Dokpri kegiatan Pondok Ramadan 1447 H
Selain peresmian gedung baru TKIT Baitul Qur'an, di hari yang sama SDIT dan TKIT Baitul Qur'an bekerjasama menghelat iftar (berbuka puasa) bersama antara murid, wali siswa, dewan guru dan pengurus yayasan.
Sebelum iftar, Syekh Abdurrahman Jaber mengisi kultum dengan tajuk hikmah menjadi penghafal Al-Qur'an. Kultum dilakukan setelah Syekh membubuhkan tanda tangan di prasasti peresmian gedung baru di batu marmer hitam. Kultum berlangsung kurang lebih selama 40 menit menjelang adzan Magrib.
Adzan Magrib berkumandang, semua partisipan membatalkan puasa dengan kurma dan air putih yang telah dibagikan sebelumnya. Ohya, tamu undangan dan wali siswa telah mendapatkan jatah membatalkan puasa ketika mengisi absensi pesis di meja petugas di gerbang sekolah.
Beberapa saat kemudian partisipan diarahkan untuk menunaikan salat Magrib berjamaah. Mengingat lokasi yang tidak memungkinkan, akhirnya salat dibagi menjadi dua tempat. Sebagian di aula gedung baru sedangkan sebagian yang lain menegakkan salat di aula SD; tamu undangan dan siswa menunaikan salat Magrib di gedung baru sementara siswa-siswi dan dewan guru SD salat di aula SD.
Selepas salat Magrib, semua partisipan diarahkan untuk menyantap makanan berat di lokasi yang telah disediakan panitia. Soto ayam dan es kuwut menjadi menu andalan di malam nan syahdu itu. Segenap wali siswa bergegas pulang setelah piringnya bersih. Kepulangannya beriringan dengan kepulangan siswa TK dan kelas bawah: 1-3.
Di riuh kepulangan wali siswa dan siswa yang berbondong-bondong, terdapat beberapa tamu undangan dan wali siswa yang sengaja menyempatkan diri berswafaoto dengan Syek Abdurrahman Jaber. Begitu pun dengan dewan guru yang tidak mau kalah, posisi terbaik diambil, beberapa foto sempat terabadikan.
Syekh Abdurrahman berpamitan menuju Pondok Modern Darul Hikmah untuk meneruskan langkah safari dakwah sedangkan dewan guru SD dan siswa kelas atas: 4-6 yang menginap di sekolah bersiap siaga untuk menunaikan salat Isya sekaligus salat taraweh. Menariknya, salat Isya berjamaah kala itu diimami oleh ananda Moh. Azam. Alumni SDIT Baitul Qur'an yang meneruskan ke Pondok Imam Syafii. Moh. Azam sendiri adalah putra kedua ketua yayasan, Ustadz Ali.
Selepas salat sunah ba'diah Isya, salat taraweh ditunaikan dengan diimami oleh ustadz Fadil. Salat taraweh dikerjakan sejumlah 8 rakaat dan 3 rakaat salat witir. Jumlah rakaat ini sengaja dipilih guna menjaga kondusivitas dan konsentrasi siswa-siswi. Terlebih lagi, di malam hari masih ada rangkaian agenda lain yang harus dilakukan.
Tadarus bersama dan muhasabah yaumiyah adalah agenda wajib selepas salat taraweh. Melalui tadarus bersama siswa-siswi didorong untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an. Caranya yakni dengan berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al-Qur'an. Ada pun melalui muhasabah yaumiyah siswa-siswi diajak untuk merefleksikan diri atas rutinitas harian yang telah dilakukan, apakah sudah lebih baik dari hari kemarin atau sebaliknya.
Malam semakin larut, akhirnya siswa-siswi diarahkan untuk beristirahat di ruangan masing-masing. Purta bermalam di aula SD sedangkan putri tidur di ruang kelas TK lawas. Semua siswa diawasi dengan ketat supaya mampu memejamkan mata lebih cepat mengingat esok hari harus bangun untuk menunaikan sahur.
Pukul 03.30 WIB siswa menunaikan sahur bermenu lodho, kerupuk dan teh manis hangat. Sebagian di antara mereka matanya tampak masih memerah dan raut wajah yang masih diberbalut kantuk. Kendati begitu makan bersama-sama menjadikannya melahap nasi dengan bersemangat. Tak lupa selepas makan mereka dibimbing untuk menggosok gigi sekaligus mengambil wudhu untuk persiapan salat Subuh.
Tak berselang lama waktu Subuh tiba. Seorang siswa ditunjuk untuk mengumandangkan adzan. Lantas para siswa diajak untuk menunaikan khobliyah Subuh. Subuh pagi itu diimami oleh ustadz Lazim.
Tadarus pagi digalakan. Ustadzah Safina dkk membimbing kelangsungan tadarus. Tadarus berlangsung kurang lebih sampai pukul 05.30 WIB. Selanjutnya para siswa diarahkan untuk senam pagi. Pesan moral yang hendak ditegakkan adalah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Mens sana in conpore sano, dalam satir penyair Romawi Jueval disebutkan demikian.
Tak hanya fokus menyehatkan tubuh, tapi selepas senam para siswa juga diajak untuk mengamalkan hadits Ath-thahuru syathrul iman. Tubuh yang sehat tidaklah cukup berarti jika lingkungan sebagai tempat kita hidup kotor. Sebab sebaik-baiknya jasmani sehat ditopang dengan lingkungan yang sehat dan bersih.
Demikian catatan dua agenda dalam satu momentum. Melalui iftar kita belajar banyak tentang memelihara arti penting ikatan kekeluargaan dan persaudaran, pentingnya guru dan wali siswa memiliki visi yang sama dalam mendidik anak serta tak ada kata terlambat dalam menanamkan satu kebaikan terhadap anak-anak kita.
Ada pun dari kegiatan pondok Ramadan, para siswa diajarkan untuk memuliakan bulan Ramadan dengan menunaikan ibadah dan kegiatan yang positif. Kegiatan positif yang maksud yakni menolong sesama, berlomba-lomba dalam kebaikan dan utamanya membantu pekerjaan dan memuliakan orang tua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar