Minggu, 25 Januari 2026

Ada Kebahagiaan di Santerra De Laponte

 

Dokpri siswa-siswi kelas 6 

SDIT Baitul Qur'an Tulungagung menghelat rihlah (13/11) menjelang akhir tahun. Rihlah merupakan salah satu kegiatan yang sangat berkesan bagi seluruh peserta didik. Rihlah tahun ajaran 2025/2026 dihelat di Florawisata Santerra De Laponte, yang beralamat di Jl. Truno Joyo, Jurangrejo, Pandesari, Kec. Pujon, Kab. Malang, Jawa Timur.

Perjalanan rihlah dimulai sekitar pukul 05.30 WIB setelah sebelumnya para peserta sejumlah 60 orang kumpul di gang sekolah. Bus berukuran long size terparkir persis di pinggir jalan raya Mangunsari. Para peserta berlari kecil menuju bus, duduk sesuai dengan kursi yang telah ditata. Seragam yang digunakan pada agenda ini adalah pakaian olahraga. Sementara pakaian ganti, jajan dan bekal disimpan di tas masing-masing.

Menjelang pemberangkatan, tak lupa rangkaian doa--naik kendaraan dan keselamatan--dilafalkan. Para peserta dicek satu-persatu, dipastikan tidak ada yang tertinggal. Lima belas menit perjalanan, jatah makan bergizi gratis (MBG) dibagikan. Sebagian siswa sangat antusias langsung makan, sedangkan sebagian yang lain menyimpannya menunggu rasa lapar muncul.

Kurang lebih sekitar tiga jam, sebagian para penumpang bercengkrama menghidupkan perjalanan. Sebagian yang lain asyik menghabiskan bekal jajan dan lainnya memilih untuk menikmati perjalanan dengan berpetualang merajut mimpi. Beragam aktivitas ringan coba digalakkan untuk mengikis rasa pegal dan bosan. Tak ketinggalan, dua tiga orang pemupang sempat oleng. Oleng karena pada dasarnya yang bersangkutan mabuk darat: mual dan pusing hingga menumpahkan isi perut.

Sesaat kemudian, bus sampai di parkiran utama Santerra. Beberapa bus dan elf pengunjung lain terparkir rapi berderet di sana. Posisi parkir telah diatur sedimikian rupa sehingga kendaraan pengunjung harus menaati peraturan yang ada. 

Para penumpang bergegas turun dan berkumpul di area kosong. Beberapa tampak menebus rasa lapar dengan memakan jatah makan pagi. Sebagian berusaha meluruskan kaki, menuntaskan dahaga dan sibuk memerhatikan keadaan sekitar. Tak lama dari itu, seorang petugas loket mendatangi kami untuk memastikan jumlah peserta.

Kami dituntun menuju pintu utama. Persis di bagian anak tangga di depan gerbang tak lupa petugas menyarankan kami untuk berfoto bersama. Beberapa foto dan video berhasil diambil untuk mengabadikan momen kebersamaan. Banner bertuliskan studi tour SDIT Baitul Quran ke  Florawisata Santerra De Laponte terpampang jelas diangkat setinggi dada.

Dokpri foto bersama di depan gerbang destinasi Santerra

Setelah berfotoria, langkah kami dituntun menyusuri relung surga wahana setelah sebelumnya tiket masuk berhasil digelangkan di masing-masing tangan peserta. Permukaan gelang tersebut menunjukkan ragam wahana yang boleh dinaiki dengan cuma-cuma. Maklum saja tiket masuk yang dibeli adalah terusan. Alhasil, di dalam Santerra kami bisa bermain sepuasnya selama wahana yang tersebut include di dalam gelang. 

Sedikit informasi untuk anda, setiap wahana yang akan peserta naiki nantinya gambar di gelang akan dicoret. Tanda itu menegaskan bahwa wahana yang dimaksud telah dicoba. Ada pun jika peserta hendak mencoba kembali wahana sama untuk yang kedua kalinya maka kami harus membayar. Hal yang sama juga berlaku bila peserta menjajal permainan yang tidak tercantum di dalam gelang. 

Destinasi Santerra memiliki lanskap yang cukup luas. Setelah diamati lebih jauh, di dalamnya terdapat replika rumah nuansa Korea, replika rumah nuasa Belanda, replika rumah nuansa Itali, kolam renang, musala, replika istana, taman dan ragam wahana.  

Ragam wahana yang ada di antaranya: Bianglala, Colombus, Flying Bee, House of Terror, Komedi putar, Kids zone arena, Rainbow Slide, Ontang-anting, Swinger, Go-Kart, Scooter Listrik, Rabbit Town, Water Playground,  Mega Disco, Glow in the dark an miror maze, Rumah hantu, Hysteria dan lain-lain. 

Saat sampai di area wahana kami berpencar sesuai kata hati dan otak--termasuk kondisi mood--secara berkelompok. Kelompok kecil tersebut selanjutnya sibuk menjajal wahana permainan. Sebagian lain dimulai dengan mencoba wahana ekstrem sedang lainnya menyusuri area guna mencoba permainan yang menurutnya aman. Yang demikian dapat diukur dari banyaknya coretan di gelang masing-masing. 

Ada pun Colombus adalah wahana perminan pertama yang dinaiki dewan guru. Wajah tegang, ekspresi takut dan teriakan sempat terpekik tumpah ruah sepanjang permainan. Pekik teriak yang lebih cemen jika dibandingkan dengan siswa-siswa yang berani naik wahana Hysteria, Swinger dan Palu gada. Bianglala dan Rinbow Slide menjadi wahana kedua dan tiga yang sempat dijajal dewan guru. 

Alhasil, dari sekian wahana dewan guru hanya menaiki tiga permainan. Selebihnya dewan guru lebih banyak mengambil swafoto, membeli jajan dan berkeliling; menikmati asrinya taman. Apakah ini pertanda bahwa kian bertambahnya umur keberanian kian kikuk. Menguji adrenalin dengan menaiki wahana permainan tidak lebih berarti daripada menghadapi ujian hidup. Entahlah.

Beberapa saat, Kepala Sekolah sempat mengajak (secara sukarela tanpa paksaan) beberapa siswa untuk menaiki wahana Palu gada. Hasilnya sungguh mencengangkan. Salah seorang siswa sempat pipis di celana. Kejadian yang lebih menguji adrenalin yakni ketika bermain bersama menggunakan Swinger. Setelah wahana berhenti, tidak sedikit siswi yang mengeluh using kepala. Wahana yang benar-benar mengobok-obok isi perut dan rasa takut.

Selain itu di beberapa spot juga terdapat cafe, toko ice cream dan jajanan serta kedai minuman yang menyegarkan. Food court yang benar-benar represntatif untuk melepas dahaga di saat para pengunjung lelah menyusuri destinasi yang ada. Tak hanya itu, souvenir khas Santerra juga dipajang di beberapa toko yang ada. 

Waktu Dhuhur tiba. Seluruh peserta menghelat salat Dhuhur-Asar dengan jamak takdim. Sebelum meninggalkan area wisata, tak lupa kami memastikan jumlah peserta. Mencermati betul satu persatu siswa kelas berapa yang belum genap. Guna memastikan ulang kami menyusuri seluruh area termasuk kolam renang. Hasilnya, benar saja masih ada beberapa siswa yang masih asyik berenang. Tapi kekhawatiran kami luntur seketika manakala mendapati mereka didampingi orang tua.

Sekitar pukul 13.45 WIB kami bergegas kembali menaiki bus. Sembari menunggu yang lain ada beberapa orang yang meluruskan kaki, ngemil jajanan dan ada juga yang makan siang. Setelah genap berkumpul, bus bertolak pulang. 

Hari semakin sore, sesampainya di kota Malang, tak lupa kami mampir di sebuah toko pusat oleh-oleh khas Malang untuk makan sore sekaligus membeli oleh-oleh. Perut kenyang. Tepat di lantai satu kami mulai sibuk memilih barang dan memborongnya. Barang belanjaan digembol ke dalam bus, bagasi lelang mulai sesak. 

Perjalanan pulang berlanjut. Beberapa siswa berinisiatif menceritakan kejadian lucu dan keasyikan yang sempat terjadi di area wisata. Gelak tawa sempat menyeruak manakala menceritakan dua-tiga siswa yang muntah dan terkencing-kencing saat menaiki wahana. Padahal itu belum ditambah dengan kepayahannya bangkit dari mabuk darat. Menertawakan kepayahan; sikap cemen; kekonyolan diri sendiri memang lebih baik daripada menghina orang lain sebagai bahan banyolan.

Di waktu yang sama, kebanyakan pasang mata memilih terpejam hingga sampai di satu musala untuk menunaikan salat Magrib. Rintik hujan menyelimuti malam sedang kami berlari kecil menuju musala. Mengingat ukuran musala lumayan ciut, akhirnya jamaah salat dibagi menjadi dua kelompok. Sekitar 20 menitan kami menghabiskan waktu untuk salat Magrib-Isya.

Seakan cacing menabuh usus, beberapa guru yang kelaparan akhirnya memesan semangkuk bakso guna menghangatkan tubuh. Seluruh peserta sudah genap, perjalanan pulang berlanjut. Kini, kami berjalan memecah kesucian. Kurang lebih sekitar pukul 20.30 WIB kami sampai di tujuan. 

Dari dalam bus tampak jelas, beberapa wali siswa bergegas menyambut kedatangan sang anak. Satu persatu siswa pamit pulang ke pelukkan sang Ibu. Sementara itu beberapa guru setia menunggu hingga sekolah benar-benar hening dari tanda kehidupan. Agenda selesai, saatnya merebahkan tubuh yang lelah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar