Dokpri Mading Sekolah
SDIT Baitul Quran kembali berusaha menghidupkan tradisi baik. Tradisi baik tersebut yakni mengisi mading sekolah dengan ragam hasil karya siswa. Sebenarnya tidak hanya siswa, guru pun memiliki kesempatan berpartisipasi di dalamnya. Ragam karya mulai dari cerpen, puisi, pantun, komik hingga gambar bercerita sesuai tema.
Tema yang diusung pada bulan kemerdekaan ini adalah hikmah di balik kemerdekaan. Kemerdekaan merupakan momentum sakral yang kerap kali kita peringati setiap tahun. Peringatan yang menandakan bahwa kita sebagai warga Indonesia mengakui dan menerima akan sejarah bangsa Indonesia yang ada.
Jika boleh jujur, mading utama sekolah belakangan memang sempat vakum. Kurang lebih sekitar tiga tahun terakhir mading itu lengang. Ada kemungkinan hal ini dipicu karena sumber daya manusia sekolah terlalu fokus menghidupkan mading kelas masing-masing. Alhasil tidak sempat meluangkan waktu untuk menghidupkan mading utama sekolah.
Harus diakui dengan saksama, beberapa tahun terakhir memang ada program kerja semesteran untuk perlombaan mading dan kebersihan kelas. Kelas-kelas ditinjau dengan ketat-disiplin dan diberi penilaian. Hasilnya, para pemenang akan diumumkan setiap awal bulan. Tepatnya selepas upacara bendera selesai.
Sertifikat diberikan. Wajah sumringah tertengger jelas di kedua bibir para siswa. Jika kemenangan dalam kurun satu semester sudah sampai pada batas mamksimal maka kelas yang bersangkutan akan diberikan reward. Reward yang dapat dirasakan seluruh penghuni kelas tak terkecuali wali kelas di dalamnya.
Selain itu beberapa waktu sempat pula mading itu hanya diisi dua elemen utama, yakni buletin sekolah dan barcode absensi dewan guru. Pemandangan yang tentu saja tidak ramah untuk mata. Sebab, apa yang dipajang tidak sesuai konteks dari eksistensi mading sekolah itu sendiri.
Nasib mading utama sekolah dibahas tuntas dalam rapat tahunan awal pelajaran 2025/2026 tahun ini. Hasilnya, disepakati bahwa mading utama sekolah menjadi tanggung jawab semua kelas. Masing-masing kelas akan mengisi mading secara bergilir dan terjadwalkan dengan baik. Sebagai pelopor, kelas 6 tampil perdana.
Agustus menjadi bulan pembuka mading utama sekolah terisi. Secara tersirat, kelas 6 ternyata mengusung tema di luar konteks dengan tema Hobiku (My Hobbies). Kendati begitu apabila ditelisik lebih jauh, pada kenyataannya karya-karya seputar hobi para siswa tetap ada korelasi dengan semangat kemerdekaan.
Hal itu dapat ditinjau dari ragam olahraga dan permainan yang sering diperlombakan dalam semarak peringatan hari kemerdekaan. Lha, emang iya? Contohnya olahraga dan permainan apa? Sepak bola, voli, renang, memancing, layangan hingga memasak.
Tidak sedikit cabang olahraga, permainan dan kegiatan yang dideskripsikan para siswa menjadi andalan dalam momentum kemerdekaan. Sepak bola dan voli adalah olahraga yang gencar dipentaskan sekaligus digandrungi masyarakat dalam perhelatan Agustusan.
Tidak hanya olahraga, kreativitas masyarakat khususnya Tulungagung bahkan terus berkembang hingga ada budaya karnaval berjilid-jilid. Karnaval yang bertajuk detik-detik kemerdekaan, hasil bumi, daur ulang, baju adat hingga ragam profesi memadati jalan raya sesuai rute. Semua orang tumpah ruah ke jalan.
Semarak kemerdekaan terbaru yang sempat viral di berbagai platform media sosial adalah lomba pacu jalur. Perlombaan tradisional dayung perahu yang berasal dari Kuantan, Singingi, Provinsi Riau. Festival tahun 2025 menjadi medan magnet yang begitu besar. Yang demikian dibuktikan dengan dihadiri para pejabat penting, mulai dari Wakil Presiden, tiga Menteri dan Duta Besar.
Kembali ke topik. Semoga kebangkitan mading sekolah ini menjadi salah satu wadah terbaik untuk menyalurkan kreativitas para siswa. Sudah selaiknya para siswa mengekspresikan inspirasi, ide dan gagasannya dalam berbagai bentuk karya secara merdeka. Selebihnya terselip doa: Semoga potensi literasi diri para siswa terus menggeliat dan mengentas. Tabik!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar