Selasa, 28 April 2026
Peresmian Gedung Baru TKIT Baitul Qur'an
Senin, 14 November 2022
Siapakah Keluarga Allah?
Kajian keluarga sesi dua telah dihelat pada Sabtu (12/11/2022) kedua di bulan pahlawan. Kajian ini bertempatkan didua tempat, yakni teras TK dan musala Baitul Qur'an Tulungagung. Tepatnya, area teras TK dihuni oleh wali santri perempuan sedangkan area musala ditempati oleh para wali santri laki-laki.
Seperti biasanya, partisipan dalam acara yang dikhususkan untuk wali santri ini didominasi wali santri perempuan. Sementara wali santri laki-laki yang berpartisipasi dalam acara hanya segelintir orang. Kendati demikian tentu saja fakta itu harus tetap disyukuri, karena masih ada wali santri yang terketuk hatinya untuk mengambil bagian dan haknya yang harus dicari.
Alasan utamanya, bagaimanapun tujuan acara ini bukan soal ketimpangan jumlah gender partisipan melainkan perihal wawasan pengetahuan, menata haluan dan titian langkah bersama untuk menggapai mimpi gemilang di masa depan. Kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dalam kajian ini, ustadzah Robiah Al Adawiyah, Lc. selaku direktur Tahfidzul Qur'an Baitul Qur'an Tulungagung sekaligus pengasuh pondok pesantren Ar-Raudhah tampil sebagai penyaji materi. Adapun tajuk yang didedahkan pada kajian kali ini ialah Siapakah Keluarga Allah?
Disebutkan oleh beliau, bahwa salah satu keluarga Allah SWT di dunia adalah para penghafal Al-Qur'an. Yang familiar khalayak sebut dengan istilah hafidz, hafidzah atau hufadz. Sebagai pemantik, beliau mengangkat sirah kehidupan dan perjuangan sosok Imam Bukhari dalam menghafal Al-Qur'an dan hadits.
Disebutkan bahwa dalam proses menghafalkan Al-Qur'an dan hadits yang dilakukan oleh Imam Bukhari tidak lepas dari tradisi pendidikan dan lingkungan keluarga yang mendukung sewaktu kecil. Bahkan orang tuanya dengan sengaja menyetting ruang lingkup dalam kehidupan sehari-hari keluarganya yang mendukung untuk menjadikan putranya sebagai hufadz dan muhaditsin.
Dari sirah tersebut, kita mampu mengambil ibrah bahwa untuk mencetak generasi Qur'ani sekaligus para hufadz juga harus didukung oleh tradisi dan kebiasaan hidup yang sehat, halal dan baik. Kebiasaan sehat, halal dan baik itu berlaku untuk segala aspek yang bersangkutan dengan kebutuhan hidup kita. Sandang, pangan dan papan. Untuk lebih mudah, sebutkan saja proses itu dengan sikap wara' dan 'iffah.
Bersikap wara' dan 'iffah di era modernitas dan disrupsi ini memang memiliki tantangan tersendiri. Hiruk-pikuk kehidupan yang dihiasi oleh teknologi digital mutakhir dan globalisasi menjadikan upaya mencetak generasi para hufadz harus benar-benar ekstra dipantau secara intensif. Terlebih-lebih dalam hal food, fun dan fashion yang digandrungi oleh sang anak.
Dari sisi food, di zaman ini sangat banyak makanan yang tampak sehat, dan baik akan tetapi justru membawa madarat. Sebab aspek kehalalannya yang masih patut dipertanyakan. Atas dasar ini pula maka selaiknya orang tua mengontrol dan meninjau setiap makanan yang dikonsumsi oleh sang anak.
Poin penting yang harus diperhatikan juga, jangan sampai orang tua memberikan rezeki (makanan) yang bersumber dari uang yang subhat atau haram. Sumber rezeki ini juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemudahan belajar dan menyerap hal-hal baik yang dilakukan sang anak. Termasuk dalam proses menghafalkan Al-Qur'an.
Aspek fun juga penting untuk diperhatikan. Jangan sampai sang anak luput akan waktu yang telah dijadwalkan untuk mendidik dirinya. Fun di zaman sekarang juga harus benar-benar dibatasi dan ditelaah oleh orang tua sebab tak jarang jenis fun dalam arti bermain game yang tidak layak mainkan dan dipertontonkan sebab melanggar hukum sara. Bimbinglah anak untuk mencari fun dalam hal yang positif dan menopang kesehatan mental dan fisiknya.
Tidak ketinggalan, para orang tua juga harus sangat berhati-hati dalam hal memilih fashion sang anak. Utamanya perempuan. Derasnya arus hilirisasi industri fashion kian congkak dan tak sedikit yang melanggar aturan berpakaian layaknya seorang muslimah. Bahkan tidak sedikit, pakaian muslimah akan tetapi model pakaiannya menampakkan bagian aurat. Kekurangan bahan dan bertabrakan dengan kode etik pakaian muslimah.
Oleh sebab itu, melalui kajian keluarga ini sebenarnya lembaga sedang menata langkah bersama dalam membentuk keluarga Qur'ani yang ideal. Proses penyaman visi, misi dan cita-cita serta persepsi di antara para wali santri dan lembaga penting dilakukan sebagai ajang saling memotivasi dalam membangun lingkungan yang mendukung potensi para hufadz.[] (Roni Ramlan)
Jangan lupa follow akun media sosial Baitul Qur'an yang lain:
Ig: lpitbaitulquran
Senin, 03 Oktober 2022
LPIT Baitul Qur'an Launching Kajian Keluarga
(Foto: Ustadz Marzan dan Ustadz Ali sedang membuka aca kajian keluarga)
Selain menghelat pelatihan penyeragaman dan standarisasi dalam penerapan Tahsin dan Tahfidz yang dikhususkan untuk dewan asatidz SDIT Baitul Qur'an, Sabtu (01/10/2022) LPIT Baitul Qur'an juga melaunching kajian keluarga yang bertempat di musala Baitul Qur'an.
Kajian ini dibentuk sebagai wadah interaktif, bimbingan, pembinaan dan kajian ta'lim wali santri Baitul Qur'an. Dengan demikian, agenda kajian keluarga ini secara khusus ditujukan untuk meng-upgrade wawasan dan ilmu pengetahuan serta sebagai upaya penyatuan pandangan para wali santri dalam membangun keluarga bahagia bersama Al-Qur'an.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Barang siapa yang ingin tinggal di taman-taman surga di dunia, maka hendaklah dia menempatkan dirinya di majelis ilmu, karena majelis ilmu itu adalah taman surga", (Al Walibush Sayyib, hal. 146).
Kajian ini penting dilakukan, mengingat untuk melahirkan generasi Qur'ani yang berkualitas, berakhlakul karimah dan berintelektualitas tidak lepas dari kerja sama tiga komponen utama, yaitu support dari orang tua, dibimbing oleh asatidz yang berkompetensi dan menggunakan metode yang memiliki standarisasi.
Ketiga komponen itu saling bersinergi mengokohkan satu sama lain. Jika salah satu di antara tiga komponen itu rusak maka tidak akan maksimal dalam upaya mencapai tujuan yang dikehendaki bersama. Jikalau proses pembentukan generasi Qur'ani hanya dilengkapi oleh Marwah dua komponen utama maka hasilnya pun tidak akan maksimal, jauh dari kata sempurna.
Kajian sesi perdana ini dinarasumberi oleh Ustadz Marzan Safrudin, S. Pd. I., M. Pd. --selaku kepala madrasah SMP SMA Ar-Rahmah Hidayatullah Malang-- dengan mengusung tema "Menjadi Orangtua Idaman". Fokus dari kajian sesi perdana ini adalah mengajak para wali santri supaya mampu menjadi sosok tauladan sekaligus alasan (motivasi) para santri untuk semangat dalam mempelajari dan menghafal Al-Qur'an.
Memilih sosok idola yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Islam menjadi kunci utamanya. Sebab tidak menutup kemungkinan, seorang anak akan tumbuh-kembang meniru siapa sosok idola yang diidam-idamkan. Sebagai solusinya maka sosok yang paling dekat dengan sang anak memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan, membimbing dan mendukung sang anak menjadi generasi Qur'ani yang berkualitas dan bermutu.
Misalnya kita bisa meneladani kapabilitas para sahabat, tabi'in dan ulama-ulama Islam yang memutuskan diri menjadi seorang hufadz namun tetap mumpuni secara intelektualitas keilmuan Islam lainnya. Baik itu ilmu kedokteran, sains, matematika, politik, hukum, sosiologi, ushul fiqih, sejarah, dan lain sebagainya.
Ustman bin Affan R. A. berkata: Bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya ", (H. R. Bukhori).
Syukur alhamdulillah, agenda kajian keluarga perdana ini terlaksana dengan baik dan lancar. Kelancaran kajian keluarga perdana ini tidak lain berkat kerja sama di antara tiga pihak: panitia pelaksana, narasumber dan partisipasi wali santri yang terhitung jumlah kehadirannya mencapai 50%.
(Foto: Wali santri yang berpartisipasi dalam kajian keluarga)
Untuk selanjutnya, insyaallah kajian keluarga ini akan secara rutin dilakukan satu bulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda. Harapan ke depannya, semoga seluruh wali santri dapat berpartisipasi dalam agenda kajian keluarga sesi selanjutnya. Amin. (Roni Ramlan)
Jangan lupa untuk follow akun media sosial Baitul Qur'an yang lain:
FB: https: Lpit BaitulQur'an
Ig: https: lpitbaitulquran




.jpeg)




