir mading itu lengang. Ada kemungkinan hal ini dipicu karena sumber daya manusia sekolah terlalu fokus menghidupkan mading kelas masing-masing. Alhasil tidak sempat meluangkan waktu untuk menghidupkan mading utama sekolah.

Harus diakui dengan saksama, beberapa tahun terakhir memang ada program kerja semesteran untuk perlombaan mading dan kebersihan kelas. Kelas-kelas ditinjau dengan ketat-disiplin dan diberi penilaian. Hasilnya, para pemenang akan diumumkan setiap awal bulan. Tepatnya selepas upacara bendera selesai. 

Sertifikat diberikan. Wajah sumringah tertengger jelas di kedua bibir para siswa. Jika kemenangan dalam kurun satu semester sudah sampai pada batas mamksimal maka kelas yang bersangkutan akan diberikan reward. Reward yang dapat dirasakan seluruh penghuni kelas tak terkecuali wali kelas di dalamnya. 

Selain itu beberapa waktu sempat pula mading itu hanya diisi dua elemen utama, yakni buletin sekolah dan barcode absensi dewan guru. Pemandangan yang tentu saja tidak ramah untuk mata. Sebab, apa yang dipajang tidak sesuai konteks dari eksistensi mading sekolah itu sendiri. 

Nasib mading utama sekolah dibahas tuntas dalam rapat tahunan awal pelajaran 2025/2026 tahun ini. Hasilnya, disepakati bahwa mading utama sekolah menjadi tanggung jawab semua kelas. Masing-masing kelas akan mengisi mading secara bergilir dan terjadwalkan dengan baik. Sebagai pelopor, kelas 6 tampil perdana. 

Agustus menjadi bulan pembuka mading utama sekolah terisi. Secara tersirat, kelas 6 ternyata mengusung tema di luar konteks dengan tema Hobiku (My Hobbies). Kendati begitu apabila ditelisik lebih jauh, pada kenyataannya karya-karya seputar hobi para siswa tetap ada korelasi dengan semangat kemerdekaan. 

Hal itu dapat ditinjau dari ragam olahraga dan permainan yang sering diperlombakan dalam semarak peringatan hari kemerdekaan. Lha, emang iya? Contohnya olahraga dan permainan apa? Sepak bola, voli, renang, memancing, layangan hingga memasak. 

Tidak sedikit cabang olahraga, permainan dan kegiatan yang dideskripsikan para siswa menjadi andalan dalam momentum kemerdekaan. Sepak bola dan voli adalah olahraga yang gencar dipentaskan sekaligus digandrungi masyarakat dalam perhelatan Agustusan. 

Tidak hanya olahraga, kreativitas masyarakat khususnya Tulungagung bahkan terus berkembang hingga ada budaya karnaval berjilid-jilid. Karnaval yang bertajuk detik-detik kemerdekaan, hasil bumi, daur ulang, baju adat hingga ragam profesi memadati jalan raya sesuai rute. Semua orang tumpah ruah ke jalan.

Semarak kemerdekaan terbaru yang sempat viral di berbagai platform media sosial adalah lomba pacu jalur. Perlombaan tradisional dayung perahu yang berasal dari Kuantan, Singingi, Provinsi Riau. Festival tahun 2025 menjadi medan magnet yang begitu besar. Yang demikian dibuktikan dengan dihadiri para pejabat penting, mulai dari Wakil Presiden, tiga Menteri dan Duta Besar. 

Kembali ke topik. Semoga kebangkitan mading sekolah ini menjadi salah satu wadah terbaik untuk menyalurkan kreativitas para siswa. Sudah selaiknya para siswa mengekspresikan inspirasi, ide dan gagasannya dalam berbagai bentuk karya secara merdeka. Selebihnya terselip doa: Semoga potensi literasi diri para siswa terus menggeliat dan mengentas. Tabik!
 

Senin, 01 September 2025

Menghayati Semangat Kemerdekaan

 

Dokpri flyer PHBN HUT RI ke-80

"Maka, berlombalah dalam berbuat kebaikan..." QS. Al-Maidah: 48

SDIT Baitul Qur'an (19/7/2025) menghelat peringatan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80 dengan outing class. Outing class dilaksanakan di Office Taman Ngrowo, Sembung. Fokus utama kegiatan ini yakni menularkan semangat perjuangan dalam momentum kemerdekaan. 

