Dokpri Upgradig Guru bersama Ustadz Imam Mawardi
Tulugagung-LPIT Baitul Qur'an (8/7/2026) menyambut tahun ajaran baru dengan mengevaluasi rekam jejak kurikulum satuan pedidikan dan memantapkan lagkah baru. Integrasi ilmu menjadi visi misi baru yang dipancangkan kuat dalam keberlangsungan lembaga. Utamanya, mengedepankan inovasi guru dan penanaman adab islami adalah modal penting dalam menghadapi zaman yang kian absurd.
Ustadz Imam Mawardi (pendiri Lembaga Pendidikan Islam Al Azhaar) sebagai pemateri menawarkan ide yang sangat menarik untuk disikapi dan ditindaklanjuti dengan bijak. Dalam pandangan beliau, langkah integrasi ilmu dimulai dengan mendefinisikan kembali peran guru selama di sekolah. Jika sebelumnya guru mengambil posisi sebagai pembimbing mutlak maka harus diubah menjadi seorang fasilitator pembelajaran, menjalankan Project Based Leearning, mentor berbasis karya, KBM berbasis IT, membangun ekosistem kelas, adaptatif terhadap perkembangan murid dan harus membanung sinergi yang baik dengan wali murid.
Guru yang demikian tentu harus dibekali dengan komtensi yang baik, proaktif pengembangan diri: mengikuti seminar, workshop, pelatihan, webinar, pratikum dan memiliki penguasan IT yang baik. Platform pembelajaran, media ienteraktif dan fasilits digital harus menjadi makan sehari-hari. Sikap menarik diri atas perkembangan dunia digital adalah bentuk dari kemunduran atas kesempatan untuk maju dan mengembangkan diri.
Selain menyibukkan diri dalam pengembangan skill dan potesi diri, guru juga harus pandai menempa (muhasabah) diri jauh ke dalam diri untuk berkembang. Penempaan itu dimulai dengan membiasakan musyawarah dan fikr (critical thinking), ikhtiar dan tawakal (creativity), ta'awaun dan sinergi (collaboration), sosialisasi dan relasi (communication).
Apabila sumber daya lembaga sudah tertata maka mulailah merancang kurikulum satuan pendidikan yang fokus pada integrasi ilmu. Background sebagai sekolah islam harus menjadi dasar, sehingga pelajaran pertama kali yang diajarkan pada murid adalah Diniyah. Agama sebagai modal penting generasi robbani untuk tidak terbawa arus zaman yang kian chaos. Selanjutnya murid diajarkan Matematika, Sains, Bahasa Inggris-Bahasa Arab, teknologi, berkaya digital dan pendidikan jasmani. Semua mata pelajaran tersebut dalam implementasinya dapat diintegrasikan sesuai materi pembahasan yang saling beririsan satu sama lain. Utamanya proses pembelajaran berbasis proyek.
Proses pembelajaran berbasis proyek ini dipandang jauh lebih efektif karena melibatkan murid dari awal hingga akhir. Senasi pengalaman, perjuangan dan menikmati proses menjadi pemantik materi pelajaran melekat di dalam diri setiap murid. Terlebih guru berperan sebagai fasilitator, pendamping dan teman diskusi sepanjang proyek berlangsung.
Tentu yang demikian akan berdampak pada output murid yang berkualitas, memiliki skill dan kemahiran. Murid rajin ibadah sekaligus mahir materi Diniyah, mendulang akademik yang unggul, mandiri dan berkarya, sehat jasmani, setia kawan dan empati akan menjadi profil lulusan Baitul Quran yang siap bersinar di hiruk-pikuk zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar