Tampilkan postingan dengan label kemah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemah. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2026

Kenangan Indah Perjusa di Bumi Perkemahan Kahayangan

Dokpri Banner Perjusa 2026

Tulungagung-SDIT Baitul Qur'an sukses menggelar perkemahan Jum'at Sabtu (Perjusa) 2026 di bumi perkemahan Kahayangan, Mulyosari, Pagerwojo. Perjalanan menuju bumi perkemahan Kahyangan berjalan lancar, seluruh siswa-siswi dan dewan guru diantar-jemput langsung menggunakan bis sekolah. Dua bis sekolah, dua sopir dan dua kernet siap siaga mengawal keselamatan sepanjang perjalanan menuju lokasi. 

Berkat kinerja sopir dan kernet yang menjunjung tinngi sikap profesionalitas, perjalanan yang berkelok dan naik turun terlewati dengan mudah. Alhamdulillah, tidak ada drama yang berarti. Seluruh penumpang duduk santai menikmati suguhan keindahan alam di sepanjang perjalanan. Masyaallah, tabarakallah. 

Sesampainya di lokasi kegiatan cuaca sangat bersahabat. Langit biru terhampar jelas di atas kepala, jauh membentang sepanjang mata memandang. Terik mentari mulai membakar semangat. 

Mendirikan tenda adalah agenda pertama yang kami lakukan. Terdapat lima tenda yang kami dirikan, dengan dirincian dua tenda regu putra, dua tenda regu putri dan satu tenda panitia. Semua tenda ditegakkan dengan saling bahu-membahu. Kerjasama tim dan kesolidan adalah kunci penting dalam urusan mendirikan tenda. Bendera tunas kelapa, merah putih dan wosm tertengger jelas di depan masing-masing tenda. 
Dokpri Penyampaikan Amanat

Apel pembukaan menjadi agenda selanjutnya. Dalam amanatnya, kakak Pembina Pramuka menegaskan bahwa seorang anak pramuka harus selalu siap siaga. Di manapun ia berada harus hidup adaptatif seperti filosofi pohon kelapa, sepanjang hidupnya fokus memberi kebermanfaatan untuk sekitar. 

Tak hanya itu bahkan setiap bagian dari pohon kelapa memiliki manfaat yang luar biasa untuk kelangsungan hidup khalayak manusia. Glugu dijadikan sebagai bahan bangunan. Daun muda dibuat janur. Daun tua dijadikan atap rumbia rumah tradisional dan sapu lidi. Air buah kelapa kaya elektrolit dan mengandung amgnesium, kalium, dan natrium yang tinggi.  

Daging buah kelapa muda dapat dijadikan berbagai produk makanan dan minuman. Daging buah kelapa tua dapat diolah menjadi santan, minyak, produk kecantikan dan pengobatan tradisional. Hal yang sama juga berlaku untuk tempurung kelapa yang kerap diolah menjadi bahan kerajinan dan arang (karbon aktif) yang digunakan dalam industri pengolahan air dan kosmetik. 

Sabut kelapa yang memiliki serat kuat sering dijadikan kebutuhan rumah tangga seperti tali, keset dan sikat. Bisa pula dioleh menjadi cocomesh yang membantu proyek penghijauan dan konservasi tanah. 

Bunga kelapa setelah diproses dapat menghasilkan nira sebagai bahan dasar pembuatan gula merah. Selain itu sari kelapa juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan dasar minuman tradisional yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh dan meningkatkan stamina. 

Bagian yang kerap kali dilupakan adalah akar. Akar kelapa dapat dijadikan sebagai bahan pewarna alami kain dan pengobatan tradisional. Akar kelapa setelah diolah dapat mengatasi diare, disentri dan infeksi saluran kemih. 

Kebermanfaatan yang berlimpah itu seperti halnya hadist yang diriwayatkan Ahmad, Ath Thabrani dan Daruqutni: 
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."

Selepas apel pembukaan, seluruh peserta kemah shaleh diarahkan untuk bersiap-siap menunaikan salat Jumat. Seragam pramuka berganti pakaian muslim. Sejauh 2 KM kami berjalan menuju masjid terdekat. Adapun peserta shalihah menunaikan salat Dhuhur berjamaah dengan ustadzah.

Suguhan makan siang selepas menunaikan salat jumat sangatlah nikmat. Terlebih makan siang itu dilakukan di bawah terik mentari. Sebagian orang berteduh di dalam tenda, di bawah pohon dan di emper kafe. Semua dibuat sibuk menikmati makan siang dengan khusyuk. 

Perut sudah terisi saatnya semua peserta untuk berkompetisi. Kompetisi tarik tambang, cerdas cermat dan permainan kekompakkan regu adalah acara selanjutnya. Masing-masing regu mengirimkan perwakilan untuk setiap lomba. Ketiga lomba dihelat di tempat, diwakili dan dibimbing oleh panitia yang berbdea. Akumulasi atas kemengan dalam berkompetisi dijadikan sebagai jembatan untuk meraih juara. 

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang terkendala hujan, kabar bahagianya, Perjusa tahun ini benar-benar mampu mengadakan api unggun. Persis beberapa saat sebelum adzan Magrib berkumandang panitia menyiapkan semua kebutuhan api unggun. Pembaca Dasa Dharma, kayu untuk api unggun, menata susunan acara giat digalakan. 

Makan malam disantap bersama selepas berjamaah salat Magrib. Peserta bersantai sejenak sembari menunggu waktu salat Isya tiba. Dari kejauhan tampak, satu dua orang tua siswa datang berkunjung dan memeluk sang putra-putri dengan penuh kerinduan.

Momentum yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua peserta berbaris sesuai tugas dan peran. MC memandu tahapan penyumatan api unggun. Petugas pembaca Dasa Dharma berlari kecil dan berhenti melingkari kayu bakar. Satu persatu poin Dasa Dharma dipekikan, takbir sebanyak tiga kali digemakan, obor penyumatan api unggun dilakukan oleh Kakak Pembina Pramuka. 

Sorak-sorai seluruh peserta menghiasi lapangan utama. Himne kepramukaan diputar beriringan kobar api yang menyala. Persis di arah utara api unggun yel-yel setiap regu diuji untuk dinilai. Irama, penjiwaan, kekompakan dan semangat menjadi aspek penilaian. 

Api unggun menyisakan abu, film hikayat Buya Hamka diputar. Semua peserta khidmat menatap layar. Dua kesibukan membalut diri: Kedua mata menyaksikan, sementara mulut sibuk memamah jajan. Segelintir di antara mereka izin untuk memasak mie. Malam itu dingin memang menusuk diri hingga membuat rasa lapar berlipat ganda. 

Jam 22.00-03.30 WIB semua meraih mimpi di pulau kapuk. Semua sepakat menyambut pagi dengan salat Subuh berjamaah, muraja'ah, olahraga dan bersih-bersih serta membersihakan diri. Lantas perut kosong itu diisi dengan sarapan sebelum menginjak kegiatan selanjutnya. 

Hiking, renang dan lomba sandi adalah tiga agenda pamungkas dalam perjusa. Hiking berlangsung selama 1 jam penuh. Rute hiking tidaklah jauh, sekitar 3 KM, itu pun hanya menyusuri jalan paping dan jalan raya. Tidak seperti perjusa tahun lalu yang benar-benar belusukan kebun, sawah, perbukitan atau pun menyusuri jalan setapak pinggir kali. 

Dalam perkara hiking bukan masalah cepat sampai namun tentang kekompakan, kesalingan dan kepedulian selama dalam perjalanan. Utamanya ketika memasuki pemukiman masyarakat maka sikap dan tidakan humanis yang beradab dijunjung tinggi. Adaptatif di lingkungan baru adalah tajuk besar yang sedang dibumikan.

Selepas membakar kalori seluruh peserta dipersilakan untuk menikmati kesegaran dengan berenang bersama. Cukup merogoh kocek sebesar Rp. 10.000/orang mereka bisa berendam riang di kolam. Tawa kebahagian dan rasa lelah tertanggal seketika. 

Kisaran sejam mereka menghabiskan waktu berenang di kolam akhirnya membilas dan mengeringkan diri. Sesaat kemudian barulah lomba sandi-sandi dimulai. Itu pun hanya melibatkan segelintir peserta sebagai perwakilan setiap regu. 