Momentum ini dimeriahkan dengan berbagai lomba. Mulai dari lomba individu dan kelompok. Perhelatan lomba individu meliputi balap karung, makan kerupuk, pukul jan bedak, dan paku botol. Sedangkan estafet kelereng, tarik tambang, estafet karet dan angkat botol karet adalah kategori lomba kelompok.

Sumringah terpancar jelas dari wajah para siswa. Ekspresi mereka seakan-seakan sedang menegaskan satu pernyataan yang telah lama terpendam: "Momentun seperti inilah yang kami tunggu. Coba saja setiap hari konsep belajar di sekolah seperti ini. Kami senang, guru suka. Kesenangan itu kian bertambah manakala kegiatan dipungkas dengan pembagian hadiah yang sama rata."

Kalimat itu hanya terbenam kuat dalam benak mereka. Anak-anak memang memiliki dunianya sendiri yang mungkin bersebrangan dengan orang dewasa. Akan tetapi fantasi dan kesenangannya tidak mesti harus dituruti setiap waktu. Harus ada tarik ulur dan pembatasan untuk menjaga keseimbangan daya juang mereka. 

Jikalau semua kesenangan, harapan dan keinginan semua anak dikabulkan dengan mudah takutnya hanya akan membangun persepsi bahwa segala sesuatu berada dalam genggamannya. Tentu hal itu sangat berbahaya. Sebab dapat menempatkan anak dalam kesombongan, malas berjuang dan menganggap sepele apa yang ada di sekitarnya. 

Melalui peringatan HUT RI ke-80 dengan beragam lomba inilah kami berusaha menanamkan sikap jihad (perjuangan), fastabiqul khairot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan ukhuwah islamiyah (persatuan-kesatuan di antara siswa dan lingkungan). Perlombaan ini menyiratkan bahwa dalam setiap momentum semua siswa memiliki kesempatan yang sama. Sisanya hanya tergantung kemauan masing-masing siswa, mau mengambil kesempatan atau tidak.

Opsi berani mengambil kesempatan tentu lebih baik daripada tidak pernah mencoba. Anak-anak memang harus belajar mendobrak rasa minder, takut dan malu. Semuanya itu akan runtuh jikalau anak diberi kesempatan dan ruang yang memadai untuk mengekspresikan diri selama itu dalam hal kebaikan. 

Kemerdekaan dalam diri siswa hanya akan hadir manakala mereka mau berproses dan bertindak. Proses dan tindakan yang dilalui ini akan berdampak pada hasil yang dituai. Proses yang baik tentu akan melahirkan hasil yang baik. Karena alasan inilah pentingnya kita mempertimbangkan  proses.

Kesibukan kita yang hanya fokus pada penilaian hasil akhir adalah salah satu bukti sikap keegoisan kita. Sikap purbakala yang sudah seharusnya diubah sejak saat ini juga. Sikap arogansi yang menegaskan bahwa kita tidak pernah ingin tahu bagaimana perjuangan dalam meniti proses itu ditegakan. 

Proses jatuh bangun, meniti jalan terjal dan sederet pengorbanan yang dilakukan sudah seharusnya kita berikan apresiasi. Bukan sebaliknya, air susu dibalas air tuba. Perjuangan dan pengorbanan tidaklah pantas dibalas dengan caci maki dan ketidakpuasan. 

Sebab jika melulu demikian, yang terpatri dalam benak siswa adalah perasaan terkekang. Terkekang dengan ekspektasi dan tekanan yang diberikan oleh orang tua. Keadaan tersebut sungguh tidaklah baik untuk pertumbuhan anak, lambat laun hanya akan menumbuhkan mental yang tidak sehat.     

Besar harapan melalui outing class dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-80 semua siswa dapat mengekspresikan diri dengan leluasa. Otot kepala yang biasanya tegang selama di kelas semoga rileks dan stabil sehingga mental dan pikiran mereka terasa fresh kembali.  

Selain itu, semoga semua siswa senantiasa mau-mampu mengambil kesempatan untuk melakukan segala suatu kebaikan. Tentu semua itu dilakukan dalam ajang menggalakan fastabiul khoirot. 

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan: