Jumat, 31 Juli 2026

Capaian Baru di Haflah Akhirussanah IX SDIT Baitul Quran

 

Dokpri lulusan tahun 2026 dengan dewan asatidz/asatidzah


Tulungagung-LPIT Baitul Qur'an sukses menghelat majelis 5 juz sekali duduk dan haflah akhirussanah IX (13/62026) sesuai agenda yang direncanakan. Ini adalah tahun kedua program majelis 5 juz sekali duduk berlangsung. Haflah ini melibatkan 2 lembaga yang ada di bawah naungan Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an, yakni TKIT dan SDIT Baitul Qur'an. 

Majelis 5 juz seklai duduk merupakan program khusus bagi kelas 6 SDIT Baitul Qur'an yang hendak lulus. Semacam ajang pembuktian ke ruang publik bahwa alumni kami memiliki hafalan yang mudzqin bukan abal-abal, bukan gincu di bibir, bukan isapan jempol belaka. Proses majelis 5 juz sendiri berlangsung sejak pukul 05.30-07.30 WIB. 

Tahun ini majelis 5 juz dibawakan oleh 3 orang siswi yang memiliki hafalan terbanyak. Ketiga siswi tersebut yakni ananda Maqhfirroh, Nasywa dan Ocha. Urutan tersebut dibuat bukan tanpa alasan melainkan merujuk pada jumlah hafalan mereka. Ananda Maqhfirroh berhasil menyelesaikan hafalan sebanyak 12 juz. Ananda Nasywa sebanyak 7 juz dan 4 juz berhasil dicapai oleh ananda Ocha. 

Capaian hafalan siswa tahun ini adalah rekor baru. Rekor yang belum terpecahkan oleh sekian lulusan sebelumnya. Sebagai bentuk apresiasi atas capaian baru tersebut yayasan memberikan uang pembinaan sebesar Rp. 3.000.000,- bagi ananda Maqhfirroh dan Rp. 1.000.000,- bagi ananda Nasywa. 

Menariknya, sepanjang majelis 5 juz berlangsung prosesnya didokumentasikan via live streaming di kanal youtube lembaga: Silakan saksikan bersama. Alhasil, dokumentasi tersebut dapat dijadikan sebagai media dakwah sekaligus promosi lembaga pendidikan yang ada. Baik dalam rangka menjaring murid baru atau pun mengajak publik untuk menjadi hufaz. 

Selepas majelis 5 juz usai, agenda disambung dengan haflah akhirussanah. Haflah berlangsung menjadi 2 sesi, yakni TKIT dan SDIT. Sesi pertama diikuti oleh 20 siswa TKIT. Prosesi haflah dimulai dengan mengalungkan gordon, menyematkan mahkota dan bermusyafahah. Tak lupa saat prosesi berlangsung cita-cita masing-masing siswa ditayangkan saat siswa yang bersangkutan dipanggil untuk menaiki panggung. 

Hal sama juga berlaku bagi seluruh siswa SDIT saat melangsungkan haflah. Perbedaan mendasar hanya saat prosesi simbolis: Pengalungan gordon, pemberian mahkota dan pemberian slempang tahfidz. Perbedaan mencolok lainnya terletak pada seragam yang digunakan dan cita-cita masing-masing siswa. 















Senin, 01 Juni 2026

Orang tua Pintar di Balik Layar

 

Dokpri flyer Halal Bi halal 1447 H

Tulungagung-Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an yang menaungi TKIT dan SDIT Baitul Qur'an sukses mengadakan acara Halal Bi Halal dan Parenting. Sabtu pekan kedua di bulan April, tepatnya 11 April 2026 menjadi saksi bisu hari bersejarah. Acara tersebut dihadiri langsung oleh deretan pengurus yayasan, dewan guru, komite dan wali santri.

Dua acara dalam satu paket agenda tersebut dihelat di aula utama SDIT Baitul Qur'an. Momentum itu kian hidup dengan menghadirkan Ustadz Khasi'in, M. Pd. selaku penyuluh agama KUA Kedungwaru sebagai narasumber parenting. Ada pun tajuk yang didedah dalam kesempatan kali ini yakni Orang tua Pintar di Balik Layar.

Sebelum menginjak kajian parenting, Dr. Nuryani, M. Pd. tampil memberikan sambutan dan ucapan halal bi halal mewakili yayasan dan segenap dewan guru. Perihal halal menghalalkan perkara kekhilafan, kesalahan dan dosa yang telah terjadi selama berinteraksi di lingkungan sekolah Baitul Qur'an sangatlah penting. Sangatlah penting karena menyangkut kemaslahatan bersama. 

Jika semua elemen sumber daya lembaga dan pemberi amanah telah saling rida dan mengikhlaskan proses kelangsungan pembelajaran pun kian nyaman. Nyaman berada di sekolah dan berinteraksi dalam transaksi ilmu pengetahuan, amal dan tindak tanduk kebajikan. Keadaan yang jauh dari tekanan dan merasa bersalah ini menjadikan guru mengajar dengan penuh riang dan penuh keikhlasan.

Menginjak acara inti, pemateri mengajak audens untuk berpikir mendalam sejenak tentang akar masalah mengapa pentingnya kita memilih sekolah islam di era digital yang kian carut-marut. Bersikap bebal dan masa bodoh dalam memanfaatkan kecanggihan digital adalah kesalahan besar. Oleh karena itu kita penting mengenal konsep pendidikan islam, fase pendidikan sesuai perkembangan anak, lingkungan dan tantangan zaman. 

Konsep pendidikan islam pada dasarnya menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal; dunia dan akhirat; teori dan praktek kehidupan. Supaya kita mampu melakukan itu semua dalam prakteknya kita harus berpijak pada 3 pondasi utama: tauhid dan iman dicerminkan melalui doa, dzikir dan pengamatan alam semester sejak dini, uswah hasanah diproyeksikan melalui sikap anak sebagai peniru ulung orang tua dalam berprilaku dan beribadah, sedangkan yang terakhir pendidikan akhlak dan adab sebelum ilmu pengetahuan. 

Penegakan 3 pondasi tersebut tentu tidak sekaligus melainkan disesuaikan dengan tahapan pendidikan usia anak. Treatmen anak berusia dini, anak-anak, remaja dan dewasa dilakukan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya jika pada usia dini 0-7 tahun pola pendekatan pendidikan sebaiknya penuh kasih sayang, mengenalkan dasar agama dan pembiasaan baik sedangkan pada usia remaja-dewasa pendekatan dialogis, musyawarah dan persahabatan harus dikedapankan. 

Kendari begitu keluarga menjadi kunci dalam keberhasilan penerapan proses pendidikan sesuai tahapan tersebut. Mengapa demikian? Sebab semuanya bermula dari rumah. Waktu keberadaan anak lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di sekolah. Peran kedua orang tua yang utama sedangkan guru hanya pemegang amanah. Hanya anak yang dibesarkan dalam didikan keluarga menerapkan 3 pondasi yang mampu meniti jalan keseimbangan dan menundukkan tantangan zaman. 

Zaman dari waktu ke waktu terus berubah, tak terkecuali zaman teknologi digital yang kian mutakhir ini. Kian mutakhir berarti sama dengan kian berbeda pula cara dan pendekatan dalam hal mendidik anak. Terlebih kita tahu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, FOMO, cyberbullying, termakan hoaks, kecanduan dan penurunan produktivitas adalah dampak negatif yang benar-benar harus kita hadapi sekarang. 

Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Mengatur privasi ketat, membatasi penggunaan gadget, detoks medsos, memfilter konten, mengontrol aplikasi, mengontrol pertemanan di medsos, menyeimbangkan pendidikan anak, dan orang tua tidak memberi contoh buruk. 

Ada pun cara melakukan detoks medsos yakni dengan menghapus aplikasi media sosial yang toxic, menonaktifkan akun sementara waktu, batasi waktu penggunaan, unfollow/mute akun tertentu, mencari hobi yang berdampak positif dan mengedepankan murajaah hafalan yang sudah ada. 

Setelah kajian parenting selesai, seluruh tamu undangan bermusyafahah. Dilanjutkan dengan ramah-tamah yang terletak di teras ruangan TKIT Baitul Qur'an lawas. Semua tamu undangan melepas dahaga dengan menu yang telah dissediakan. 

Berikut beberapa dokumentasi acara halal bihalal dan parenting:





 

Selasa, 28 April 2026

Satu Dayung Dua Kegiatan Terlampaui

 

Dokpri kegiatan Pondok Ramadan 1447 H

Selain peresmian gedung baru TKIT Baitul Qur'an, di hari yang sama SDIT dan TKIT Baitul Qur'an bekerjasama menghelat iftar (berbuka puasa) bersama antara murid, wali siswa, dewan guru dan pengurus yayasan. 

Sebelum iftar, Syekh Abdurrahman Jaber mengisi kultum dengan tajuk hikmah menjadi penghafal Al-Qur'an. Kultum dilakukan setelah Syekh membubuhkan tanda tangan di prasasti peresmian gedung baru di batu marmer hitam. Kultum berlangsung kurang lebih selama 40 menit menjelang adzan Magrib. 

Adzan Magrib berkumandang, semua partisipan membatalkan puasa dengan kurma dan air putih yang telah dibagikan sebelumnya. Ohya, tamu undangan dan wali siswa telah mendapatkan jatah membatalkan puasa ketika mengisi absensi pesis di meja petugas di gerbang sekolah. 

Beberapa saat kemudian partisipan diarahkan untuk menunaikan salat Magrib berjamaah. Mengingat lokasi yang tidak memungkinkan, akhirnya salat dibagi menjadi dua tempat. Sebagian di aula gedung baru sedangkan  sebagian yang lain menegakkan salat di aula SD; tamu undangan dan siswa menunaikan salat Magrib di gedung baru sementara siswa-siswi dan dewan guru SD salat di aula SD. 

Selepas salat Magrib, semua partisipan diarahkan untuk menyantap makanan berat di lokasi yang telah disediakan panitia. Soto ayam dan es kuwut menjadi menu andalan di malam nan syahdu itu. Segenap wali siswa bergegas pulang setelah piringnya bersih. Kepulangannya beriringan dengan kepulangan siswa TK dan kelas bawah: 1-3. 

Di riuh kepulangan wali siswa dan siswa yang berbondong-bondong, terdapat beberapa tamu undangan dan wali siswa yang sengaja menyempatkan diri berswafaoto dengan Syek Abdurrahman Jaber. Begitu pun dengan dewan guru yang tidak mau kalah, posisi terbaik diambil, beberapa foto sempat terabadikan. 

Syekh Abdurrahman berpamitan menuju Pondok Modern Darul Hikmah untuk meneruskan langkah safari dakwah sedangkan dewan guru SD dan siswa kelas atas: 4-6 yang menginap di sekolah bersiap siaga untuk menunaikan salat Isya sekaligus salat taraweh. Menariknya, salat Isya berjamaah kala itu diimami oleh ananda Moh. Azam. Alumni SDIT Baitul Qur'an yang meneruskan ke Pondok Imam Syafii. Moh. Azam sendiri adalah putra kedua ketua yayasan, Ustadz Ali. 

Selepas salat sunah ba'diah Isya, salat taraweh ditunaikan dengan diimami oleh ustadz Fadil. Salat taraweh dikerjakan sejumlah 8 rakaat dan 3 rakaat salat witir. Jumlah rakaat ini sengaja dipilih guna menjaga kondusivitas dan konsentrasi siswa-siswi. Terlebih lagi, di malam hari masih ada rangkaian agenda lain yang harus dilakukan. 

Tadarus bersama dan muhasabah yaumiyah adalah agenda wajib selepas salat taraweh. Melalui tadarus bersama siswa-siswi didorong untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an. Caranya yakni dengan berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al-Qur'an. Ada pun melalui muhasabah yaumiyah siswa-siswi diajak untuk merefleksikan diri atas rutinitas harian yang telah dilakukan, apakah sudah lebih baik dari hari kemarin atau sebaliknya. 

Malam semakin larut, akhirnya siswa-siswi diarahkan untuk beristirahat di ruangan masing-masing. Purta bermalam di aula SD sedangkan putri tidur di ruang kelas TK lawas. Semua siswa diawasi dengan ketat supaya mampu memejamkan mata lebih cepat mengingat esok hari harus bangun untuk menunaikan sahur. 

Pukul 03.30 WIB siswa menunaikan sahur bermenu lodho, kerupuk dan teh manis hangat. Sebagian di antara mereka matanya tampak masih memerah dan raut wajah yang masih diberbalut kantuk. Kendati begitu makan bersama-sama menjadikannya melahap nasi dengan bersemangat. Tak lupa selepas makan mereka dibimbing untuk menggosok gigi sekaligus mengambil wudhu untuk persiapan salat Subuh. 

Tak berselang lama waktu Subuh tiba. Seorang siswa ditunjuk untuk mengumandangkan adzan. Lantas para siswa diajak untuk menunaikan khobliyah Subuh. Subuh pagi itu diimami oleh ustadz Lazim. 

Tadarus pagi digalakan. Ustadzah Safina dkk membimbing kelangsungan tadarus. Tadarus berlangsung kurang lebih sampai pukul 05.30 WIB. Selanjutnya para siswa diarahkan untuk senam pagi. Pesan moral yang hendak ditegakkan adalah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Mens sana in conpore sano, dalam satir penyair Romawi Jueval disebutkan demikian. 

Tak hanya fokus menyehatkan tubuh, tapi selepas senam para siswa juga diajak untuk mengamalkan hadits Ath-thahuru syathrul iman. Tubuh yang sehat tidaklah cukup berarti jika lingkungan sebagai tempat kita hidup kotor. Sebab sebaik-baiknya jasmani sehat ditopang dengan lingkungan yang sehat dan bersih. 

Demikian catatan dua agenda dalam satu momentum. Melalui iftar kita belajar banyak tentang memelihara arti penting ikatan kekeluargaan dan persaudaran, pentingnya guru dan wali siswa memiliki visi yang sama dalam mendidik anak serta tak ada kata terlambat dalam menanamkan satu kebaikan terhadap anak-anak kita. 

Ada pun dari kegiatan pondok Ramadan, para siswa diajarkan untuk memuliakan bulan Ramadan dengan menunaikan ibadah dan kegiatan yang positif. Kegiatan positif yang maksud yakni menolong sesama, berlomba-lomba dalam kebaikan dan utamanya membantu pekerjaan dan memuliakan orang tua.
 



Peresmian Gedung Baru TKIT Baitul Qur'an

 

Dokpri Flyer Iftar dan Peresmian Gedung Baru TKIT Baitul Qur'an

Menjelang penghujung Ramadan 1447 H yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an mendatangkan Syekh Abdurrahman Jaber (adik kandung alm. Syekh Ali Jaber) dalam rangka dua agenda: Kajian menjelang iftar dan peresmian gedung baru TKIT Baitul Qur'an. 

Kedatangan Syekh Abdurrahman Jaber ke kabupaten Tulungagung khususnya ke Baitul Qur'an tak lain salah satu dari rangkaian safari dakwah mencetak sejuta penghafal Al-Qur'an di berbagai pelosok negeri. Visi yang sama dengan ghiroh berdirinya Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an yang memiliki fokus mencetak generasi qur'ani. Hufaz namun mumpuni dalam berbagai bidang ilmu. 

Dokpri Ustadz Ali (ketua yayasan) menyambut kedatangan Syek Abdurrahman Jaber

Gedung baru TKIT Baitul Qur'an merupakan hibah dari dr. Rina. Kendati begitu proses finishing tetap dirampungkan dengan dana mandiri yayasan. Proses pembangunan gedung baru ini kurang lebih memakan waktu satu tahun hingga akhirnya siap pakai. 

Berbeda dengan gedung lama yang sangat sederhana gedung baru terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk tempat bermain anak-anak sedangkan lantai kedua berisikan tiga ruang kelas pembelajaran, ruang kantor dan dua kamar mandi.

Agenda peresmian gedung baru dihelat di ruang pembelajaran lantai dua yang belum tersekat. Acara ini dihadiri oleh segenap wali santri: Baik wali santri TKIT maupun SDIT Baitul Qur'an, pengurus yayasan dan tamu undangan pemangku kebijakan di wilayah Mangunsari, Kedungwaru. 

Alhamdulilah, acara terlaksana dengan khidmat dan lancar. Peresmian dilakukan sebelum kajian iftar. Peresmian ditandai dengan pembubuhan tanda tangan Syekh Abdurrahman Jaber di batu marmer hitam. Seperti biasa, tanda tangan tersebut akan diubah ke dalam bentuk ukiran. Selanjutnya batu marmer akan diletakan di tempat yang representatif: dapat diakses publik.

Dokpri Syekh Abdurrahman Jaber sedang membubuhkan tanda tangan

Besar harapan kami dengan diresmikannya gedung baru TKIT Baitul Qur'an ini kian menambah berkah, menambah kuantitas-kualitas kelurga besar (murid baru) TKIT dan SDIT Baitul Qur'an di tahun ajaran baru, dan dapat mengoptimalkan pelayanan terbaik dalam mendidik generasi emas dari waktu ke waktu. 

Kami sampaikan Jazakumullah khairon katsiron kepada seluruh donatur yang telah menghibahkan sebagian hartanya untuk kelangsungan pendidikan generasi qur'ani. Ada doa yang senantiasa kami langitkan, semoga rezekinya melimpah dan hidupnya penuh berkah. Amin ya robbal 'alamin. 

Berikut beberapa dokumentasi acara:

Syekh Abdurrahman menyapa para santri

Syekh Abdurrahman berjabatan tangan dengan ustadz Ali

Syekh Abdurrahman khidmat berdoa

Selasa, 03 Februari 2026

Trial Class Jilid 2

 

Dokpri Peserta Trial Class sedang senam pagi

SDIT Baitul Qur'an (31/1/2026) menghelat Trial Class jilid 2. Kegiatan ini berhasil mendatangkan tiga lembaga. Ketiga lembaga tersebut yakni TKIT Baitul Qur'an, TK Sembung dan TK Shara. Terhitung, sejumlah 24 peserta antusias mengikuti rangkaian acara.

Kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB setelah mayoritas peserta berkumpul. Setelah melakukan absensi, agenda pertama yang dihelat adalah senam pagi. Sekitar lima belas menit pertama seluruh peserta melakukan perenggangan anggota tubuh. 

Senam selesai, giat selanjutnya dihelat di dalam ruangan. Peserta dibimbing untuk menempati area kosong yang telah disediakan. Di dalam ruangan terdapat tiga agenda utama, yakni murajaah surat pendek, memindahkan bola, gelas berjalan dan meronce sedotan menjadi karya bernilai. 

Agenda pertama dipandu langsung oleh guru tahfidz: Ustadzah Rohmah, Ustadzah Manda dan Ustadzah Shima. Dengan mteode ummi seluruh peserta dibimbing untuk membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas dengan baik dan benar. Murajaah berlangsung dalam kurun waktu seperempat jam. 

Murajaah selesai, memindah bola adalah agenda selanjutnya. Agenda kedua dipandu langsung oleh Ustadzah Yuli, Ustadzah Rini dan Ustadz Singgih. Aturan mainnya seluruh peserta dibuat kelompok. Lantas masing-masing anggota kelompok dibekali gelas palstik sebagai media untuk memindahkan bola dari setiap anggota kelompok. Siapa cepat dia dapat; kelompok yang cepat dia menang. Hal ini dilakukan dengan cara bergantian dan sistem gugur.

Gelas berjalan menjadi agenda berikutnya. Ustadzah Asna, Ustadzah Alfisya dan Ustadzah Lina tampil cekatan membimbing pada sesi ini. Aturan yang berlaku dalam permainan, seluruh perserta dikelompokan lantas memindahkan gelas plastik menggunakan sedotan. Setiap anak harus bisa memindahkan gelas dari satu anggota ke anggota lainnya hingga finish.

Sedangkan yang terakhir yakni meronce sedotan. Masing-masing anak diberikan sedotan dan benang. Lantas sedotan itu digunting dengan ukuran yang sama kemudian disatukan dengan benang. Taraaa jadilah kerajinan gelang dan kalung. 

Sebagai pamungkas, tak lupa seluruh peserta dipersilakan untuk membawa hasil kerajinan yang berhasil dibuat. Tak hanya itu diberikan pula cendera mata berupa buku warna dan jajanan.  

Kegiatan Trial Class memang didesainn khusus untuk having fun sekaligus mengenalkan lembaga SDIT Baitul Quran ke seluruh peserta. Besar harapan kami seluruh peserta jatuh cinta dan betah di lembaga sehingga dapat menambah kuantitas keluarga besar SDIT Baitul Quran di tahun ajaran baru 2026/2027.








Belajar dari Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

 

Dokpri mading edisi Isra Mi'raj

Isra Mi'raj menjadi inspirasi tema isi mading sekolah bulan Januari. Nadi kehidupan mading utama sekolah memang belakangan menjadi tanggung jawab bersama. Kebetulan yang mendapatkan giliran mengisi manding Januari adalah kelas 2. 

Kendati murid kelas 2 hanya berjumlah sembilan orang akan tetapi semua murid memiliki antusias yang tinggi, mengisi mading dengan karya. Karya yang berhasil dipajang di mading di antaranya kisah perjalanan singkat peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW: mulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha sampai dengan mendapatkan perintah mendirikan salat 5 waktu. 

Tak lupa digambarkan pula di setiap lapisan langit Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi siapa saja. Pernak-pernik langit bertulisan nama nabi itu dipasang sedimikian rupa sesuai runtut peristiwa. Tak lupa di lengkapi dengan masjid, ka'bah dan orang yang menunggangi unta. 

Selain itu mading juga diisi dengan puisi yang menggambarkan perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw. Terdapat satu puisi dengan tajuk: Isra Mi'raj yang dipajang. Untuk lebih jelasnya gambaran isi puisi dalam mading tersebut dapat dilihat dan dibaca saksama dari gambar berikut.


Dua pantun dengan tema Isra Mi'raj juga dipajang. Setelah dicermati lebih dalam dua pantun tersebut pada kenyataanya mendedah fokus yang berbeda: mengingat dan menyambut. Lebih jelasnya dapat dibaca melalui gambar di bawah ini.

Dokpri pantun pengingat sejarah Isra Mi'raj

Dokpri pantun seruan untuk menyambut Isra Mi'raj

Melalui mading edisi khusus peringatan hari Isra Mi'raj ini semoga menjadikan para murid semakin kenal, dekat dan cinta kepada Rasulnya. Amin. 


Senin, 26 Januari 2026

Meningkatkan Ketaqwaan dengan Mneladani Isra Mi'raj Rasulullah SAW

 

Dokpri KS dengan Para Murid Pemenang

Tulungagung-SDIT Baitul Qur'an (17/1/2025) menghelat refleksi Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1448 H di penghujung minggu ketiga Januari. Kendati hari sebelumnya tanggal merah peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW namun seluruh murid semangat mengikuti kegiatan refleksi. Khusus hari itu seluruh murid mengenakan pakaian muslim. Seragam pramuka mereka disimpan sejenak. 

Berbeda dengan refleksi Isra Mi'raj 1447 H sebelumnya pada kesempatan ini seluruh murid diarahkan untuk mengasah potensi melalui dua lomba. Kelas bawah: 1, 2 dan 3 mengikuti lomba mewarna kaligrafi sedangkan kelas atas: 4, 5 dan 6 terlibat aktif dalam lomba membuat puisi religi. 

Ada proyeksi masif yang digalakan, bahwa momentum ini dapat dijadikan sebagai ajang menjaring murid yang memiliki potensi untuk kedua cabang lomba. Barangkali saja melalui perhelatan dua lomba tersebut mampu mengkonstruk dua hal: Meningkatkan ghiroh kompetitif di antara murid internal lembaga dan menjadikan para juara sebagai nominasi di cabang lomba tersebut untuk jenjang selanjutnya. Baik itu kompetisi di tingkat desa, kecamatan, kabupaten atau mungkin provinsi.

Sekitar 1 jam lebih seluruh murid mengikuti lomba dengan cermat. Lima belas menit selanjutnya seluruh murid menikmati waktu beristirahat. Mereka berhaamburan menuju kantin, memborong jajan yang disukai. 

Bel berbunyi, seluruh murid diarahkan menuju teras TK. Sepanjang teras penuh dengan murid. Beberapa guru membaur di sela-sela mereka. 

Dokpri saat refleksi

Ustadz M. Lazim Abidin, M. Pd. tampil sebagai pemberi materi dalam sesi refleksi. Ia menerangkan tahapan perjalanan Isra Mi'raj Nabi yang penuh makna. Kejadian demi kejadian yang tampak di depan mata; bertemu dengan para Nabi terdahulu di setiap lapisan langit sungguh menjadi pelajaran hidup. 

Titah menunaikan salat wajib 5 waktu adalah hadiah yang luar biasa untuk umatnya. Waktu istimewa untuk interaksi antara makhluk dengan sang Pencipta sekaligus menyampaikan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW serta keluarganya. Salat adalah momentum seorang hamba untuk menyucikan dan menentramkan jiwa setelah diuji dengan hiruk-pikuk dunia yang kian menggila. 

Melalui refleksi ini semoga kita semua selaku umat islam dapat menjadi golongan yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari hari sebelumnya. Sebaliknya, orang-orang yang merugi adalah mereka yang lebih buruk dari hari sebelumnya. 

Tak lupa para pemenang dua cabang lomba lantas diberikan sertifikat dan piala selepas upacara hari Senin. Para pemenang tersebut yakni:

Lomba Mewarna Kaligrafi

1. Aruna Calista

2. Alfira Dzakiyatul H.

3. Alanna Qadwal Khadeeja

Lomba Menulis Puisi

1. Revalina Beauty N.

2. Asyifa Parisya A.

3. M. Mustofa Al Azami

Sebagai penutup, mari tingkatkan kualitas ibadah kita dengan salat 5 waktu di awal waktu dengan berjamaah di masjid. Ingat, kualitas hidup kita tergantung pada cara kita menunaikan ibadah salat. Wallahu a'lamu bissawab.