Sungguh tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Adzan berkumandang menunjukkan waktunya salat Dhuhur tiba. Salat Dhuhur didirikan dengan berjamaah. 

Momen berpamitan dengan bumi perkemahan Kahayangan akhirnya tiba. Seluruh peserta membongkar masing-masing tenda. Perlengkapan masing-masing diri kembali dikemas dan diamankan sedemikian rupa. Sebagian besar perlengkapan dimuat ke dalam pick up, hanya tas gendong dan perintilan perlengkapan pribadi saja yang dibawa mandiri ke dalam bis sekolah. 

Akhirnya acara dipungkas dengan apel penutupan, pengumuman juara dan pembagian hadiah. Tak ketinggalan detik-detik momentum terbaik itu dijepret beberapa foto untuk didokumentasikan. Tentu bukan sekadar untuk dokumentasi lembaga namun sebagai bukti nyata dari jejak seluruh peserta tidak pernah berhenti berproses menuju versi yang terbaik dari waktu ke waktu dalam tholabul ilmi. Tabik!

Berikut beberapa dokumentasi perjusa 2026:














Senin, 06 Januari 2025

Perjusa yang Penuh Kejutan

 

Dokpri: Siswa-siswi mengikuti lomba LCC saat Perjusa

 
Salah satu kegiatan sekolah yang dinantikan dan dielu-elukan oleh para siswa adalah Perjusa. Perjusa--merupakan akronim dari perkemahan Jumat Sabtu--sendiri telah dihelat di penghujung semester gasal. Tepatnya dihelat 20-21 Desember 2024. Perjusa adalah salah satu program tahunan di SDIT Baitul Qur'an. 

Dua hari satu malam siswa-siswi kelas atas: 4, 5 dan 6 berkemah di bumi perkemahan Kahayangan Pagerwojo. Lokasinya tidak jauh dari destinasi wisata Bendungan Pagerwojo. Tujuh tenda didirikan di lapangan yang tersedia. Jumlah itu terdiri dari 3 tenda regu siswa, 3 tenda regu siswi dan 1 tenda panitia. Ada pula satu tenda dapur umum yang siap siaga 24 jam non stop.

Menariknya pendirian semua tenda tersebut melibatkan partisipatif masing-masing regu yang dipandu oleh salah seorang pendamping. Dalam hal ini semua siswa diberi pengetahuan sekaligus dipandu bagaimana cara mendirikan tenda yang baik. Baik dalam artian kokoh, tegak-simetris dan efektif tanpa memboros lahan serta persedian tambang dan pasak. 

Tidak hanya itu, hal menarik lain dalam perhelatan kegiatan perjusa tahun ajaran 2024/2025 ini adalah proses antar jemput siswa ke lokasi perkemahan yang terbilang cukup berkesan. Jika dua tahun sebelumnya siswa diantar ke lokasi kemah secara mandiri oleh orangtua yang bersangkutan maka khusus di tahun ini siswa-siswi bisa merasakan fasilitas bus sekolah Kabupaten Tulungagung. 

Sekitar pukul 08.00 WIB dua bus sekolah mulai mengantarkan kami dari sekolah bertolak ke bumi perkemahan Kahayangan Pagerwojo.  Pendirian tenda adalah kegiatan yang pertama kali kami lakukan. Selepas itu menunaikan salat Jumat di masjid terdekat, makan siang dan pembukaan perkemahan secara seremonial. 

Kian sore langit tampak kian mendung namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk meneruskan agenda kegiatan sesuai rundown. Sore yang mulai menggelap itu disemarakan dengan tiga jenis perlombaan. Mulai dari lomba yel-yel, outbound, cerdas cermat hingga archery (memanah). Konsep yang diusung dalam perlombaan, masing-masing regu mengirimkan 2 orang perwakilan. Kecepatan, ketepatan dan meraih skor terbanyak menjadi kategori penilaian.

Langit gelap baru benar-benar berlinang air mata sembari sesenggukan manakala kami usai menghelat salat asar berjamaah di tengah lapangan. Tikar-tikar kuyup karena tak terselamatkan adalah saksi bisu buyarnya kami di jantung kegiatan. Huru-hara sungguh tak terelakan. Kami berusaha menyangking apa pun yang bisa diselamatkan. Kendati begitu tetap saja banyak barang yang tak mampu kami selamatkan, kuyup. 

Tenda-tenda tak mampu kami tempati saat malam datang. Banyak tikar yang menyatu dengan kedinginan. Momentum api unggun pun pupus. Hujan tak mau berhenti merengek hingga larut dan mata kami terpejam. Sebagai pengantar tidur kami sempat menonton bersama film Sang Kiai. Film yang menceritakan bagaimana perjuangan KH. Hasyim Asyari dalam melawan penjajahan Jepang hingga melahirkan resolusi jihad kalangan santri. 

Film berakhir diputar. Di malam dingin yang menusuk itu beberapa siswa kedua matanya sulit dikendalikan. Mereka berkelana memecah kesunyian. Mereka tenggelam dalam cerita syahdu kehidupan. Akibatnya mereka terpejam menjelang fajar tersingsing. Sementara yang lain sibuk memintal mimpi di pulau kapuk beralaskan tikar pinjaman. 

Subuh datang, azan berkumandang. Kami pun bergegas mengambil air wudhu untuk menegakkan salat subuh berjamaah. Sebuah surat juz 30 pun kami murojaah bersama. Selebihnya diisi dengan pengumuman mengenai agenda apa yang akan dihelat di hari terakhir berkemah. 

Tak lama dari itu senam pagi kami galakan. Tiga puluhan menit kami bersinergi membakar lemak jahat dan memeras keringat. Sementara itu beberapa ustadzah sibuk menanak nasi dan meracik menu untuk hidangan sarapan pagi. Beberapa agenda telah direncanakan. 

Keberuntungan masih memihak kami, alhamdulillah, pagi itu terang benderang kendati jejak hujan masih saja meninggalkan kenangan. Hiking dan lomba sandi adalah agenda utama kami. Beberapa panitia bertugas di lima pos. Di masing-masing pos, mental, ingatan dan kekompakan setiap regu diuji. Sedangkan saat lomba sandi, ketajaman ingatan banyak diandalkan. 

Sebagai pamungkas, setiap regu yang telah mengikuti lomba dipersilakan untuk berenang di kolam yang tersedia. Cukup merogoh kocek Rp. 10.000 masing-masing siswa bisa menikmati segarnya berendam di kolam renang. 

Belum saja kami usai merapikan-melipat tenda dan barang bawaan, langit mengucurkan derai air mata dengan deras. Huru-hara kembali terjadi. Semua barang berusaha kami himpun di bak pick up. Tas-tas diamankan di balai utama. Sembari diiringi hujan tim pawon sudah menyajikan hidangan penutup: nasi berlaukan telur ceplok balado. 

Alhamdulillah, tepat pukul 14.30 WIB bus sekolah datang menjemput di lokasi. Akhirnya kami pun kembali ke pangkuan baitii jannatii setelah beberapa saat menikmati perjalanan dan dijemput pulang oleh orangtua masing-masing. Kegiatan semester gasal telah usai. Liburan pun di depan mata.

Perhelatan Perjusa tahun ini benar-benar penuh kejutan. Turun hujan yang di luar prediksi dan begitu lama mengajarkan kami tentang bagaimana bertahan hidup di alam. Sikap adaptatif sangat diperlukan dalam mengelola kegiatan di ruang terbuka; alam. Inilah jiwa pramuka. Jiwa yang harus siap siaga dalam setiap keadaan. 
===================================================================
Informasi penting!

TKIT Baitul Qur'an dan SDIT Baitul Qur'an telah membuka program penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026. Bagi anda yang mencari sekolah bermutu, mencetak generasi Qur'ani/ hufadz dan berprestasi mari bergabung menjadi keluarga besar Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an. Informasi lebih lanjut silakan hubungi kontak di bawah ini:


TKIT Baitul Qur'an: 085 649 333 825 (WA Ustazah Widya)
SDIT Baitul Qur'an: 085 646 674 732 (WA Ustazah Yuli)
Buruan hubungi kontak sebelum kehabisan kuota!