SDIT Baitul Qur'an (19/7/2025) menghelat peringatan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80 dengan outing class. Outing class dilaksanakan di Office Taman Ngrowo, Sembung. Fokus utama kegiatan ini yakni menularkan semangat perjuangan dalam momentum kemerdekaan.
Momentum ini dimeriahkan dengan berbagai lomba. Mulai dari lomba individu dan kelompok. Perhelatan lomba individu meliputi balap karung, makan kerupuk, pukul jan bedak, dan paku botol. Sedangkan estafet kelereng, tarik tambang, estafet karet dan angkat botol karet adalah kategori lomba kelompok.
Sumringah terpancar jelas dari wajah para siswa. Ekspresi mereka seakan-seakan sedang menegaskan satu pernyataan yang telah lama terpendam: "Momentun seperti inilah yang kami tunggu. Coba saja setiap hari konsep belajar di sekolah seperti ini. Kami senang, guru suka. Kesenangan itu kian bertambah manakala kegiatan dipungkas dengan pembagian hadiah yang sama rata."
Kalimat itu hanya terbenam kuat dalam benak mereka. Anak-anak memang memiliki dunianya sendiri yang mungkin bersebrangan dengan orang dewasa. Akan tetapi fantasi dan kesenangannya tidak mesti harus dituruti setiap waktu. Harus ada tarik ulur dan pembatasan untuk menjaga keseimbangan daya juang mereka.
Jikalau semua kesenangan, harapan dan keinginan semua anak dikabulkan dengan mudah takutnya hanya akan membangun persepsi bahwa segala sesuatu berada dalam genggamannya. Tentu hal itu sangat berbahaya. Sebab dapat menempatkan anak dalam kesombongan, malas berjuang dan menganggap sepele apa yang ada di sekitarnya.
Melalui peringatan HUT RI ke-80 dengan beragam lomba inilah kami berusaha menanamkan sikap jihad (perjuangan), fastabiqul khairot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan ukhuwah islamiyah (persatuan-kesatuan di antara siswa dan lingkungan). Perlombaan ini menyiratkan bahwa dalam setiap momentum semua siswa memiliki kesempatan yang sama. Sisanya hanya tergantung kemauan masing-masing siswa, mau mengambil kesempatan atau tidak.
Opsi berani mengambil kesempatan tentu lebih baik daripada tidak pernah mencoba. Anak-anak memang harus belajar mendobrak rasa minder, takut dan malu. Semuanya itu akan runtuh jikalau anak diberi kesempatan dan ruang yang memadai untuk mengekspresikan diri selama itu dalam hal kebaikan.
Kemerdekaan dalam diri siswa hanya akan hadir manakala mereka mau berproses dan bertindak. Proses dan tindakan yang dilalui ini akan berdampak pada hasil yang dituai. Proses yang baik tentu akan melahirkan hasil yang baik. Karena alasan inilah pentingnya kita mempertimbangkan proses.
Kesibukan kita yang hanya fokus pada penilaian hasil akhir adalah salah satu bukti sikap keegoisan kita. Sikap purbakala yang sudah seharusnya diubah sejak saat ini juga. Sikap arogansi yang menegaskan bahwa kita tidak pernah ingin tahu bagaimana perjuangan dalam meniti proses itu ditegakan.
Proses jatuh bangun, meniti jalan terjal dan sederet pengorbanan yang dilakukan sudah seharusnya kita berikan apresiasi. Bukan sebaliknya, air susu dibalas air tuba. Perjuangan dan pengorbanan tidaklah pantas dibalas dengan caci maki dan ketidakpuasan.
Sebab jika melulu demikian, yang terpatri dalam benak siswa adalah perasaan terkekang. Terkekang dengan ekspektasi dan tekanan yang diberikan oleh orang tua. Keadaan tersebut sungguh tidaklah baik untuk pertumbuhan anak, lambat laun hanya akan menumbuhkan mental yang tidak sehat.
Besar harapan melalui outing class dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-80 semua siswa dapat mengekspresikan diri dengan leluasa. Otot kepala yang biasanya tegang selama di kelas semoga rileks dan stabil sehingga mental dan pikiran mereka terasa fresh kembali.
Selain itu, semoga semua siswa senantiasa mau-mampu mengambil kesempatan untuk melakukan segala suatu kebaikan. Tentu semua itu dilakukan dalam ajang menggalakan fastabiul khoirot.
Berikut beberapa dokumentasi kegiatan:




.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar