Rabu, 19 November 2025

Sejarah Nabi Muhammad SAW



Gambar unduhan dari pinterest

Di sebuah rumah kecil ada seorang kakak yang sedang bercerita kepada adiknya tentag sejarah nabi Muhammad SAW. 

Kakak    : "Dik, kamu tau gak ini bulan apa? Bulan ini, bulan Maulid. Bulan dilahirkannya nabi         Muhammad SAW."

Adik       : "Nabi Muhammad SAW itu nabi kita ya, kak?"

Kakak     : "Iya. Sekarang kakak mau ceritakan kisahnya ya. Dengarkan baik-baik!"

Adik        : "Oke."

Kakak      : "Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun gajah, tanggal 12 Rabiul Awal."

Adik        : "Kenapa disebut tahun gajah, kak?"

Kakak      : "Karena raja Abrahah dan pasukan gajahnya ingin menyerah ka'bah tetapi atas perintah    Allah burung Ababil menghentikannya."

Adik        : "Oh, begitu."

Kakak     : "Iya, sekarang kakak lanjutkan ya!"

Adik        : "Oke, kak."

Kakak      : "Nabi Muhammad SAW kasihan dik, karena saat masih di dalam kandungan ayahnya sudah meninggal. Lalu saat nabi Muhammad berusia 6 tahun ibunya juga meninggal. Jadi Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya. Hayo... adik tau enggak siapa nama kakeknya?"

Adik        : "Hmmm.... Siapa ya? Oh, aku ingat Abdul Muthalib, kan kak?"

Kakak      : "Iya, betul. Tapi Nabi Muhammad SAW diasuh kakeknya tidak lama hanya sampai berusia 8 tahun. Setelah kakeknya wafat, Nabi Muhammad lantas diasuh oleh Abu Thalib, pamannya. Sejak remaja Nabi Muhammad menjadi pedagang bersama pamannya. Lalu ketika berusia 25 tahun Nabi Muhammad menikah dengan Khadeeja sehingga dikarunia 7 anak. Ketujuh anak tersebut yakni bernama Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Semua anak laki-lakinya sudah meninggal. Saat nabi Muhammad berusia 40 tahun beliau diangkat menjadi Rasulullah dengan diturunkannya surah Al-'Alaq ayat 1-5 di gua Hira. Kemudian di saat berusia 63 tahun beliau wafat di kota Madinah. Sedih sekali rasanya."

Adik        : "Hah, meninggal kenapa? Dibunuh?"

Kakak      : "Tidak. Nabi Muhammad meninggal karena sakit bukan dibunuh. Sudah ya ceritanya. Ini sudah malam. Kakak nagntuk. Besok kan harus bangun sebelum Subuh dan masuk sekolah."

Adik        : "Iya deh kak."


* Cerita ini karya ananda Najman Syarifa yang duduk di bangku kelas 5.



Minggu, 16 November 2025

Tadabur Alam Ala Perjusa

 

Dokpri Perjusa 2025 di Bumi Perkemahan Kampung Tani

SDIT Baitul Qur'an Tulungagung telah menghelat Perkemahan Jumat Sabtu (selanjutnya disebut: Perjusa) dengan penuh suka cita. Wajah-wajah sumringah melukiskan kegembiraan para siswa manakala kaki menginjak gerbang bumi perkemahan Kampung Tani. Tas digedong. Tongkat tegak digenggam. Restu orangtua mengiringi sepanjang kegiatan. 

Berpijak pada pengalaman sebelumnya, penghujung Oktober dan awal November (31/10-1/11) sengaja dipilih untuk perhelatan Perjusa. Mulanya pemilihan bulan dan tanggal ini diproyeksikan untuk menghindari musim penghujan ekstrem. Ekstrem di sini berarti hujan deras seharian tanpa henti bercampur angin kencang. 

Tapi apalah daya, pada akhirnya rencana tetap hanyalah rencana. Manusia hanya bisa merencanakan sementara qadarullah tetap berjalan. Perjusa tahun ini masih saja berselimut hujan. Kendati begitu keadaan tidak menyurutkan niat seluruh siswa-siswi untuk berkemah di buper Kampung Tani. 

Jumat, 31 Oktober 2025 pagi para siswa bertolak ke lokasi dengan diantar langsung oleh orangtua masing-masing. Petugas piket menyambut hangat kedatangan peserta kemah. Peserta diarahkan untuk mengumpulkan semua barang bawaan pribadi ataupun kelompok di pendopo. 

Beberapa ustadzah bertugas piket sementara para ustadz sibuk mengangkut barang kebutuhan kemah di sekolah. Mobil pick up sewaan jadi andalan dalam proses angkut-mengangkut. Tenda, tongkat, tambang pramuka, 2 karung beras, galon, telur, perbumbuan dapur, kompor plus gas elpiji melon, wajan, minyak dan lain sebagainya adalah barang yang harus diangkut. 

Kurang lebih 20 menit perjalanan hingga akhirnya pick up sampai di tujuan. Semua barang ditata secara gotong royong. Dewan asatidz/dzah dan siswa saling bahu-membahu meletakkan kebutuhan di pendopo. Setelah semua kebutuhan terangkut tanpa kekurangan apa pun panitia mengarahkan untuk menghelat upacara pembukaan. 

Upacara pembukaan Perjusa tahun 2025 dipimpin langsung oleh kamabigus. Dalam amatnya disampaikan, supaya seluruh peserta Perjusa khusyuk dalam momentum tadabur alam. Kegiatan Perjusa tidak lain adalah salah satu ajang hablum minal 'alam. Oleh karena itu diharapkan seluruh peserta selalu mengedepankan tutur kata dan sikap yang baik, taat pada aturan yang ada dan membiasakan izin jika hendak keluar dari lapangan utama kegiatan. 

Upacara selesai. Lima regu beserta kakak pendamping lantas mendirikan tenda masing-masing. Bambu diikat kuat menjadi tiang penyangga. Tenda berdiri tegak dikecangkan pasak yang ditancapkan ke dalam tanah. Tali pramuka menjadi pengikat dan penghubung efektif di antara bambu, pasak dan tenda. Bendera wosem, merah putih dan nyiur berkibar di depan tenda semua regu.

Satu jam setengah alokasi waktu mendirikan tenda. Muratal Al-Qur'an berkumandang merdu dari toak masjid tanda waktu menunaikan salat Jumat akan segera tiba. Seluruh peserta dan panitia laki-laki bergegas membersihkan diri. Tak berselang lama lantas seluruhnya menuju masjid terdekat dengan berjalan kaki. Terik mentari menjadi teman terbaik sepanjang perjalanan kala itu.

Satu jam penuh kami menunaikan salat Jumat dengan khusyuk. Sepulang dari masjid seluruh peserta dijamu dengan hidangan makan siang yang menggoyang lidah. Dahaga setengah hari terbayar sudah dengan makan siang. Tenaga  kembali pulih untuk melanjutkan kegiatan dengan beragam lomba. 

Lomba cerdas cermat,  archery, arum jeram dan lomba kebersihan tenda. Peserta begitu asyik mengikuti seluruh rangkaian lomba yang ada. Saking asyiknya bahkan dua anak panah inventaris sekolah sampai patah digunakan tanpa batas. Keseruan itu juga tampak dalam sesi lomba arum jeram. Dua ban inventaris buper Kampung Tani bahkan menjadi korban keaktifan anak-anak.

Rangkaian lomba dipungkas dengan turun hujan. Semua barang diungsikan ke pendopo tanpa terkecuali. Tenda yang berdiri tegak nasibnya sama persis seperti Perjusa tahun sebelumya. Basah kuyup tak ada sisa. Kendati begitu hujan deras justru menjadi momentum syahdu untuk asyik-masyuk peserta bermain.

Bendera kuyup dikibar-kibarkan. Lapangan becek menjadi arena sepak bola. Tak hanya itu bahkan sesekali mereka saling bergantian usil-mengusili. Baju kotor berlumur lumpur adalah pakaian terbaik versi mereka. Semakin kontor baju yang dikenakan kian asyik jalan permainan. 

Hujan mulai reda, semua peserta diarahkan untuk membersihkan diri di kamar mandi secara bergantian. Delapan kamar mandi pada kenyataannya tidak dapat menampung 52 orang peserta dalam waktu yang singkat. Empat puluh menit berlalu hingga akhirnya seluruh peserta selesai mandi dan siap menunaikan salat Asar dengan berjamaah. Ustadz Lazim tampil sebagai imam pada sesi salat berjamaah di pendopo ini.

Sembari menunggu waktu salat Magrib tiba seluruh peserta murojaah juz 30 bersama-sama dengan dipandu oleh dua orang yang hafalannya mudqin. Ananda Maqfiroh dan Abdul tampil dalam sesi ini. Kegiatan ini berakhir menjelang persiapan salat Magrib. 

Waktu Magrib tiba, beberapa siswa kembali mengambil air wudhu. Salat Magrib berjamaah ditunaikan dengan diimami oleh ustadz Roni. Setelah dzikir, siswa kembali melanjutkan murojaah dan disambung dengan makan malam. 

Kumandang azan terdengar lantang dari toak masjid menandakan waktu salat Isya telah tiba. Seluruh peserta segera menuntaskan makan malam dan merapikan tempat salat. Tak ketinggalan, Ananda Fadil mengambil peran sebagai muazin sedangkan Ananda Alka bersemangat melantunkan iqomah. Ustadz Imam tampil sebagai imam salat Isya.

Sesuai jadwal yang berlaku setelah salat Isya seharusnya momen api unggun. Akan tetapi karena kondisi di luar hujan belum reda total dan lapangan masih basah kuyup akhirnya jadwal diganti dengan nonton film bersama. Film diputar sesuai request peserta hingga waktu meraih mimpi. Saat beberapa film pendek horor diputar banyak wali siswa yang melakukan kunjungan. Sedangkan beberapa peserta sibuk menyeduh pop mie dengan kompor portebel yang mereka bawa.

Selain itu belum juga film berakhir diputar sudah ada beberapa siswa yang terlelap. Kegiatan hari pertama kemah ini ternyata lumayan melelahkan dan membuat mata berat menahan kantuk. Cuaca dingin seakan-akan meninabobokan sebagian di antara peserta dengan cepat. 

Waktu salat Subuh tiba. Satu persatu peserta dibangunkan untuk segera mengambil air wudhu. Sementara itu panitia pawon yang kebetulan sedang berhalangan semua sibuk menanak nasi, sayur dan lauk pauk yang akan dihidangkan untuk sarapan. Salat Subuh berjamaah ditegakkan dengan diimami oleh Ustadz Lazim. Lantas dilanjutkan dengan dzikir dan tadarus bersama mengkhatamkan juz 30.

Merenggangkan otot tubuh dengan olahraga pagi adalah kegiatan selanjutnya. Sesi olahraga diinstrukturi oleh kaka Nanda dan Fafa selaku pelatih pramuka dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dua puluh menit senam pagi cukup menyegarkan tubuh. Senam selesai, peserta diarahkan untuk membersihkan lingkungan sekitar, makan dan mandi pagi.

Setelah paras semua peserta ganteng dan cantik, pengumuman dikumandangkan bahwa kegiatan selanjutnya yakni apel pagi, hiking, lomba yel-yel dan sandi. Kegiatan lomba pamungkas ini dibingkai dalam satu kali jalan dalam kegiatan hiking. Jadi dalam kegiatan hiking ini memiliki enam pos utama yang di dalamnya meliputi pos yel-yel, sandi, kreativitas dan kekompakan. Setiap pos diisi oleh dua panitia penilai.

Rute hiking dibuat agak jauh jika dibandingkan dengan rute 2 tahun sebelumnya. Melewati pinggir sungai, pematang sawah, area pemakaman hingga pinggir jalan raya. Hiking dilakukan saat kondisi tanah masih belum benar-benar kering, sisa hujan semalam. Kita mungkin bisa membayangkan bagaimana kondisi sepatu para peserta.

Selepas hiking kegiatannya adalah istirahat sejenak, bersih-bersih dan salat dzuhur berjamaah. Kali ini ustadz Singgih tampil sebagai imam. Salat selesai, dilanjut sesi bersih-bersih dan bongkar tenda. Tak lama berselang, apel penutupuan berlangsung. Semua barang bawaan kembali diangkut ke mobil pick up hingga tak tersisa.

Selebihnya sayonara. Seluruh siswa dijemput kembali oleh orang tua masing-masing. Melalui kegiatan Perjusa ini semoga seluruh siswa-siswi semakin cinta terhadap alam. Utamanya peduli akan kebersihan dan sadar akan pentingnya kelestarian seluruh ekosistem yang ada di alam demi kelangsungan generasi selanjutnya. 








Minggu, 26 Oktober 2025

Ada Tawa di Trial Claas Perdana

 

Dokpri Kegiatan Trial Class Perdana SDIT Baitul Quran

SDIT Baitul Qur'an sukses menghelat Trial Class perdana. Kegiatan Trial Class merupakan salah satu dari rangkaian program Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2025/2026. Perhelatan Trial Class dalam SPMB tahun ajaran baru ini diagendakan sebanyak tiga kali. Sabtu, 18 Oktober 2025 menjadi momentum yang perdana.

Sejumlah 116 peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Para peserta berasal dari beberapa lembaga sekitar di antaranya: TKIT Baitul Qur'an, TK Dharma Wanita Simo, TK Dharma Wanita Ketanon, TK Sahara Winong dan TK At-Taqwa. Mayoritas peserta hadir diantar langsung orang tua masing-masing. 

Rupa-rupa warna seragam yang dikenakan peserta secara tidak langsung mengidentifikasi dari mana mereka berasal. Umumnya seragam anak TK selalu cerah ceria. Tampil mencolok jika dibandingkan dengan jenjang sekolah lain. 

Warna cerah dipandang sangat menarik bagi anak-anak. Kuncinya: warna menarik mudah dikenal dan diingat. Alhasil, merujuk pada warna pakaian yang sama maka dengan mudah mereka  dapat mengenal di mana teman satu sekolah berkumpul. Disadari atau tidak, bagi mereka kelompok adalah zona nyaman saat berada di tempat baru. 

Kurang lebih setengah delapan para peserta mulai datang berduyun-duyun. Orang tua diarahkan memarkir motor di tempat yang telah disediakan panitia. Lantas, mengisi absensi registrasi untuk mengambil nomor peserta. Nomor dipasang di dada sebelah kanan. 

Sebelum memasuki ruangan, seluruh peserta dibimbing duduk di teras TKIT Baitul Quran. Setelah seluruh peserta memenuhi kuota pendaftaran barulah dikondisikan di tempat khusus. Halaman utama menjadi saksi bisu para peserta berkumpul. 

Ustadzah Asna, Ustadzah Rini dan Ustadzah Safina tampil memandu rangkaian acara. Para peserta diberi penjelasan mengenai tahapan kegiatan yang akan dijalani beberapa jam ke depan. Tak lupa, sebagai pendekatan, MC memperkenalkan dewan guru yang bertugas, nama sekolah hingga yel-yel khusus Trial Class. 

Agenda dimulai dengan tahfidzul qur'an. Surat-surat pendek dibaca bersama dengan dipandu guru tahfidz. Ustazdah Manda dkk tampil ciamik dalam sesi ini. 

Tak berselang lama, kegiatan dilanjutkan senam pagi. Ustadzah Widya dkk dengan lihai memandu satu gerakan menuju gerakan yang mengasyikkan sekaligus candu. Saking candunya mayoritas peserta sepakat mengulang senam hingga dua kali putaran. 

Senam selesai disambung dengan lomba estafet bendera. Dalam sesi ini para peserta dibuat menjadi beberapa kelompok. Sebelum memindahkan bendera, mereka harus melompati empat garis terlebih dahulu. Garis-garis tersebut dibuat secara organik dari arang yang digoreskan.

Dewan juri membelakkan kedua mata dengan selebar-lebarnya untuk menentukan kelompok mana yang finish terlebih dahulu. Sebegai hadiah, para pemenang mendapatkan snack yang telah disediakan panitia. Sorak sorai gembira mewarnai alur perlombaan. 

Peserta yang sudah lomba estafet digiring untuk melakukan lomba menyusun kata. Huruf demi huruf disusun untuk membentuk satu kata yang baik dan benar. Huruf yang bercecer tersebut lantas ditempel di kertas hvs yang telah disediakn petugas. Setiap kelompok yang berhasil menyelesaikan tantangan maka mendapatkan hadiah snack.

Mewarnai tas jinjing menjadi kegiatan pamungkas para peserta. Tas kanvas yang berpola gambar tertentu diberikan secara merata. Pola gambar yang harus diwarnai para peserta yakni bunga matahari, gunung berlatar pohon kelapa, perahu dan gurita. 

Mulanya panitia hanya menyediakan tas kanvas dengan pola gambar gunung berlatar pohon kelapa. Akan tetapi seiring dengan membludaknya pendaftaran peserta akhirnya panitia harus memesan tas kanvas polos. Tak kehabisan akal, pada akhirnya panitia membuat pola gambar manual secara mandiri.  

Pola gambar bunga matahari, perahu dan gurita adalah bukti konkret dewan guru memiliki jiwa seni yang tinggi. Meski kemudian hasilnya harus diakui, jauh dari kesempuranan. Tapi sungguh tidak masalah. Justru yang demikian menunjukkan kreativitas yang murni. 

Pukul sepuluh tepat, kegiatan Trial Class perdana akhirnya rampung. Lagu illa liqo dikumandangkan lantas dipungkas doa kafaratul majelis. Tas kanvas yang telah diwarna diberikan kepada para peserta sebagai oleh-oleh. 

Sebegai penyempurna masing-masing anak diberikan jus buah semangka, melon dan susu serta donat. Tak ketinggalan brosur pendaftaran SPMB Tahun Ajaran 2025/2026 turut dimasukkan ke dalam tas kanvas setiap anak. Setidaknya ada pergerakan double movement yang telah panitia lakukan selain memberikan pengenalan dan pengetahuan seputar profil SDIT Baitul Quran yang didapuk oleh ketua yayasan langsung. 

Ya, memang kami mafhum betul, bahwa dalam menentukan jenjang sekolah lajutan itu tergantung pada dua belah pihak. Anak yang berkeinginan dan orang tua yang merestui. Jika keinginan dan restu kedua belah pihak tidak bertemu jangan harap proses pendidikan akan berjalan dengan baik. Sebab berpendidikan itu akan sukses jika dijalani dengan sungguh-sungguh dan keridaan antara anak dan orang tua yang menyokong plus medoakan. 

Akhirnya kami (panitia) harus dengan tulus dan jujur harus menyatakan, semoga kegiatan trial class ini menggugah hati anak dan orang tua yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Besar harapan trial class dapat menambah kuantitas keluarga besar SDIT Baitul Qur'an di tahun jaran 2025/2026. Allahuma Amin.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan trial class perdana SDIT Baitul Qur'an:
 








Minggu, 14 September 2025

Ghirah Mading Sekolah

Dokpri Mading Sekolah


SDIT Baitul Quran kembali berusaha menghidupkan tradisi baik. Tradisi baik tersebut yakni mengisi mading sekolah dengan ragam hasil karya siswa. Sebenarnya tidak hanya siswa, guru pun memiliki kesempatan berpartisipasi di dalamnya. Ragam karya mulai dari cerpen, puisi, pantun, komik hingga gambar bercerita sesuai tema. 

Tema yang diusung pada bulan kemerdekaan ini adalah hikmah di balik kemerdekaan. Kemerdekaan merupakan momentum sakral yang kerap kali kita peringati setiap tahun. Peringatan yang menandakan bahwa kita sebagai warga Indonesia mengakui dan menerima akan sejarah bangsa Indonesia yang ada. 

Jika boleh jujur, mading utama sekolah belakangan memang sempat vakum. Kurang lebih sekitar tiga tahun terakhir mading itu lengang. Ada kemungkinan hal ini dipicu karena sumber daya manusia sekolah terlalu fokus menghidupkan mading kelas masing-masing. Alhasil tidak sempat meluangkan waktu untuk menghidupkan mading utama sekolah.

Harus diakui dengan saksama, beberapa tahun terakhir memang ada program kerja semesteran untuk perlombaan mading dan kebersihan kelas. Kelas-kelas ditinjau dengan ketat-disiplin dan diberi penilaian. Hasilnya, para pemenang akan diumumkan setiap awal bulan. Tepatnya selepas upacara bendera selesai. 

Sertifikat diberikan. Wajah sumringah tertengger jelas di kedua bibir para siswa. Jika kemenangan dalam kurun satu semester sudah sampai pada batas mamksimal maka kelas yang bersangkutan akan diberikan reward. Reward yang dapat dirasakan seluruh penghuni kelas tak terkecuali wali kelas di dalamnya. 

Selain itu beberapa waktu sempat pula mading itu hanya diisi dua elemen utama, yakni buletin sekolah dan barcode absensi dewan guru. Pemandangan yang tentu saja tidak ramah untuk mata. Sebab, apa yang dipajang tidak sesuai konteks dari eksistensi mading sekolah itu sendiri. 

Nasib mading utama sekolah dibahas tuntas dalam rapat tahunan awal pelajaran 2025/2026 tahun ini. Hasilnya, disepakati bahwa mading utama sekolah menjadi tanggung jawab semua kelas. Masing-masing kelas akan mengisi mading secara bergilir dan terjadwalkan dengan baik. Sebagai pelopor, kelas 6 tampil perdana. 

Agustus menjadi bulan pembuka mading utama sekolah terisi. Secara tersirat, kelas 6 ternyata mengusung tema di luar konteks dengan tema Hobiku (My Hobbies). Kendati begitu apabila ditelisik lebih jauh, pada kenyataannya karya-karya seputar hobi para siswa tetap ada korelasi dengan semangat kemerdekaan. 

Hal itu dapat ditinjau dari ragam olahraga dan permainan yang sering diperlombakan dalam semarak peringatan hari kemerdekaan. Lha, emang iya? Contohnya olahraga dan permainan apa? Sepak bola, voli, renang, memancing, layangan hingga memasak. 

Tidak sedikit cabang olahraga, permainan dan kegiatan yang dideskripsikan para siswa menjadi andalan dalam momentum kemerdekaan. Sepak bola dan voli adalah olahraga yang gencar dipentaskan sekaligus digandrungi masyarakat dalam perhelatan Agustusan. 

Tidak hanya olahraga, kreativitas masyarakat khususnya Tulungagung bahkan terus berkembang hingga ada budaya karnaval berjilid-jilid. Karnaval yang bertajuk detik-detik kemerdekaan, hasil bumi, daur ulang, baju adat hingga ragam profesi memadati jalan raya sesuai rute. Semua orang tumpah ruah ke jalan.

Semarak kemerdekaan terbaru yang sempat viral di berbagai platform media sosial adalah lomba pacu jalur. Perlombaan tradisional dayung perahu yang berasal dari Kuantan, Singingi, Provinsi Riau. Festival tahun 2025 menjadi medan magnet yang begitu besar. Yang demikian dibuktikan dengan dihadiri para pejabat penting, mulai dari Wakil Presiden, tiga Menteri dan Duta Besar. 

Kembali ke topik. Semoga kebangkitan mading sekolah ini menjadi salah satu wadah terbaik untuk menyalurkan kreativitas para siswa. Sudah selaiknya para siswa mengekspresikan inspirasi, ide dan gagasannya dalam berbagai bentuk karya secara merdeka. Selebihnya terselip doa: Semoga potensi literasi diri para siswa terus menggeliat dan mengentas. Tabik!
 

Senin, 01 September 2025

Menghayati Semangat Kemerdekaan

 

Dokpri flyer PHBN HUT RI ke-80

"Maka, berlombalah dalam berbuat kebaikan..." QS. Al-Maidah: 48

SDIT Baitul Qur'an (19/7/2025) menghelat peringatan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80 dengan outing class. Outing class dilaksanakan di Office Taman Ngrowo, Sembung. Fokus utama kegiatan ini yakni menularkan semangat perjuangan dalam momentum kemerdekaan. 

Momentum ini dimeriahkan dengan berbagai lomba. Mulai dari lomba individu dan kelompok. Perhelatan lomba individu meliputi balap karung, makan kerupuk, pukul jan bedak, dan paku botol. Sedangkan estafet kelereng, tarik tambang, estafet karet dan angkat botol karet adalah kategori lomba kelompok.

Sumringah terpancar jelas dari wajah para siswa. Ekspresi mereka seakan-seakan sedang menegaskan satu pernyataan yang telah lama terpendam: "Momentun seperti inilah yang kami tunggu. Coba saja setiap hari konsep belajar di sekolah seperti ini. Kami senang, guru suka. Kesenangan itu kian bertambah manakala kegiatan dipungkas dengan pembagian hadiah yang sama rata."

Kalimat itu hanya terbenam kuat dalam benak mereka. Anak-anak memang memiliki dunianya sendiri yang mungkin bersebrangan dengan orang dewasa. Akan tetapi fantasi dan kesenangannya tidak mesti harus dituruti setiap waktu. Harus ada tarik ulur dan pembatasan untuk menjaga keseimbangan daya juang mereka. 

Jikalau semua kesenangan, harapan dan keinginan semua anak dikabulkan dengan mudah takutnya hanya akan membangun persepsi bahwa segala sesuatu berada dalam genggamannya. Tentu hal itu sangat berbahaya. Sebab dapat menempatkan anak dalam kesombongan, malas berjuang dan menganggap sepele apa yang ada di sekitarnya. 

Melalui peringatan HUT RI ke-80 dengan beragam lomba inilah kami berusaha menanamkan sikap jihad (perjuangan), fastabiqul khairot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan ukhuwah islamiyah (persatuan-kesatuan di antara siswa dan lingkungan). Perlombaan ini menyiratkan bahwa dalam setiap momentum semua siswa memiliki kesempatan yang sama. Sisanya hanya tergantung kemauan masing-masing siswa, mau mengambil kesempatan atau tidak.

Opsi berani mengambil kesempatan tentu lebih baik daripada tidak pernah mencoba. Anak-anak memang harus belajar mendobrak rasa minder, takut dan malu. Semuanya itu akan runtuh jikalau anak diberi kesempatan dan ruang yang memadai untuk mengekspresikan diri selama itu dalam hal kebaikan. 

Kemerdekaan dalam diri siswa hanya akan hadir manakala mereka mau berproses dan bertindak. Proses dan tindakan yang dilalui ini akan berdampak pada hasil yang dituai. Proses yang baik tentu akan melahirkan hasil yang baik. Karena alasan inilah pentingnya kita mempertimbangkan  proses.

Kesibukan kita yang hanya fokus pada penilaian hasil akhir adalah salah satu bukti sikap keegoisan kita. Sikap purbakala yang sudah seharusnya diubah sejak saat ini juga. Sikap arogansi yang menegaskan bahwa kita tidak pernah ingin tahu bagaimana perjuangan dalam meniti proses itu ditegakan. 

Proses jatuh bangun, meniti jalan terjal dan sederet pengorbanan yang dilakukan sudah seharusnya kita berikan apresiasi. Bukan sebaliknya, air susu dibalas air tuba. Perjuangan dan pengorbanan tidaklah pantas dibalas dengan caci maki dan ketidakpuasan. 

Sebab jika melulu demikian, yang terpatri dalam benak siswa adalah perasaan terkekang. Terkekang dengan ekspektasi dan tekanan yang diberikan oleh orang tua. Keadaan tersebut sungguh tidaklah baik untuk pertumbuhan anak, lambat laun hanya akan menumbuhkan mental yang tidak sehat.     

Besar harapan melalui outing class dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-80 semua siswa dapat mengekspresikan diri dengan leluasa. Otot kepala yang biasanya tegang selama di kelas semoga rileks dan stabil sehingga mental dan pikiran mereka terasa fresh kembali.  

Selain itu, semoga semua siswa senantiasa mau-mampu mengambil kesempatan untuk melakukan segala suatu kebaikan. Tentu semua itu dilakukan dalam ajang menggalakan fastabiul khoirot. 

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan:













Rabu, 23 Juli 2025

Guru Handal di Era Digital

 

Dokpri flyer kajian dan upgrading hari kedua

Selain berusaha membentuk sumber daya lembaga: pendidik dan tenaga pendidik yang profesional dan disiplin, Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an juga mendorong untuk menjadi guru yang bersahaja dengan perkembangan teknologi mutakhir. Tidak kudet dan anti teknologi. Sebab guru pada kenyataannya harus menghayati perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa guru harus mendidik murid sesuai zaman. 

Kiranya khalayak saksama sudah mafhum dan sepakat, kita hidup di zaman era digital. Hampir semua aspek kehidupan umat manusia telah disusupi teknologi digital. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder hingga tersier. Semuanya dimudahkan dalam hitungan detik. Tak terkecuali keberlangsungan dunia pendidikan, di mana teknologi hadir mengakomodir berbagai aspek. Utamanya aspek kognitif dan afektif. 

Sedangkan aspek psikomotorik masih menjadi bahan perdebatan karena memang teknologi digital akhir-akhir ini menjadikan penggunanya sebagai manusia ruang. Manusia yang betah menghabiskan waktu di satu ruangan. Di ruangan itulah kita sibuk scroll layar gadget sambil rebahan. Itu artinya di satu sisi gemerlap teknologi digital menjerumuskan kita dalam jurang kemalasan. 

Tak hanya itu, di lain sisi, aspek psikomotorik generasi kita sekarang sedang tidak baik-baik saja. Sindrom TikTok tak habis-habisnya menggempur anak-anak. Bukan lagi pemandangan yang aneh manakala kita kerap kali mendapati anak-anak kalap berjoget di hampir semua tempat. Mirisnya lagi, gerakan-gerakan yang viral di aplikasi itu mendikte mereka untuk terus menggerakkan tangan tanpa henti. Bahkan saat berkendara di jalanan, belajar di ruang kelas, mengaji dan salat di masjid, saat bermain bersama teman sejawat hingga sesaat sebelum memejamkan mata. 

Seakan-akan mengikuti gerakan yang sedang viral itu hebat, lebih berarti dari apa pun. Mengikuti gerakan viral seakan-akan lebih baik daripada menghabiskan waktu untuk berbakti kepada orangtua. Mengikuti gerakan velocity seakan-akan lebih berpahala dibandingkan khusyuk mengaji. 

Padahal, mengikuti tren gerakan itu hanya sia-sia belaka. Tidak keren sama sekali. Lebih keren menjadi anak yang gemar menggerakan tangan untuk hal berarti: menyapu, mencuci, merapikan rumah dan menghabiskan energi untuk membantu sesama. Mayoritas manusia lupa, bahwa semua anggota tubuh kita akan dihisab di akhrat kelak.

Fakta yang demikian tentu saja menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Mungkin benar, sempat ada segelintir oknum guru yang justru mengajak para murid untuk joget TikTok masal di sekolah. Namun manfaatnya apa? Viral saja kiranya tidak cukup sebab peran guru lebih dari itu dan lebih baik lagi. 

Dalam rangka mengakomodir kemutakhiran teknologi digital untuk hal positif di lingkungan sekolah maka yayasan menghadirkan Dr. Khabibur Rahman, M. Pd. Dosen matematika Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Beliau membuka kajian dengan penegasan, dahulu sebelum teknologi digital semutakhir sekarang beliau memprediksi, bahwa hanya ada dua aspek kehidupan manusia saja yang tidak akan tersentuh kecanggihan teknologi. Yakni dunia pendidikan dan kesehatan. Akan tetapi, sekarang, pandangan itu beliau revisi. Faktanya, teknologi sudah menyisir ceruk percaturan dunia pendidikan dan kesehatan.

Sebagai bukti konkret, salah satu kampus di Amerika adalah pelopor kuliah dengan bantuan dosen kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Di Indonesia sendiri kampus Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) digadang-gadang sebagai salah satu kampus pelopor yang menggunakan kecerdasan buatan bernama Alpha dalam perkuliahan. Hal ini menegaskan bahwa peran guru sebagai transfer knowledge hampir purna telah terakomodir. Kehadiran dosen di ruang-ruang kelas sudah dapat digantikan dengan AI. 

Sebelumnya mungkin khalayak juga telah merasakan belajar dengan konsep dari jarak jauh selama covid-19 menjangkiti seluruh dunia. Meski dalam prakteknya ada peran sosok guru di balik layar namun tetap saja tidak mampu melakukan intekasi sosial dalam yang sama. Ada sekat jarak yang tampak dekat karena disatukan frekuensi koneksi internet. 

Yang demikian adalah lompatan-lompatan jauh yang mungkin sebelumnya tidak terprediksi dengan baik oleh guru masa lalu. Akan tetapi guru harus mampu beradaptasi dengan cepat. Belajar mengaplikasikan teknologi hingga menguasai dengan baik. Sebab hanya dengan cara itulah kita bisa mengontrol, membimbing dan menempatkan diri sebagai teladan di zaman yang serba disrupsi. 

Jika sebelum AI hadir pengguna teknologi masih bisa membedakan berita hoak, penipuan dan scamming dengan baik, maka di era AI semuanya jadi mendekati sama persis. Seorang penipu tidak lagi menggencarkan aksinya via telepon dan pesan, kini sudah zamannya sudah menggunakan video call, foto dan tutur kata yang sama persis dengan korban. AI di zaman sekarang sudah kian canggih hingga dapat mengkloning setiap bagian dari sisi seseorang. Terkecuali sisi spiritualitas yang bersemayam di dalam jiwa manusia. Inilah celah yang tidak dapat ditutup.

Kemampuan AI demikian sudah selaiknya dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Ada begitu banyak aplikasi dan software yang sangat membantu kelangsungan kegiatan belajar mengajar selama di sekolah. Lantas, apa saja aplikasi yang dapat menunjang optimalisasi pembelajar?

Beberapa tools AI yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran guru di antaranya ialah Canva, Gamma, pippit AI, Plixi AI, Curipod, Gemini, Chatgpt, Suno, Elevenslars, Kahoot/Quizizz. Masing-masing tools tersebut memiliki fungsi spesifik yang berbeda. 

Apabila guru hendak meningkatkan kreativitas dalam membuat materi pembelajaran yang menarik, mudah disampaikan, dan mendorong kolaborasi antara guru dengan murid namun disampaikan dalam waktu yang efektif maka dapat memanfaatkan aplikasi canva. Melalui canva guru dapat berkreasi sesuka hati dan mengembangkan ide pembelajaran yang inovatif melalui visual yang imajinatif. 

Saat guru hendak mengajarkan cara membuat artikel, cerita pendek atau puisi kepada murid dalam waktu yang singkat maka dapat menggunakan aplikasi Gemini/Chatgpt. Melalui aplikasi ini murid bisa membuat artikel dengan format dan kerangka terstruktural yang baik sesuai dengan instruksi bertahap, detail dan akurat. Rumusnya semakin akurat dan detail perintah maka hasilnya akan baik. Kendati begitu tools ini memiliki limit tertentu dalam setiap hari. 

Ada pun saat murid belajar mata pelajaran seni budaya dan prakarya, utamanya dalam mengenal nada dan pembuatan musik guru dapat membimbing untuk menggunakan aplikasi Suno. Melalui tools ini murid dapat mengubah teks, gambar, video atau suara ke dalam bentuk nada-nada lagu dan komposer yang sesuai. Alhasil, murid dapat merasakan peran sebagai pencipta lagu dalam kurun waktu yang singkat.

Sedangkan manakala guru hendak melakukan evaluasi pembelajaran menarik dan menantang dalam bentuk game, guru dapat memaksimalkan fungsi dari aplikasi Khoot/Quizizz. Evaluasi berbasis game dapat memantik semangat, antusias dan partisipatif serta jiwa kompetitif murid berkali-kali lipat. Terlebih, murid dapat memantau papan peringkat skor secara langsung. 

Kendati begitu bukan berarti semua mata pelajaran mampu diakomodir tuntas dengan mengandalkan tools AI. Ada sisi aspek psikomotorik dan spiritual yang sama sekali tidak dapat ditembus oleh AI dalam prakteknya. Yang demikian terjadi karena memang secanggih-canggihnya AI sejatinya tidak memiliki common sense seperti manusia asli. 

Atas dasar demikian peran guru akan tetap relevan manakala guru mampu menjadi role model (keteladan) dari segi akhlak dan spiritual tanpa mengesampingkan penguasaan atas kecerdasan buatan yang marak saat ini. Menjadi guru handal digital dengan perangai yang mulia (akhlakul karimah) dan kematangan spiritual adalah kunci utama. Gebrakan yang dihadirkan AI ini tentu menambah khazanah media dan metode pembelajaran. 

Ingatlah pesan Albert Einsten, kecerdasan seseorang sejatinya terletak pada kemampuannya untuk terus berubah dan beradaptasi di jantung hiruk-pikuk zaman. Untuk itu mari kita gunakan kemutakhiran teknologi digital dalam hal positif. Dalam hal meng-upgrade skill personal misalnya. Tabik![]






Selasa, 22 Juli 2025

Membangun Karakter Guru di Era Baru

 

Dokpri flyer kajian dan upgrading

Gelar pahlawan tanpa jasa melekat kuat pada peran guru. Penyematan gelar tersebut tak lain karena mengacu pada tugas pokok dan fungsi guru dalam mencetak generasi bangsa. Tagline Indonesia Emas 2045, salah satunya, tentu hanya akan dicapai manakala dunia pendidikan mampu memaksimalkan kiprahnya: menyediakan sarana-prasarana, sistem dan pembentukan karakter generasi hebat melalui peran guru. 

Peran guru di era digital--teknologi mutakhir--saat ini memang penuh tantangan. Terlebih, berbagai pengetahuan telah tersimpan di big data dapat diakses sewaktu-waktu melalui search engine seperti Google, Bing, Baidu, Yahoo dan lain sebagainya. Apa pun yang kita inginkan dapat digenggam dalam hitungan detik. Semua itu tergantung kecepatan internet yang kita miliki.

Dalam hukum kausalitas positif, yang demikian menunjukkan peran guru sebagai transmisi pengetahuan telah terbantu. Murid tidak lagi bergantung pada satu sumber melainkan sebaliknya: Disodorkan berbagai sumber pilihan sesuai kebutuhan. Ketidakmampuan memfilter sumber yang valid, bersifat objektif dan sesuai realitas adalah salah satu kelemahan yang harus dihadapi murid. 

Kendati teknologi digital senantiasa menawarkan tsunami data tentang sesuatu yang kita cari namun faktanya alat itu tidak pernah menyentuh aspek humanis: emsional dan keteladanan. Data yang dibaca melalui layar gadget tak ada sentuhan perasaan--kering akan ekspresi dan kontak fisik--sebagaimana guru berhadapan langsung di dalam ruang kelas. Alhasil menjadikan user lupa bagaimana cara mengekspresikan perasaan dalam interaksi sehari-hari. Tidak hanya itu, sikap tempramen, malas dan tidak peduli terhadap lingkungan serta lupa waktu menjadi ancaman yang serius bagi user. 

Coba bayangkan, user tersebut adalah anak-anak (murid) kita? Lantas, bagaimana jika yang demikian itu melanda seluruh generasi bangsa? Tentu ironi yang berlapis bahkan tak berujung akan menambah huru-hara nasib peradaban bangsa. 

Dalam konteks inilah pentingnya meng-upgrade kemampuan dan mengoptimalkan peran guru di satuan lembaga pendidikan dari waktu ke waktu harus digalakan. Utamanya peran guru menurut Ki Hadjar Dewantara tidak hanya sebagai penuntun dan teladan melainkan bertanggungjawab mengembangkan potensi murid sesuai karakter bangsa. Sedangkan, generasi bangsa adalah aspek fundamental dalam menentukan arah gerak peradaban.

Terkait hal itu, yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an menghelat kajian dan upgrading dengan tajuk: Wawasan Kebangsaan dan Terbentuknya Lembaga Pendidikan yang Nyaman, Disiplin dan Rapi. Kegiatan ini mulanya hendak diisi oleh Komandan Rayon Militer (Danramil) 0807/03 Kedungwaru Tulungagung, yakni Kapten Armed Sugiharto. Namun beliau berhalangan hadir, sehingga digantikan oleh Sertu Mashul Wani. 

Beliau menegaskan bahwa bangsa Indonesia ini terbentuk dan berdiri atas dasar persatuan, kesatuan dan kehendak bersama untuk merdeka. Semuanya itu ditempuh dengan cara yang tidak mudah. Ada pengorbanan darah, nyawa dan bersatunya ideologi berbangsa dan bernegara yang harus ditebus. Itu artinya mengutamakan kepentingan bersama dibanding parsial. Ego sektoral yang berbasis etnis, suku, bahasa dan ideologi serta agama dikesampingkan: sembari mencari titik temu demi kemaslahatan bersama sesuai mufakat.

Pengorbanan di balik persatuan dan kesatuan tersebut tentu melahirkan konsep jiwa nasioalis dan patriotis. Kita semua mafhum, bahwa kedua sikap itu lekat dalam tubuh tentara nasional indonesia (TNI). Maka tak ayal jika menyoal kepahlawanan--yang di dalamnya memuat kedisiplinan, loyalitas dan keberanian--dalam konteks mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara taktis dan fisik kita banyak berkiblat pada TNI. Inilah alasan utama kenapa satuan lembaga kerap bermitra (menghadirkan) tentara untuk membangkitkan kedisiplinan dalam diri dewan guru dan murid.

Benang merah bertemu. Pahlawan tanpa tanda jasa harus belajar banyak pada pahlawan dengan tanda jasa. Karakter tentara yang tegas, disiplin dan berani serta siap berkorban inilah yang hendak ditiru. Kunci utama yang hendak diaplikasikan adalah bagaimana mampu memanajemen diri di antara semua kepentingan yang ada. Setiap orang memiliki waktu 24 jam dalam setiap hari, akan tetapi dalam praktiknya akan berbeda-beda. Berbeda dalam arti pemanfaatan dan penggunaannya. Ada istilah waktu efektif dan tidak; Ada waktu utama dan terbuang sia-sia. 

Soal manajemen waktu kita bisa belajar dari bagaimana seorang tentara menjalankan tugas di medan tempur. Akurasi waktu sesuai komando menjadi acuan. Bergulirnya waktu adalah medan untuk berpacu menjalankan misi dengan baik. Meleset sedikit, nyawa jadi taruhan. Salah memperhitungkan waktu akan menelan kekalahan. 

Ditegaskan, manajemen waktu tersebut dimulai dengan menata jadwal harian personal. Setelah jelas, aturlah diri untuk melakukan kegiatan sesuai jadwal yang ada. Upayakan ada tenggat waktu dari satu kegiatan ke kegiatan selanjutnya. Hindari sikap menyepelekan waktu: Tergesa-gesa dan molor. Jika manajemen diri telah bekerja dengan baik maka akan berdampak pada tanggung jawab yang bersifat publik. Dengan demikian, bekerja dengan disiplin dan tertib akan mudah dijalankan. 

Rumus utama dalam menjalankan manajemen diri adalah adanya usaha dan sanksi. Sikap mengupayakan on time dalam melakukan kegiatan sesuai jadwal harian harus ditegakkan. Sebaliknya, jika diri melanggar jadwal harian maka jangan sungkan untuk memberi sanksi. Sanksi tersebut dapat disesuaikan dengan batas kemampuan. Namun demikian bukan berarti pula kita harus melulu bersikap lembek terhada diri. 

Perlu dicatat bersama, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Begitu pula dengan eksistensi satuan lembaga pendidikan, jika hendak maju harus dimulai dengan mengarusutamakan upaya perbaikan demi perbaikan secara bertahap. Harus diingat bersama, pohon tidak pernah berbuah tanpa berbunga. 

Melalui upgrading ini kami berharap seluruh sumber daya manusia lembaga: pendidik dan tenaga pendidik dapat melejit. Bukan hanya profesionalitas dalam bekerja melainkan menjadi pembimbing dan teladan (role model) dalam menanamkan kedisiplinan--semangat menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan baik--di lingkungan lembaga. Jika sudah demikian tentu ghirah yang dibumikan dengan mudah akan menular kepada seluruh murid.

Harapan kami terpancang kuat, bunga yang telah mekar itu lekas jadi buah. Buah yang matang marun, besar dan manis semoga dapat dirasakan manfaatnya oleh khalayak masyarakat sekitar. Amin.



Minggu, 15 Juni 2025

Khidmatnya Haflah Akhirussanah LPIT Baitul Quran

Dokpri Banner Tasmi' dan Haflah Akhirussanah

Momentum bahagia sekaligus haru yang dinantikan para siswa-siswi di sekolah adalah purnawiyata. Purnawiyata adalah puncak dari proses panjang kegiatan pembelajaran selama di sekolah. Satu tahapan lebih tinggi setelah dilaksanakan kelulusan. 

Kelulusan sekolah berbagai jenjang sejak dulu hingga kini memiliki standar berubah-ubah. Mulai dari Ebtanas, Ujian Nasional hingga Sumtif Akhir Jenjang. Transformasi standar pedoman pelaksanaan pendidikan seiring pergantian kurikulum setiap lima tahun sekali. Singkatnya, ganti menteri pendidikan ganti kurikulum. 

Ganti kurikulum berarti ganti skema, strategi dan konsep yang diusung termasuk di dalamnya mengubah beberapa istilah yang kerap digunakan di dunia pendidikan. Dari sekian banyak istilah, purnawiyata menjadi salah satu yang dipersoalkan. Persoalan yang belakangan begitu santer menjadi bahan perbincangan hangat karena ada proses yang dipandang memberatkan. 

Hal itu terjadi karena selama ini purnawiyata karap dihelat di luar sekolah yang menuntut mengeluarkan budget yang terbilang tidak sedikit. Mulai dari pemilihan tempat di hotel, diharuskan membeli baju kebesaran wisuda: toga dan lain-lain, pembuatan seragam khusus,  biaya make up hingga iuran untuk konsumsi. 

Tidak hanya itu, persoalan pun kian kompleks manakala menemukan fakta bahwa penggunaan istilah purnawiyata bersifat majemuk. Ada yang menyebut perpisahan, wisuda, pelepasan, tasyakuran, haflah akhirussanah dan lain sebagainya. Meski begitu penggunaan istilah wisuda adalah yang populer digaungkan di kalangan masyarakat. 

Maraknya penggunaan istilah wisuda inilah yang problematik. Sebab dipandang tidak cocok, berlebihan dan mendistorsi sekaligus menghilangkan sakralitas proses pendidikan di perguruan tinggi. Mengapa demikian? Sebab prosesi wisuda dan penggunaan baju kebesaran-toga mengakar rumput (baca: menjadi budaya) di perguruan tinggi. 

Menyikapi temuan--yang dirintis, dievaluasi dan disikapi responsif oleh gubernur Jawa Barat yang kemudian merembet dalam skala nasional--tersebut dinas pendidikan kabupaten Tulungagung mengeluarkan surat edaran yang berisi himbauan tentang pedoman kelulusan. Di dalamnya memuat beberapa poin penting yang perlu disikapi. Diterapkan langsung di satuan pendidikan se-Kabupaten. 

Pelarangan penggunaan istilah wisuda di jenjang TK sampai dengan sekolah menengah atas adalah salah satu poin penting di antaranya. Sebagai opsi satuan pendidikan bisa menggunakan istilah pelepasan, perpisahan atau haflah akhirussanah. Yang perlu menjadi catatan, proses itu tidak memberatkan pihak orang tua. Tidak ada pungutan biaya fantastis di luar nalar dan kemampuan. 

Atas dasar demikian Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Quran menghelat pelepasan siswa-siswi jenjang TK dan SD dengan istilah akhirussanah dengan sangat sederhana. Sabtu kedua Juni (14/6/2025) kegiatan akhirussanah dilaksanakan tepat di halaman sekolah. Waktu itu sengaja dipilih setelah berakhirnya masa sumatif akhir semester dan sebelum perhelatan Dauroh Tahfidz. 

Ini adalah akhirussanah ke-delapan. Artinya SDIT Baitul Quran telah meluluskan delapan angkatan. Tentu dengan jumlah lulusan yang berbeda-beda. Angkatan tahun ini SD meluluskan 18 siswa. Sedangkan jenjang TK meluluskan 12 siswa. 

Dalam pelaksanaannya, haflah akhirussanah dimulai dengan tasmi' hafalan Al-Quran 5 juz sekali duduk. Ada tiga siswi yang mengikuti tasmi' yakni ananda Nabila, Nayla dan Maqhfiroh. Nabila dan Nayla adalah siswi kelas 6 yang akan mengikuti pelepasan. Sementara Maqhfiroh adalah siswi kelas 5. 

Ketiga siswi mengkhatamkan tasmi' hafalan kurang lebih selama dua setengah jam duduk. Selama tasmi' ketiganya disimak oleh tiga orang guru tahfidz. Tepatnya, mulai dari pukul 05.30-08.00 WIB. 

Setelah tasmi' sekali duduk selesai disambung dengan beberapa tampilan pembuka sesuai rundown. Pembacaan ayat suci Al-Quran dilantunkan oleh ananda Faris kelas 2. Kepercayaan ini sengaja diberikan untuk pembibitan: melatih keberanian, mengasah mental dan jam terbang tampil, generasi qori SDIT Baitul Quran selanjutnya. 

Selanjutnya siswa-siswi kelas 6 dan TK memasuki tempat acara. Mereka duduk di tempat duduk yang sudah tersedia. Posisinya, siswa-siswi TK menempati kursi paling depan dilanjutkan siswa-siswi SD. Mereka menempati tiga deret kursi utama. 

Disambung menyanyikan lagu Indonesia raya, murojaah siswa TK, murojaah siswa SD dan sambutan. Sambutan pertama disampaikan ustadzah Robi'ah Al Adawiyah selaku direktur tahfidz sekaligus mewakili yayasan. Sambutan kedua disampaikan ustadzah Widiya selaku kepala TKIT Baitul Quran. Sebagai pamungkas, kepala SDIT Baitul Quran: Ustadz Roni Ramlan tampil memberi sambutan sekaligus launching buku antologi kedua karya kolaborasi guru dan siswa. 

Acara inti dimulai. Para siswa dipanggil satu-persatu menuju panggung. Siswa TK mendapatkan posisi terdepan. Kepala sekolah TK mengalungi gordon, direktur tahfidz memakaikan mahkota sedangkan ketua yayasan bertugas menyalami. Hal yang sama juga berlaku dalam prosesi siswa SD. Perbedaannya, pada sesi ini ketua yayasan mendapatkan tugas memakaikan slempang. 

Prosesi selesai. Para siswa diarahkan untuk berfoto bersama dengan dewan guru di panggung sesuai jenjang. Tak ketinggalan, penganugerahan siswa terbaik dan peraih hafalan terbanyak diumumkan. Ananda Alana tampil sebagai siswa terbaik di jenjang TK. Sementara dari jenjang SD, ananda Hisyam meraih penghargaan siswa terbaik umum dan ananda Nayla dinobatkan peraih hafalan terbanyak. 

Tak ketinggalan, yayasan pun turut memberikan penghargaan kepada Nayla sebesar Rp. 2.500.000 karena telah meraih hafalan sebanyak 9 juz 12 halaman. Hal ini dilakukan mengingat yayasan menjanjikan reward kepada lulusan yang mencapai hafalan minimal 7 juz. Setiap lulusan yang hafal minimal 7 juz akan mendapatkan uang pembinaan Rp. 1.000.000. Lulusan yang hafal 8 juz mendapat uang pembinaan Rp. 2.000.000. Ada pun siswa lulusan yang mencapai hafalan 10 juz akan memperoleh uang pembinaan Rp. 3.000.000.

Perlu diketahui bersama bahwa ini kali perdana ada lulusan yang menembus target yayasan. Tahun ini pula momentum perdana TK dan SD Baitul Quran menghelat akhirussanah bersama. Biasanya, masing-masing satuan melaksanakan prosesi di waktu dan hari yang berbeda. Meski  kemudian lebih sering menggunakan tempat yang sama, yakni aula SD. 

Sesi penganugerahan usai. Acara selanjutnya adalah prosesi sungkeman. Saat sungkeman para siswa memakaikan mahkota di kepala orang tua sebagai simbol kemuliaan yang dianugerahkan smag anak. Untuk beberapa saat, haru biru sempat mewarnai momentum ini. 

Sebagai penyempurna acara, ibunda ananda Sabiq: Ibu Lusty tampil memberikan sambutan mewakili wali siswa kelas 6. Begitu juga dari lulusan, ananda Nabila tampil memberikan ucapan terima kasih sekaligus pesan dan kesan.  

Alhamdulillah, rangkaian acara akhirussanah berjalan dengan lancar tanpa kekurangan apa pun. Sebagai bentuk syukur, senantiasa mengharapkan berkah dan ridha Allah SWT acara dipungkas dengan memanjatkan doa. Ustadz Rizki Romi Faisal, S. Pd. I tampil membumbungkan doa. 

Acara selesai, masing-masing siswa antre mengambil rapor, cenderamata dan konsumsi. Kebetulan, sesi foto kenang-kenangan bersama orang tua telah dilakukan sebelum acara dimulai.