Minggu, 30 Agustus 2026

Mengenal Keluarga Baru

 

Dokrpi Murid Baru tahun ajaran 2026/2027


Tulungagung-SDIT Baitul Qur'an sukses menghelat giat observasi calon murid baru tahun ajaran 2026/2027. Merujuk data administrasi terdapat 14 orang murid yang telah memastikan diri bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Baitul Qur'an. Kendati begitu saat pelaksanaan acara masih ada seorang murid yang belum bisa hadir dalam acara tersebut.

Giat observasi dilaksanakan dalam rangka meninjau potensi dan kemampuan setiap murid baru. Aspek yang diuji mecakup kognitif, psikimotorik dan apektif; berhitung, membaca, menulis dan baca tulis Al-Qur'an. Masing-masing murid dipanggil urut untuk diuji sesuai absensi yang telah disediakan. Lantas, hasil observasi dijadikan sebagai pedoman bagaiamana baiknya guru melakukan pendekatan, menggunkan metode dan media yang efektif dalam proses pembelajaran. 

Hasil observasi juga menjadi modal penting untuk mengklasifikasikan murid yang sudah bisa baca tulis dan mengaji dengan murid yang masih belum bisa. Klasifikasi ini membantu guru kelas untuk menentukan penempaan yang berbeda termasuk dalam menentukan level kelas tahfidz. Di sinilah peran guru pendamping bekerja. 

Tak hanya sebagai ajang meninjau potensi, kemampuan dan karakter murid, giat observasi juga sangat bermanfaat untuk sosialisasi terkait budaya yang berlaku di SDIT Baitul Qur'an, menyampaikan program semester dan tahunan serta mengukur seragam. 

Saat setiap calon murid baru sibuk diuji, para orang tua diberi bekal dan pandangan dari yayasan dan dewan guru bahwa bergabung menjadi bagian dari Lembaga Pendidikan Islam Tahfidz Baitul Quran adalah pilih tepat. Sebab sekolah kami menanamkan adab islami, pengetahuan agama dan pegetahuan umam dalam porsi yang adil sehingga mampu menjadi generasi emas di masa yang akan datang.

Langkah Baru dengan Integrasi Ilmu

 

Dokpri Upgradig Guru bersama Ustadz Imam Mawardi

Tulugagung-LPIT Baitul Qur'an (8/7/2026) menyambut tahun ajaran baru dengan mengevaluasi rekam jejak kurikulum satuan pedidikan dan memantapkan lagkah baru. Integrasi ilmu menjadi visi misi baru yang dipancangkan kuat dalam keberlangsungan lembaga. Utamanya, mengedepankan inovasi guru dan penanaman adab islami adalah modal penting dalam menghadapi zaman yang kian absurd. 

Ustadz Imam Mawardi (pendiri Lembaga Pendidikan Islam Al Azhaar) sebagai pemateri menawarkan ide yang sangat menarik untuk disikapi dan ditindaklanjuti dengan bijak. Dalam pandangan beliau, langkah integrasi ilmu dimulai dengan mendefinisikan kembali peran guru selama di sekolah. Jika sebelumnya guru mengambil posisi sebagai pembimbing mutlak maka harus diubah menjadi seorang fasilitator pembelajaran, menjalankan Project Based Leearning, mentor berbasis karya, KBM berbasis IT, membangun ekosistem kelas, adaptatif terhadap perkembangan murid dan harus membanung sinergi yang baik dengan wali murid.

Guru yang demikian tentu harus dibekali dengan komtensi yang baik, proaktif pengembangan diri: mengikuti seminar, workshop, pelatihan, webinar, pratikum dan memiliki penguasan IT yang baik. Platform pembelajaran, media ienteraktif dan fasilits digital harus menjadi makan sehari-hari. Sikap menarik diri atas perkembangan dunia digital adalah bentuk dari kemunduran atas kesempatan untuk maju dan mengembangkan diri.

Selain menyibukkan diri dalam pengembangan skill dan potesi diri, guru juga harus pandai menempa (muhasabah) diri jauh ke dalam diri untuk berkembang. Penempaan itu dimulai dengan membiasakan musyawarah dan fikr (critical thinking), ikhtiar dan tawakal (creativity), ta'awaun dan sinergi (collaboration), sosialisasi dan relasi (communication). 

Apabila sumber daya lembaga sudah tertata maka mulailah merancang kurikulum satuan pendidikan yang fokus pada integrasi ilmu. Background sebagai sekolah islam harus menjadi dasar, sehingga pelajaran pertama kali yang diajarkan pada murid adalah Diniyah. Agama sebagai modal penting generasi robbani untuk tidak terbawa arus zaman yang kian chaos. Selanjutnya murid diajarkan Matematika, Sains, Bahasa Inggris-Bahasa Arab, teknologi, berkaya digital dan pendidikan jasmani. Semua mata pelajaran tersebut dalam implementasinya dapat diintegrasikan sesuai materi pembahasan yang saling beririsan satu sama lain. Utamanya proses pembelajaran berbasis proyek.

Proses pembelajaran berbasis proyek ini dipandang jauh lebih efektif karena melibatkan murid dari awal hingga akhir. Senasi pengalaman, perjuangan dan menikmati proses menjadi pemantik materi pelajaran melekat di dalam diri setiap murid. Terlebih guru berperan sebagai fasilitator, pendamping dan teman diskusi sepanjang proyek berlangsung.

Tentu yang demikian akan berdampak pada output murid yang berkualitas, memiliki skill dan kemahiran. Murid rajin ibadah sekaligus mahir materi Diniyah, mendulang akademik yang unggul, mandiri dan berkarya, sehat jasmani, setia kawan dan empati akan menjadi profil lulusan Baitul Quran yang siap bersinar di hiruk-pikuk zaman. 



Selasa, 11 Agustus 2026

Tahun Ajaran Baru Skill Baru

 

Dokpri Upgrading Guru LPIT Baitul Quran


Tulungagung--LPIT Baitul Qur'an sukses menghelat upgrading guru bertajuk Guru Digital Kreatif Kunci Pembelajaran Interaktif  dalam rangka mempersiapkan tahun ajaran 2026/2027. Rabu (8/7/2026) tepatnya minggu kedua di bulan Juli adalah hari kegiatan tersebut berlangsung. 

Ibu Diana Lutfiana Ulfa, M. Pd. (Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung) tampil sebagai fasilitator menggawangi agenda. Beliau berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai fungsi dan manfaat dari beberapa aplikasi yang menunjang proses pembelajaran. Baik pembelajaran di kelas atau pun di ruang terbuka. 

Fokus pertama mendedah bagaimana cara google classroom dioperasikan. Google classroom sangat jitu digunakan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Melalui aplikasi ini dapat beberapa tugas dapat diakses dari jarak jauh. Mulai dari absensi, mengakses materi, mengumpulkan tugas teks, vidieo atau pun gambar. Akan tetapi di zaman sekarang, google classroom perannya sudah tergantikan dengan fitur canggih Whatsapp yang dipandang lebih praktis. 

Pemanfaatan Google Form menjadi pembahasan kedua. Ibu Diana menegaskan bahwa aplikasi ini sangat bermanfaat untuk survei, menunjang pendaftaran sistem penerimaan murid baru (SPMB) via online, observasi penelitian publik hingga absensi guru sederhana. Aplikasi ini memiliki kemampuan mengunggah berkas, foto dan video yang ukuran filenya dapat diatur sedemikian rupa. 

Aplikasi evaluatif yang dibuat kuis seperti Quiziz dan Kahoot menjadi bagian yang mengasyikkan. Sesi ini semua guru dibimbing untuk membuat asesmen formatif dan sumatif via game. Mengevaluasi kedalaman pemahaman siswa dengan gambar, simbol dan warna yang menarik dapat menjadikan murid lebih nyaman dan asyik dalam menghadapi ujian.  

Kendati begitu dalam memaksimalkan manfaat dari dua aplikasi tersebut penggunaan hp pribadi dalam mengerjakan soal menjadi syarat multak. Tanpa sarana yang memadai evaluasi berbasis aplikasi tersebut tak akan berjalan mulus. Fasilitator sempat memberi bocoran bahwa fitur quiziz lebih lengkap jika dibandingkan dengan kahoot. Terlebih lagi apabila kita memanfaatkan aplikasi basis berlabel gratisan. 

Tak ketinggalan, aplikasi mentimeter juga sempat disinggung dalam pembahasan. Disebutkan platform ini bermanfaat untuk presentasi interaktif berbasis web seperti penjajakan pendapat, kuis langsung, hingga sesi tanya jawab yang bersifat langsung real time. Alhasil dalam satu waktu guru dan murid dapat terlibat secara langsung dan responsif. 

Sebagai pamungkas, fasilitator menjajakan beberapa aplikasi AI yang dapat digunakan untuk prsentasi. Platform yang dapat membuatkan slide presentasi tanpa harus mendesain lembar kerja, warna, gambar dan font secara manual. Platform yang menunjang presentasi tersebut yakni Gamma App.

Upgrading selesai. Acara ditutup dengan doa ramah tamah. Sepanjang acara ada rasa penasaran yang terpuaskan dan rangkai doa yang terus membumbung, "Semoga upgrading ini hasilnya dapat diaplikasikan dalam proses kegiatan pembelajaran sehari-hari." Tabik!

Jumat, 31 Juli 2026

Capaian Baru di Haflah Akhirussanah IX SDIT Baitul Quran

 

Dokpri lulusan tahun 2026 dengan dewan asatidz/asatidzah


Tulungagung-LPIT Baitul Qur'an sukses menghelat majelis 5 juz sekali duduk dan haflah akhirussanah IX (13/62026) sesuai agenda yang direncanakan. Ini adalah tahun kedua program majelis 5 juz sekali duduk berlangsung. Haflah ini melibatkan 2 lembaga yang ada di bawah naungan Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an, yakni TKIT dan SDIT Baitul Qur'an. 

Majelis 5 juz seklai duduk merupakan program khusus bagi kelas 6 SDIT Baitul Qur'an yang hendak lulus. Semacam ajang pembuktian ke ruang publik bahwa alumni kami memiliki hafalan yang mudzqin bukan abal-abal, bukan gincu di bibir, bukan isapan jempol belaka. Proses majelis 5 juz sendiri berlangsung sejak pukul 05.30-07.30 WIB. 

Tahun ini majelis 5 juz dibawakan oleh 3 orang siswi yang memiliki hafalan terbanyak. Ketiga siswi tersebut yakni ananda Maqhfirroh, Nasywa dan Ocha. Urutan tersebut dibuat bukan tanpa alasan melainkan merujuk pada jumlah hafalan mereka. Ananda Maqhfirroh berhasil menyelesaikan hafalan sebanyak 12 juz. Ananda Nasywa sebanyak 7 juz dan 4 juz berhasil dicapai oleh ananda Ocha. 

Capaian hafalan siswa tahun ini adalah rekor baru. Rekor yang belum terpecahkan oleh sekian lulusan sebelumnya. Sebagai bentuk apresiasi atas capaian baru tersebut yayasan memberikan uang pembinaan sebesar Rp. 3.000.000,- bagi ananda Maqhfirroh dan Rp. 1.000.000,- bagi ananda Nasywa. 

Menariknya, sepanjang majelis 5 juz berlangsung prosesnya didokumentasikan via live streaming di kanal youtube lembaga: Silakan saksikan bersama. Alhasil, dokumentasi tersebut dapat dijadikan sebagai media dakwah sekaligus promosi lembaga pendidikan yang ada. Baik dalam rangka menjaring murid baru atau pun mengajak publik untuk menjadi hufaz. 

Selepas majelis 5 juz usai, agenda disambung dengan haflah akhirussanah. Haflah berlangsung menjadi 2 sesi, yakni TKIT dan SDIT. Sesi pertama diikuti oleh 20 siswa TKIT. Prosesi haflah dimulai dengan mengalungkan gordon, menyematkan mahkota dan bermusyafahah. Tak lupa saat prosesi berlangsung cita-cita masing-masing siswa ditayangkan saat siswa yang bersangkutan dipanggil untuk menaiki panggung. 

Hal sama juga berlaku bagi seluruh siswa SDIT saat melangsungkan haflah. Perbedaan mendasar hanya saat prosesi simbolis: Pengalungan gordon, pemberian mahkota dan pemberian slempang tahfidz. Perbedaan mencolok lainnya terletak pada seragam yang digunakan dan cita-cita masing-masing siswa. 















Senin, 01 Juni 2026

Orang tua Pintar di Balik Layar

 

Dokpri flyer Halal Bi halal 1447 H

Tulungagung-Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an yang menaungi TKIT dan SDIT Baitul Qur'an sukses mengadakan acara Halal Bi Halal dan Parenting. Sabtu pekan kedua di bulan April, tepatnya 11 April 2026 menjadi saksi bisu hari bersejarah. Acara tersebut dihadiri langsung oleh deretan pengurus yayasan, dewan guru, komite dan wali santri.

Dua acara dalam satu paket agenda tersebut dihelat di aula utama SDIT Baitul Qur'an. Momentum itu kian hidup dengan menghadirkan Ustadz Khasi'in, M. Pd. selaku penyuluh agama KUA Kedungwaru sebagai narasumber parenting. Ada pun tajuk yang didedah dalam kesempatan kali ini yakni Orang tua Pintar di Balik Layar.

Sebelum menginjak kajian parenting, Dr. Nuryani, M. Pd. tampil memberikan sambutan dan ucapan halal bi halal mewakili yayasan dan segenap dewan guru. Perihal halal menghalalkan perkara kekhilafan, kesalahan dan dosa yang telah terjadi selama berinteraksi di lingkungan sekolah Baitul Qur'an sangatlah penting. Sangatlah penting karena menyangkut kemaslahatan bersama. 

Jika semua elemen sumber daya lembaga dan pemberi amanah telah saling rida dan mengikhlaskan proses kelangsungan pembelajaran pun kian nyaman. Nyaman berada di sekolah dan berinteraksi dalam transaksi ilmu pengetahuan, amal dan tindak tanduk kebajikan. Keadaan yang jauh dari tekanan dan merasa bersalah ini menjadikan guru mengajar dengan penuh riang dan penuh keikhlasan.

Menginjak acara inti, pemateri mengajak audens untuk berpikir mendalam sejenak tentang akar masalah mengapa pentingnya kita memilih sekolah islam di era digital yang kian carut-marut. Bersikap bebal dan masa bodoh dalam memanfaatkan kecanggihan digital adalah kesalahan besar. Oleh karena itu kita penting mengenal konsep pendidikan islam, fase pendidikan sesuai perkembangan anak, lingkungan dan tantangan zaman. 

Konsep pendidikan islam pada dasarnya menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal; dunia dan akhirat; teori dan praktek kehidupan. Supaya kita mampu melakukan itu semua dalam prakteknya kita harus berpijak pada 3 pondasi utama: tauhid dan iman dicerminkan melalui doa, dzikir dan pengamatan alam semester sejak dini, uswah hasanah diproyeksikan melalui sikap anak sebagai peniru ulung orang tua dalam berprilaku dan beribadah, sedangkan yang terakhir pendidikan akhlak dan adab sebelum ilmu pengetahuan. 

Penegakan 3 pondasi tersebut tentu tidak sekaligus melainkan disesuaikan dengan tahapan pendidikan usia anak. Treatmen anak berusia dini, anak-anak, remaja dan dewasa dilakukan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya jika pada usia dini 0-7 tahun pola pendekatan pendidikan sebaiknya penuh kasih sayang, mengenalkan dasar agama dan pembiasaan baik sedangkan pada usia remaja-dewasa pendekatan dialogis, musyawarah dan persahabatan harus dikedapankan. 

Kendari begitu keluarga menjadi kunci dalam keberhasilan penerapan proses pendidikan sesuai tahapan tersebut. Mengapa demikian? Sebab semuanya bermula dari rumah. Waktu keberadaan anak lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di sekolah. Peran kedua orang tua yang utama sedangkan guru hanya pemegang amanah. Hanya anak yang dibesarkan dalam didikan keluarga menerapkan 3 pondasi yang mampu meniti jalan keseimbangan dan menundukkan tantangan zaman. 

Zaman dari waktu ke waktu terus berubah, tak terkecuali zaman teknologi digital yang kian mutakhir ini. Kian mutakhir berarti sama dengan kian berbeda pula cara dan pendekatan dalam hal mendidik anak. Terlebih kita tahu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, FOMO, cyberbullying, termakan hoaks, kecanduan dan penurunan produktivitas adalah dampak negatif yang benar-benar harus kita hadapi sekarang. 

Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Mengatur privasi ketat, membatasi penggunaan gadget, detoks medsos, memfilter konten, mengontrol aplikasi, mengontrol pertemanan di medsos, menyeimbangkan pendidikan anak, dan orang tua tidak memberi contoh buruk. 

Ada pun cara melakukan detoks medsos yakni dengan menghapus aplikasi media sosial yang toxic, menonaktifkan akun sementara waktu, batasi waktu penggunaan, unfollow/mute akun tertentu, mencari hobi yang berdampak positif dan mengedepankan murajaah hafalan yang sudah ada. 

Setelah kajian parenting selesai, seluruh tamu undangan bermusyafahah. Dilanjutkan dengan ramah-tamah yang terletak di teras ruangan TKIT Baitul Qur'an lawas. Semua tamu undangan melepas dahaga dengan menu yang telah dissediakan. 

Berikut beberapa dokumentasi acara halal bihalal dan parenting:





 

Selasa, 28 April 2026

Satu Dayung Dua Kegiatan Terlampaui

 

Dokpri kegiatan Pondok Ramadan 1447 H

Selain peresmian gedung baru TKIT Baitul Qur'an, di hari yang sama SDIT dan TKIT Baitul Qur'an bekerjasama menghelat iftar (berbuka puasa) bersama antara murid, wali siswa, dewan guru dan pengurus yayasan. 

Sebelum iftar, Syekh Abdurrahman Jaber mengisi kultum dengan tajuk hikmah menjadi penghafal Al-Qur'an. Kultum dilakukan setelah Syekh membubuhkan tanda tangan di prasasti peresmian gedung baru di batu marmer hitam. Kultum berlangsung kurang lebih selama 40 menit menjelang adzan Magrib. 

Adzan Magrib berkumandang, semua partisipan membatalkan puasa dengan kurma dan air putih yang telah dibagikan sebelumnya. Ohya, tamu undangan dan wali siswa telah mendapatkan jatah membatalkan puasa ketika mengisi absensi pesis di meja petugas di gerbang sekolah. 

Beberapa saat kemudian partisipan diarahkan untuk menunaikan salat Magrib berjamaah. Mengingat lokasi yang tidak memungkinkan, akhirnya salat dibagi menjadi dua tempat. Sebagian di aula gedung baru sedangkan  sebagian yang lain menegakkan salat di aula SD; tamu undangan dan siswa menunaikan salat Magrib di gedung baru sementara siswa-siswi dan dewan guru SD salat di aula SD. 

Selepas salat Magrib, semua partisipan diarahkan untuk menyantap makanan berat di lokasi yang telah disediakan panitia. Soto ayam dan es kuwut menjadi menu andalan di malam nan syahdu itu. Segenap wali siswa bergegas pulang setelah piringnya bersih. Kepulangannya beriringan dengan kepulangan siswa TK dan kelas bawah: 1-3. 

Di riuh kepulangan wali siswa dan siswa yang berbondong-bondong, terdapat beberapa tamu undangan dan wali siswa yang sengaja menyempatkan diri berswafaoto dengan Syek Abdurrahman Jaber. Begitu pun dengan dewan guru yang tidak mau kalah, posisi terbaik diambil, beberapa foto sempat terabadikan. 

Syekh Abdurrahman berpamitan menuju Pondok Modern Darul Hikmah untuk meneruskan langkah safari dakwah sedangkan dewan guru SD dan siswa kelas atas: 4-6 yang menginap di sekolah bersiap siaga untuk menunaikan salat Isya sekaligus salat taraweh. Menariknya, salat Isya berjamaah kala itu diimami oleh ananda Moh. Azam. Alumni SDIT Baitul Qur'an yang meneruskan ke Pondok Imam Syafii. Moh. Azam sendiri adalah putra kedua ketua yayasan, Ustadz Ali. 

Selepas salat sunah ba'diah Isya, salat taraweh ditunaikan dengan diimami oleh ustadz Fadil. Salat taraweh dikerjakan sejumlah 8 rakaat dan 3 rakaat salat witir. Jumlah rakaat ini sengaja dipilih guna menjaga kondusivitas dan konsentrasi siswa-siswi. Terlebih lagi, di malam hari masih ada rangkaian agenda lain yang harus dilakukan. 

Tadarus bersama dan muhasabah yaumiyah adalah agenda wajib selepas salat taraweh. Melalui tadarus bersama siswa-siswi didorong untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an. Caranya yakni dengan berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al-Qur'an. Ada pun melalui muhasabah yaumiyah siswa-siswi diajak untuk merefleksikan diri atas rutinitas harian yang telah dilakukan, apakah sudah lebih baik dari hari kemarin atau sebaliknya. 

Malam semakin larut, akhirnya siswa-siswi diarahkan untuk beristirahat di ruangan masing-masing. Purta bermalam di aula SD sedangkan putri tidur di ruang kelas TK lawas. Semua siswa diawasi dengan ketat supaya mampu memejamkan mata lebih cepat mengingat esok hari harus bangun untuk menunaikan sahur. 

Pukul 03.30 WIB siswa menunaikan sahur bermenu lodho, kerupuk dan teh manis hangat. Sebagian di antara mereka matanya tampak masih memerah dan raut wajah yang masih diberbalut kantuk. Kendati begitu makan bersama-sama menjadikannya melahap nasi dengan bersemangat. Tak lupa selepas makan mereka dibimbing untuk menggosok gigi sekaligus mengambil wudhu untuk persiapan salat Subuh. 

Tak berselang lama waktu Subuh tiba. Seorang siswa ditunjuk untuk mengumandangkan adzan. Lantas para siswa diajak untuk menunaikan khobliyah Subuh. Subuh pagi itu diimami oleh ustadz Lazim. 

Tadarus pagi digalakan. Ustadzah Safina dkk membimbing kelangsungan tadarus. Tadarus berlangsung kurang lebih sampai pukul 05.30 WIB. Selanjutnya para siswa diarahkan untuk senam pagi. Pesan moral yang hendak ditegakkan adalah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Mens sana in conpore sano, dalam satir penyair Romawi Jueval disebutkan demikian. 

Tak hanya fokus menyehatkan tubuh, tapi selepas senam para siswa juga diajak untuk mengamalkan hadits Ath-thahuru syathrul iman. Tubuh yang sehat tidaklah cukup berarti jika lingkungan sebagai tempat kita hidup kotor. Sebab sebaik-baiknya jasmani sehat ditopang dengan lingkungan yang sehat dan bersih. 

Demikian catatan dua agenda dalam satu momentum. Melalui iftar kita belajar banyak tentang memelihara arti penting ikatan kekeluargaan dan persaudaran, pentingnya guru dan wali siswa memiliki visi yang sama dalam mendidik anak serta tak ada kata terlambat dalam menanamkan satu kebaikan terhadap anak-anak kita. 

Ada pun dari kegiatan pondok Ramadan, para siswa diajarkan untuk memuliakan bulan Ramadan dengan menunaikan ibadah dan kegiatan yang positif. Kegiatan positif yang maksud yakni menolong sesama, berlomba-lomba dalam kebaikan dan utamanya membantu pekerjaan dan memuliakan orang tua.
 



Peresmian Gedung Baru TKIT Baitul Qur'an

 

Dokpri Flyer Iftar dan Peresmian Gedung Baru TKIT Baitul Qur'an

Menjelang penghujung Ramadan 1447 H yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an mendatangkan Syekh Abdurrahman Jaber (adik kandung alm. Syekh Ali Jaber) dalam rangka dua agenda: Kajian menjelang iftar dan peresmian gedung baru TKIT Baitul Qur'an. 

Kedatangan Syekh Abdurrahman Jaber ke kabupaten Tulungagung khususnya ke Baitul Qur'an tak lain salah satu dari rangkaian safari dakwah mencetak sejuta penghafal Al-Qur'an di berbagai pelosok negeri. Visi yang sama dengan ghiroh berdirinya Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an yang memiliki fokus mencetak generasi qur'ani. Hufaz namun mumpuni dalam berbagai bidang ilmu. 

Dokpri Ustadz Ali (ketua yayasan) menyambut kedatangan Syek Abdurrahman Jaber

Gedung baru TKIT Baitul Qur'an merupakan hibah dari dr. Rina. Kendati begitu proses finishing tetap dirampungkan dengan dana mandiri yayasan. Proses pembangunan gedung baru ini kurang lebih memakan waktu satu tahun hingga akhirnya siap pakai. 

Berbeda dengan gedung lama yang sangat sederhana gedung baru terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk tempat bermain anak-anak sedangkan lantai kedua berisikan tiga ruang kelas pembelajaran, ruang kantor dan dua kamar mandi.

Agenda peresmian gedung baru dihelat di ruang pembelajaran lantai dua yang belum tersekat. Acara ini dihadiri oleh segenap wali santri: Baik wali santri TKIT maupun SDIT Baitul Qur'an, pengurus yayasan dan tamu undangan pemangku kebijakan di wilayah Mangunsari, Kedungwaru. 

Alhamdulilah, acara terlaksana dengan khidmat dan lancar. Peresmian dilakukan sebelum kajian iftar. Peresmian ditandai dengan pembubuhan tanda tangan Syekh Abdurrahman Jaber di batu marmer hitam. Seperti biasa, tanda tangan tersebut akan diubah ke dalam bentuk ukiran. Selanjutnya batu marmer akan diletakan di tempat yang representatif: dapat diakses publik.

Dokpri Syekh Abdurrahman Jaber sedang membubuhkan tanda tangan

Besar harapan kami dengan diresmikannya gedung baru TKIT Baitul Qur'an ini kian menambah berkah, menambah kuantitas-kualitas kelurga besar (murid baru) TKIT dan SDIT Baitul Qur'an di tahun ajaran baru, dan dapat mengoptimalkan pelayanan terbaik dalam mendidik generasi emas dari waktu ke waktu. 

Kami sampaikan Jazakumullah khairon katsiron kepada seluruh donatur yang telah menghibahkan sebagian hartanya untuk kelangsungan pendidikan generasi qur'ani. Ada doa yang senantiasa kami langitkan, semoga rezekinya melimpah dan hidupnya penuh berkah. Amin ya robbal 'alamin. 

Berikut beberapa dokumentasi acara:

Syekh Abdurrahman menyapa para santri

Syekh Abdurrahman berjabatan tangan dengan ustadz Ali

Syekh Abdurrahman khidmat berdoa