Dokpri Banner Perjusa 2026
Tulungagung-SDIT Baitul Qur'an sukses menggelar perkemahan Jum'at Sabtu (Perjusa) 2026 di bumi perkemahan Kahayangan, Mulyosari, Pagerwojo. Perjalanan menuju bumi perkemahan Kahyangan berjalan lancar, seluruh siswa-siswi dan dewan guru diantar-jemput langsung menggunakan bis sekolah. Dua bis sekolah, dua sopir dan dua kernet siap siaga mengawal keselamatan sepanjang perjalanan menuju lokasi.
Berkat kinerja sopir dan kernet yang menjunjung tinngi sikap profesionalitas, perjalanan yang berkelok dan naik turun terlewati dengan mudah. Alhamdulillah, tidak ada drama yang berarti. Seluruh penumpang duduk santai menikmati suguhan keindahan alam di sepanjang perjalanan. Masyaallah, tabarakallah.
Sesampainya di lokasi kegiatan cuaca sangat bersahabat. Langit biru terhampar jelas di atas kepala, jauh membentang sepanjang mata memandang. Terik mentari mulai membakar semangat.
Mendirikan tenda adalah agenda pertama yang kami lakukan. Terdapat lima tenda yang kami dirikan, dengan dirincian dua tenda regu putra, dua tenda regu putri dan satu tenda panitia. Semua tenda ditegakkan dengan saling bahu-membahu. Kerjasama tim dan kesolidan adalah kunci penting dalam urusan mendirikan tenda. Bendera tunas kelapa, merah putih dan wosm tertengger jelas di depan masing-masing tenda.
Dokpri Penyampaikan Amanat
Apel pembukaan menjadi agenda selanjutnya. Dalam amanatnya, kakak Pembina Pramuka menegaskan bahwa seorang anak pramuka harus selalu siap siaga. Di manapun ia berada harus hidup adaptatif seperti filosofi pohon kelapa, sepanjang hidupnya fokus memberi kebermanfaatan untuk sekitar.
Tak hanya itu bahkan setiap bagian dari pohon kelapa memiliki manfaat yang luar biasa untuk kelangsungan hidup khalayak manusia. Glugu dijadikan sebagai bahan bangunan. Daun muda dibuat janur. Daun tua dijadikan atap rumbia rumah tradisional dan sapu lidi. Air buah kelapa kaya elektrolit dan mengandung amgnesium, kalium, dan natrium yang tinggi.
Daging buah kelapa muda dapat dijadikan berbagai produk makanan dan minuman. Daging buah kelapa tua dapat diolah menjadi santan, minyak, produk kecantikan dan pengobatan tradisional. Hal yang sama juga berlaku untuk tempurung kelapa yang kerap diolah menjadi bahan kerajinan dan arang (karbon aktif) yang digunakan dalam industri pengolahan air dan kosmetik.
Sabut kelapa yang memiliki serat kuat sering dijadikan kebutuhan rumah tangga seperti tali, keset dan sikat. Bisa pula dioleh menjadi cocomesh yang membantu proyek penghijauan dan konservasi tanah.
Bunga kelapa setelah diproses dapat menghasilkan nira sebagai bahan dasar pembuatan gula merah. Selain itu sari kelapa juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan dasar minuman tradisional yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh dan meningkatkan stamina.
Bagian yang kerap kali dilupakan adalah akar. Akar kelapa dapat dijadikan sebagai bahan pewarna alami kain dan pengobatan tradisional. Akar kelapa setelah diolah dapat mengatasi diare, disentri dan infeksi saluran kemih.
Kebermanfaatan yang berlimpah itu seperti halnya hadist yang diriwayatkan Ahmad, Ath Thabrani dan Daruqutni:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
Selepas apel pembukaan, seluruh peserta kemah shaleh diarahkan untuk bersiap-siap menunaikan salat Jumat. Seragam pramuka berganti pakaian muslim. Sejauh 2 KM kami berjalan menuju masjid terdekat. Adapun peserta shalihah menunaikan salat Dhuhur berjamaah dengan ustadzah.
Suguhan makan siang selepas menunaikan salat jumat sangatlah nikmat. Terlebih makan siang itu dilakukan di bawah terik mentari. Sebagian orang berteduh di dalam tenda, di bawah pohon dan di emper kafe. Semua dibuat sibuk menikmati makan siang dengan khusyuk.
Perut sudah terisi saatnya semua peserta untuk berkompetisi. Kompetisi tarik tambang, cerdas cermat dan permainan kekompakkan regu adalah acara selanjutnya. Masing-masing regu mengirimkan perwakilan untuk setiap lomba. Ketiga lomba dihelat di tempat, diwakili dan dibimbing oleh panitia yang berbdea. Akumulasi atas kemengan dalam berkompetisi dijadikan sebagai jembatan untuk meraih juara.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang terkendala hujan, kabar bahagianya, Perjusa tahun ini benar-benar mampu mengadakan api unggun. Persis beberapa saat sebelum adzan Magrib berkumandang panitia menyiapkan semua kebutuhan api unggun. Pembaca Dasa Dharma, kayu untuk api unggun, menata susunan acara giat digalakan.
Makan malam disantap bersama selepas berjamaah salat Magrib. Peserta bersantai sejenak sembari menunggu waktu salat Isya tiba. Dari kejauhan tampak, satu dua orang tua siswa datang berkunjung dan memeluk sang putra-putri dengan penuh kerinduan.
Momentum yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua peserta berbaris sesuai tugas dan peran. MC memandu tahapan penyumatan api unggun. Petugas pembaca Dasa Dharma berlari kecil dan berhenti melingkari kayu bakar. Satu persatu poin Dasa Dharma dipekikan, takbir sebanyak tiga kali digemakan, obor penyumatan api unggun dilakukan oleh Kakak Pembina Pramuka.
Sorak-sorai seluruh peserta menghiasi lapangan utama. Himne kepramukaan diputar beriringan kobar api yang menyala. Persis di arah utara api unggun yel-yel setiap regu diuji untuk dinilai. Irama, penjiwaan, kekompakan dan semangat menjadi aspek penilaian.
Api unggun menyisakan abu, film hikayat Buya Hamka diputar. Semua peserta khidmat menatap layar. Dua kesibukan membalut diri: Kedua mata menyaksikan, sementara mulut sibuk memamah jajan. Segelintir di antara mereka izin untuk memasak mie. Malam itu dingin memang menusuk diri hingga membuat rasa lapar berlipat ganda.
Jam 22.00-03.30 WIB semua meraih mimpi di pulau kapuk. Semua sepakat menyambut pagi dengan salat Subuh berjamaah, muraja'ah, olahraga dan bersih-bersih serta membersihakan diri. Lantas perut kosong itu diisi dengan sarapan sebelum menginjak kegiatan selanjutnya.
Hiking, renang dan lomba sandi adalah tiga agenda pamungkas dalam perjusa. Hiking berlangsung selama 1 jam penuh. Rute hiking tidaklah jauh, sekitar 3 KM, itu pun hanya menyusuri jalan paping dan jalan raya. Tidak seperti perjusa tahun lalu yang benar-benar belusukan kebun, sawah, perbukitan atau pun menyusuri jalan setapak pinggir kali.
Dalam perkara hiking bukan masalah cepat sampai namun tentang kekompakan, kesalingan dan kepedulian selama dalam perjalanan. Utamanya ketika memasuki pemukiman masyarakat maka sikap dan tidakan humanis yang beradab dijunjung tinggi. Adaptatif di lingkungan baru adalah tajuk besar yang sedang dibumikan.
Selepas membakar kalori seluruh peserta dipersilakan untuk menikmati kesegaran dengan berenang bersama. Cukup merogoh kocek sebesar Rp. 10.000/orang mereka bisa berendam riang di kolam. Tawa kebahagian dan rasa lelah tertanggal seketika.
Kisaran sejam mereka menghabiskan waktu berenang di kolam akhirnya membilas dan mengeringkan diri. Sesaat kemudian barulah lomba sandi-sandi dimulai. Itu pun hanya melibatkan segelintir peserta sebagai perwakilan setiap regu.
Sungguh tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Adzan berkumandang menunjukkan waktunya salat Dhuhur tiba. Salat Dhuhur didirikan dengan berjamaah.
Momen berpamitan dengan bumi perkemahan Kahayangan akhirnya tiba. Seluruh peserta membongkar masing-masing tenda. Perlengkapan masing-masing diri kembali dikemas dan diamankan sedemikian rupa. Sebagian besar perlengkapan dimuat ke dalam pick up, hanya tas gendong dan perintilan perlengkapan pribadi saja yang dibawa mandiri ke dalam bis sekolah.
Akhirnya acara dipungkas dengan apel penutupan, pengumuman juara dan pembagian hadiah. Tak ketinggalan detik-detik momentum terbaik itu dijepret beberapa foto untuk didokumentasikan. Tentu bukan sekadar untuk dokumentasi lembaga namun sebagai bukti nyata dari jejak seluruh peserta tidak pernah berhenti berproses menuju versi yang terbaik dari waktu ke waktu dalam tholabul ilmi. Tabik!
Berikut beberapa dokumentasi perjusa 2026: