Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2026

Orang tua Pintar di Balik Layar

 

Dokpri flyer Halal Bi halal 1447 H

Tulungagung-Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an yang menaungi TKIT dan SDIT Baitul Qur'an sukses mengadakan acara Halal Bi Halal dan Parenting. Sabtu pekan kedua di bulan April, tepatnya 11 April 2026 menjadi saksi bisu hari bersejarah. Acara tersebut dihadiri langsung oleh deretan pengurus yayasan, dewan guru, komite dan wali santri.

Dua acara dalam satu paket agenda tersebut dihelat di aula utama SDIT Baitul Qur'an. Momentum itu kian hidup dengan menghadirkan Ustadz Khasi'in, M. Pd. selaku penyuluh agama KUA Kedungwaru sebagai narasumber parenting. Ada pun tajuk yang didedah dalam kesempatan kali ini yakni Orang tua Pintar di Balik Layar.

Sebelum menginjak kajian parenting, Dr. Nuryani, M. Pd. tampil memberikan sambutan dan ucapan halal bi halal mewakili yayasan dan segenap dewan guru. Perihal halal menghalalkan perkara kekhilafan, kesalahan dan dosa yang telah terjadi selama berinteraksi di lingkungan sekolah Baitul Qur'an sangatlah penting. Sangatlah penting karena menyangkut kemaslahatan bersama. 

Jika semua elemen sumber daya lembaga dan pemberi amanah telah saling rida dan mengikhlaskan proses kelangsungan pembelajaran pun kian nyaman. Nyaman berada di sekolah dan berinteraksi dalam transaksi ilmu pengetahuan, amal dan tindak tanduk kebajikan. Keadaan yang jauh dari tekanan dan merasa bersalah ini menjadikan guru mengajar dengan penuh riang dan penuh keikhlasan.

Menginjak acara inti, pemateri mengajak audens untuk berpikir mendalam sejenak tentang akar masalah mengapa pentingnya kita memilih sekolah islam di era digital yang kian carut-marut. Bersikap bebal dan masa bodoh dalam memanfaatkan kecanggihan digital adalah kesalahan besar. Oleh karena itu kita penting mengenal konsep pendidikan islam, fase pendidikan sesuai perkembangan anak, lingkungan dan tantangan zaman. 

Konsep pendidikan islam pada dasarnya menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal; dunia dan akhirat; teori dan praktek kehidupan. Supaya kita mampu melakukan itu semua dalam prakteknya kita harus berpijak pada 3 pondasi utama: tauhid dan iman dicerminkan melalui doa, dzikir dan pengamatan alam semester sejak dini, uswah hasanah diproyeksikan melalui sikap anak sebagai peniru ulung orang tua dalam berprilaku dan beribadah, sedangkan yang terakhir pendidikan akhlak dan adab sebelum ilmu pengetahuan. 

Penegakan 3 pondasi tersebut tentu tidak sekaligus melainkan disesuaikan dengan tahapan pendidikan usia anak. Treatmen anak berusia dini, anak-anak, remaja dan dewasa dilakukan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya jika pada usia dini 0-7 tahun pola pendekatan pendidikan sebaiknya penuh kasih sayang, mengenalkan dasar agama dan pembiasaan baik sedangkan pada usia remaja-dewasa pendekatan dialogis, musyawarah dan persahabatan harus dikedapankan. 

Kendari begitu keluarga menjadi kunci dalam keberhasilan penerapan proses pendidikan sesuai tahapan tersebut. Mengapa demikian? Sebab semuanya bermula dari rumah. Waktu keberadaan anak lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di sekolah. Peran kedua orang tua yang utama sedangkan guru hanya pemegang amanah. Hanya anak yang dibesarkan dalam didikan keluarga menerapkan 3 pondasi yang mampu meniti jalan keseimbangan dan menundukkan tantangan zaman. 

Zaman dari waktu ke waktu terus berubah, tak terkecuali zaman teknologi digital yang kian mutakhir ini. Kian mutakhir berarti sama dengan kian berbeda pula cara dan pendekatan dalam hal mendidik anak. Terlebih kita tahu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, FOMO, cyberbullying, termakan hoaks, kecanduan dan penurunan produktivitas adalah dampak negatif yang benar-benar harus kita hadapi sekarang. 

Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Mengatur privasi ketat, membatasi penggunaan gadget, detoks medsos, memfilter konten, mengontrol aplikasi, mengontrol pertemanan di medsos, menyeimbangkan pendidikan anak, dan orang tua tidak memberi contoh buruk. 

Ada pun cara melakukan detoks medsos yakni dengan menghapus aplikasi media sosial yang toxic, menonaktifkan akun sementara waktu, batasi waktu penggunaan, unfollow/mute akun tertentu, mencari hobi yang berdampak positif dan mengedepankan murajaah hafalan yang sudah ada. 

Setelah kajian parenting selesai, seluruh tamu undangan bermusyafahah. Dilanjutkan dengan ramah-tamah yang terletak di teras ruangan TKIT Baitul Qur'an lawas. Semua tamu undangan melepas dahaga dengan menu yang telah dissediakan. 

Berikut beberapa dokumentasi acara halal bihalal dan parenting:





 

Minggu, 27 April 2025

Orangtua Andal di Era Digital

 

Dokrpi: Flyer kegiatan Halal Bihalal dan Parenting

Perkembangan teknologi kian hari kian mutakhir. Transformasi ini melahirkan gaya hidup baru yang  mengubah arus utama peradaban manusia tak terkecuali tradisi dan budaya yang mengakar rumput di dunia pendidikan. Salah satu dampak positif yang telah kita rasakan adalah manakala Covid-19 melanda, teknologi digital telah benar-benar menunjukkan tajinya dengan konsep pembelajaran jarak jauh via daring. 

Pembelajaran jarak jauh via daring mengajarkan kita bahwa belajar itu tidak terbatas ruang dan jarak. Dimana pun kita berpijak di sanalah dahaga keingintahuan itu harus dicukupi. Informasi terbaru dan materi pelajaran dapat diakses seiring persebaran jaringan internet yang mudah dijangkau. 

Ya, era digital memudahkan kita mengakses segala bentuk informasi  dengan cepat menggunakan teknologi digital. Teknologi digital (gadget) zaman sekarang bervariatif: gawai, tablet dan laptop. Kendati begitu gawai yang populer kita sebut smart phone adalah benda yang sangat lekat dengan keseharian hidup kita. 

Saking lekatnya, tampak akan sangat musykil bagi kita menemukan anak yang asing dan tidak mengenal dengan gawai. Mengapa demikian? Sebab ada istilah yang menyebutkan: "Anak dilahirkan dari rahim manusia, namun diasuh dan dibesarkan oleh media sosial (teknologi digital)." 

Dokpri: Dr. Nuryani sedang memberikan sambutan

Tidak percaya? Mari renungkan bersama gambaran rutinitas keluarga atau pun tetangga sekitar kita. Zaman sekarang, jika seorang bayi rewel maka yang dilakukan orangtua (dewasa) bukan berupaya keras membujuknya untuk tenang, namun malah disodorkan tontonan di kanal youtube. Ketika seorang anak kesulitan mengerjakan materi tertentu saat belajar bukan dibimbing langsung namun disuruh bertanya pada google. Saat orangtua sibuk bekerja, mayoritas anak cukup ditenangkan dengan sebuah gawai. 

Mirisnya lagi, bahkan saat keluarga besar berkumpul, masing-masing anggota keluarga malah asyik bermain gawai pribadi. Jika pun ada anggota keluarga yang tidak mempunyai gawai maka dicap aneh, katro, kurang update (kudet), dan tidak normal. Tak jarak khalayak umum (termasuk kita) merasa iba manakala mengetahui ada anak yang tidak memiliki gawai.  

Pertanyaan mendasarnya, apakah paradigama dan sikap lekat (bahkan, maaf ketergantungan) kita terhadap teknologi digital itu sudah benar? Apakah era digital itu melulu membawa kita pada perdaban yang positif? Atau justru di lain pihak era digital yang digandrungi tersebut lambat laun menjerumuskan kita? Orang-orang yang berkesadaran terhadap arus zaman tentu akan berpikir keras dan refleksi diri dengan apa yang sedang terjadi. 

Al-Qur'an menyebutkan, nasib suatu kaum sangat ditentukan dengan ikhtiar dan keputusannya sendiri. Dalam konteks ini, tentu manusia yang hidup di era digital dituntut untuk mawas diri, melakukan refleksi dan proyeksi diri di zaman ia sedang berdiri. Berkaitan dengan dunia pendidikan, selaras dengan perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya. 

Dalam rangka menghadapi tantangan zaman era digital tersebut SDIT dan TKIT Baitul Qur'an (19/4/2025) mengadakan Halal Bihalal dan Parenting dengan tajuk: Orangtua Andal di Era Digital. Pada kegiatan ini Dr. Naharin Suroyya, M. Pd., CH, Cht. (Konselor, Terapis dan Dosen UIN Sayyid Ali Ramhatullah Tulungagung) tampil sebagai pembicara.

Dokpri: Dr. Naharin sedang memaparkan materi

Beliau memaparkan, kebiasaan orangtua saat ini adalah membiarkan anak diasuh oleh teknologi digital. Tidak sekadar membiarkan namun mengarahkan dan memfasilitasinya tanpa kontrol. Kebiasaan tersebut lambat laun tentu akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap orientasi tumbuh kembang sang anak. 

Satu sisi kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak positif yang diberikan era digital. Anak pintar memilih informasi, cepat mengambil keputusan, berpikir kreatif dan kebiasaan baik serta terasahnya potensi diri adalah beberapa di antara manfaat yang dapat dituai dari pemanfaatan gawai. Yang demikian terjadi manakala anak menggunakan gawai secara baik dan benar.

Meski begitu, setiap waktu sang anak juga terus dibayang-bayangi dampak negatif dari penggunaan gawai. Hal ini terjadi manakala anak menggunakan gawai dalam rentang waktu yang lama, tanpa kontrol orangtua (dewasa) sampai dengan berselancar di aplikasi yang sia-sia. Kesehatan mata terganggu, kemampuan psikomotorik menurun, telat bicara, perkembangan otak terganggu sampai dengan kondisi mental rentan merupakan dampak negatif yang dapat melanda diri sang anak.

Dampak negatifnya tidak hanya itu, dampak lanjutan lain di antaranya: gangguan perilaku, kecanduan pornografi, cyberbullying, gangguan tidur, obesitas, minim interaksi sosial (anti sosial), kecanduan game online, judol hinggan pinjol. Dampak negatif itu kian kompleks seiring keterkaitan berbagai aspek sosial yang telah digitalisasi. 

Lantas, bagaimana cara orangtua mendidik anak di era digital yang baik dan benar? Hemat Bu Dr. Naharin, setidaknya ada 6 tahapan penting yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anak di era digital. Keenam tahapan tersebut yakni dimulai dengan mengenalkan teknologi digital kepada anak, menjalin komunikasi dua arah antara keinginan anak dan orangtua, mengajak anak untuk disiplin dalam menggunakan gawai (perlu dibuat komitmen bersama), sediakan waktu khusus/utama untuk mengajak anak bermain tanpa gawai, monitor aktivitas anak saat menggunakan gawai, sampai dengan manfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan minat dan bakat anak. 

Dalam prakteknya, tahapan pendidikan penggunaan teknologi digital ini juga harus disesuaikan dengan tumbuh kembang anak. Ada fase usia yang perlu diperhatikan. Anak usia 1 sampai 3 tahun orangtua mendampingi anak belajar mengenal perbedaan dan membedakan hal baik dan buruk; mengenal fakta dan fantasi. Hal ini dilakukan dengan akses menambah kosa kata, angka dan lagu pada anak. 

Ketika anak menginjak usia PAUD dan TK, usia 4 sampai 6 tahun, anak dibimbing meningkatkan keterampilan, mengenal huruf, angka dan pengetahuan dasar. Fokus utama yang diasah masih sekitar tentang membedakan baik dan buruk; mengenal fakta dan yang fantasi. Sedangkan jika anak sudah menginjak usia sekolah dasar, 7-12 tahun, gunakanlah teknologi untuk mengenal dan memahami anggota tubuh serta meningkatkan daya imajinasi anak. Selebihnya, anak diarahkan untuk tidak mendownload aplikasi yang tidak penting dan bukan usianya. 

Tak kalah penting, hal yang perlu menjadi perhatian adalah pengawasan dan kontrol saat anak menggunakan teknologi digital. Pengawasan dan kontrol ini dimulai dengan menerapkan jadwal penggunaan perangkat digital saat di rumah, orangtua harus mengerti media sosial dan situs apa saja yang diakses anak, orangtua harus tahu aplikasi edukasi yang berdampak positif bagi anak, dampingi anak saat bermain media digital, memonitor aktivitas dunia maya dan situs-situs yang tidak layak bagi anak, gunakan perangkat yang sama saat dipinjamkan kepada anak sampai dengan mengajak anak untuk bermain offline/tradisional untuk meningkatkan hubungan emosial dan interaksi dengan anak. 

Secara pribadi, Dr. Naharin juga berbagi tips menjadi orangtua andal di era digital versi keluarga kecilnya. Mendidik anak di era digital itu dimulai dengan adanya kesadaran orangtua terhadap kewajiban, hak dan tanggungjawab orangtua kepada anak, renungkan kembali firman Allah SWT dan ancaman, orangtua harus belajar menjadi seorang sahabat bagi anak, memberikan keteladanan yang baik, latihan untuk disiplin dalam hal positif, membangun hubungan dan komunikasi yang baik, hindari marah-marah, luangkan waktu untuk bermain dengan anak secara konsisten, pastikan memberi makan/mencukupi kebutuhan anak dengan harta yang halal sampai dengan panjatkan doa terbaik untuk kebaikan sang anak. 

Dari paparan tersebut setidaknya kita mampu mengambil satu simpulan bahwa mendidik anak di era digital itu harus didampingi, diawasi dan dikontrol dengan baik oleh orangtua. Orangtua harus mampu memainkan peran; terkadang menjadi sahabat, terkadang menjadi guru, terkadang menjadi orangtua yang tegas. Membangun hubungan dan komunikasi dua arah yang baik adalah kunci utama. Intensitas anda berada di sisi sang anak akan menentukan orientsi masa depan anak.[] (Roni)

==============================================================
Informasi penting!

TKIT Baitul Qur'an dan SDIT Baitul Qur'an telah membuka program penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026. Bagi anda yang mencari sekolah bermutu, mencetak generasi Qur'ani/ hufadz dan berprestasi mari bergabung menjadi keluarga besar Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an. Informasi lebih lanjut silakan hubungi kontak di bawah ini:

TKIT Baitul Qur'an: 085 649 333 825 (WA Ustazah Widya)
SDIT Baitul Qur'an: 085 646 674 732 (WA Ustazah Yuli)
Buruan hubungi kontak sebelum kehabisan kuota!