Dokpri flyer Halal Bi halal 1447 H
Tulungagung-Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an yang menaungi TKIT dan SDIT Baitul Qur'an sukses mengadakan acara Halal Bi Halal dan Parenting. Sabtu pekan kedua di bulan April, tepatnya 11 April 2026 menjadi saksi bisu hari bersejarah. Acara tersebut dihadiri langsung oleh deretan pengurus yayasan, dewan guru, komite dan wali santri.
Dua acara dalam satu paket agenda tersebut dihelat di aula utama SDIT Baitul Qur'an. Momentum itu kian hidup dengan menghadirkan Ustadz Khasi'in, M. Pd. selaku penyuluh agama KUA Kedungwaru sebagai narasumber parenting. Ada pun tajuk yang didedah dalam kesempatan kali ini yakni Orang tua Pintar di Balik Layar.
Sebelum menginjak kajian parenting, Dr. Nuryani, M. Pd. tampil memberikan sambutan dan ucapan halal bi halal mewakili yayasan dan segenap dewan guru. Perihal halal menghalalkan perkara kekhilafan, kesalahan dan dosa yang telah terjadi selama berinteraksi di lingkungan sekolah Baitul Qur'an sangatlah penting. Sangatlah penting karena menyangkut kemaslahatan bersama.
Jika semua elemen sumber daya lembaga dan pemberi amanah telah saling rida dan mengikhlaskan proses kelangsungan pembelajaran pun kian nyaman. Nyaman berada di sekolah dan berinteraksi dalam transaksi ilmu pengetahuan, amal dan tindak tanduk kebajikan. Keadaan yang jauh dari tekanan dan merasa bersalah ini menjadikan guru mengajar dengan penuh riang dan penuh keikhlasan.
Menginjak acara inti, pemateri mengajak audens untuk berpikir mendalam sejenak tentang akar masalah mengapa pentingnya kita memilih sekolah islam di era digital yang kian carut-marut. Bersikap bebal dan masa bodoh dalam memanfaatkan kecanggihan digital adalah kesalahan besar. Oleh karena itu kita penting mengenal konsep pendidikan islam, fase pendidikan sesuai perkembangan anak, lingkungan dan tantangan zaman.
Konsep pendidikan islam pada dasarnya menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal; dunia dan akhirat; teori dan praktek kehidupan. Supaya kita mampu melakukan itu semua dalam prakteknya kita harus berpijak pada 3 pondasi utama: tauhid dan iman dicerminkan melalui doa, dzikir dan pengamatan alam semester sejak dini, uswah hasanah diproyeksikan melalui sikap anak sebagai peniru ulung orang tua dalam berprilaku dan beribadah, sedangkan yang terakhir pendidikan akhlak dan adab sebelum ilmu pengetahuan.
Penegakan 3 pondasi tersebut tentu tidak sekaligus melainkan disesuaikan dengan tahapan pendidikan usia anak. Treatmen anak berusia dini, anak-anak, remaja dan dewasa dilakukan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya jika pada usia dini 0-7 tahun pola pendekatan pendidikan sebaiknya penuh kasih sayang, mengenalkan dasar agama dan pembiasaan baik sedangkan pada usia remaja-dewasa pendekatan dialogis, musyawarah dan persahabatan harus dikedapankan.
Kendari begitu keluarga menjadi kunci dalam keberhasilan penerapan proses pendidikan sesuai tahapan tersebut. Mengapa demikian? Sebab semuanya bermula dari rumah. Waktu keberadaan anak lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di sekolah. Peran kedua orang tua yang utama sedangkan guru hanya pemegang amanah. Hanya anak yang dibesarkan dalam didikan keluarga menerapkan 3 pondasi yang mampu meniti jalan keseimbangan dan menundukkan tantangan zaman.
Zaman dari waktu ke waktu terus berubah, tak terkecuali zaman teknologi digital yang kian mutakhir ini. Kian mutakhir berarti sama dengan kian berbeda pula cara dan pendekatan dalam hal mendidik anak. Terlebih kita tahu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, FOMO, cyberbullying, termakan hoaks, kecanduan dan penurunan produktivitas adalah dampak negatif yang benar-benar harus kita hadapi sekarang.
Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Mengatur privasi ketat, membatasi penggunaan gadget, detoks medsos, memfilter konten, mengontrol aplikasi, mengontrol pertemanan di medsos, menyeimbangkan pendidikan anak, dan orang tua tidak memberi contoh buruk.
Ada pun cara melakukan detoks medsos yakni dengan menghapus aplikasi media sosial yang toxic, menonaktifkan akun sementara waktu, batasi waktu penggunaan, unfollow/mute akun tertentu, mencari hobi yang berdampak positif dan mengedepankan murajaah hafalan yang sudah ada.
Setelah kajian parenting selesai, seluruh tamu undangan bermusyafahah. Dilanjutkan dengan ramah-tamah yang terletak di teras ruangan TKIT Baitul Qur'an lawas. Semua tamu undangan melepas dahaga dengan menu yang telah dissediakan.
Berikut beberapa dokumentasi acara halal bihalal dan parenting:

.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar