Minggu, 14 September 2025
Ghirah Mading Sekolah
Senin, 01 September 2025
Menghayati Semangat Kemerdekaan
SDIT Baitul Qur'an (19/7/2025) menghelat peringatan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80 dengan outing class. Outing class dilaksanakan di Office Taman Ngrowo, Sembung. Fokus utama kegiatan ini yakni menularkan semangat perjuangan dalam momentum kemerdekaan.
Momentum ini dimeriahkan dengan berbagai lomba. Mulai dari lomba individu dan kelompok. Perhelatan lomba individu meliputi balap karung, makan kerupuk, pukul jan bedak, dan paku botol. Sedangkan estafet kelereng, tarik tambang, estafet karet dan angkat botol karet adalah kategori lomba kelompok.
Sumringah terpancar jelas dari wajah para siswa. Ekspresi mereka seakan-seakan sedang menegaskan satu pernyataan yang telah lama terpendam: "Momentun seperti inilah yang kami tunggu. Coba saja setiap hari konsep belajar di sekolah seperti ini. Kami senang, guru suka. Kesenangan itu kian bertambah manakala kegiatan dipungkas dengan pembagian hadiah yang sama rata."
Kalimat itu hanya terbenam kuat dalam benak mereka. Anak-anak memang memiliki dunianya sendiri yang mungkin bersebrangan dengan orang dewasa. Akan tetapi fantasi dan kesenangannya tidak mesti harus dituruti setiap waktu. Harus ada tarik ulur dan pembatasan untuk menjaga keseimbangan daya juang mereka.
Jikalau semua kesenangan, harapan dan keinginan semua anak dikabulkan dengan mudah takutnya hanya akan membangun persepsi bahwa segala sesuatu berada dalam genggamannya. Tentu hal itu sangat berbahaya. Sebab dapat menempatkan anak dalam kesombongan, malas berjuang dan menganggap sepele apa yang ada di sekitarnya.
Melalui peringatan HUT RI ke-80 dengan beragam lomba inilah kami berusaha menanamkan sikap jihad (perjuangan), fastabiqul khairot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan ukhuwah islamiyah (persatuan-kesatuan di antara siswa dan lingkungan). Perlombaan ini menyiratkan bahwa dalam setiap momentum semua siswa memiliki kesempatan yang sama. Sisanya hanya tergantung kemauan masing-masing siswa, mau mengambil kesempatan atau tidak.
Opsi berani mengambil kesempatan tentu lebih baik daripada tidak pernah mencoba. Anak-anak memang harus belajar mendobrak rasa minder, takut dan malu. Semuanya itu akan runtuh jikalau anak diberi kesempatan dan ruang yang memadai untuk mengekspresikan diri selama itu dalam hal kebaikan.
Kemerdekaan dalam diri siswa hanya akan hadir manakala mereka mau berproses dan bertindak. Proses dan tindakan yang dilalui ini akan berdampak pada hasil yang dituai. Proses yang baik tentu akan melahirkan hasil yang baik. Karena alasan inilah pentingnya kita mempertimbangkan proses.
Kesibukan kita yang hanya fokus pada penilaian hasil akhir adalah salah satu bukti sikap keegoisan kita. Sikap purbakala yang sudah seharusnya diubah sejak saat ini juga. Sikap arogansi yang menegaskan bahwa kita tidak pernah ingin tahu bagaimana perjuangan dalam meniti proses itu ditegakan.
Proses jatuh bangun, meniti jalan terjal dan sederet pengorbanan yang dilakukan sudah seharusnya kita berikan apresiasi. Bukan sebaliknya, air susu dibalas air tuba. Perjuangan dan pengorbanan tidaklah pantas dibalas dengan caci maki dan ketidakpuasan.
Sebab jika melulu demikian, yang terpatri dalam benak siswa adalah perasaan terkekang. Terkekang dengan ekspektasi dan tekanan yang diberikan oleh orang tua. Keadaan tersebut sungguh tidaklah baik untuk pertumbuhan anak, lambat laun hanya akan menumbuhkan mental yang tidak sehat.
Besar harapan melalui outing class dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-80 semua siswa dapat mengekspresikan diri dengan leluasa. Otot kepala yang biasanya tegang selama di kelas semoga rileks dan stabil sehingga mental dan pikiran mereka terasa fresh kembali.
Selain itu, semoga semua siswa senantiasa mau-mampu mengambil kesempatan untuk melakukan segala suatu kebaikan. Tentu semua itu dilakukan dalam ajang menggalakan fastabiul khoirot.
Berikut beberapa dokumentasi kegiatan:
Rabu, 23 Juli 2025
Guru Handal di Era Digital
Selasa, 22 Juli 2025
Membangun Karakter Guru di Era Baru
Minggu, 15 Juni 2025
Khidmatnya Haflah Akhirussanah LPIT Baitul Quran
Dokpri Banner Tasmi' dan Haflah Akhirussanah
Momentum bahagia sekaligus haru yang dinantikan para siswa-siswi di sekolah adalah purnawiyata. Purnawiyata adalah puncak dari proses panjang kegiatan pembelajaran selama di sekolah. Satu tahapan lebih tinggi setelah dilaksanakan kelulusan.
Kelulusan sekolah berbagai jenjang sejak dulu hingga kini memiliki standar berubah-ubah. Mulai dari Ebtanas, Ujian Nasional hingga Sumtif Akhir Jenjang. Transformasi standar pedoman pelaksanaan pendidikan seiring pergantian kurikulum setiap lima tahun sekali. Singkatnya, ganti menteri pendidikan ganti kurikulum.
Ganti kurikulum berarti ganti skema, strategi dan konsep yang diusung termasuk di dalamnya mengubah beberapa istilah yang kerap digunakan di dunia pendidikan. Dari sekian banyak istilah, purnawiyata menjadi salah satu yang dipersoalkan. Persoalan yang belakangan begitu santer menjadi bahan perbincangan hangat karena ada proses yang dipandang memberatkan.
Hal itu terjadi karena selama ini purnawiyata karap dihelat di luar sekolah yang menuntut mengeluarkan budget yang terbilang tidak sedikit. Mulai dari pemilihan tempat di hotel, diharuskan membeli baju kebesaran wisuda: toga dan lain-lain, pembuatan seragam khusus, biaya make up hingga iuran untuk konsumsi.
Tidak hanya itu, persoalan pun kian kompleks manakala menemukan fakta bahwa penggunaan istilah purnawiyata bersifat majemuk. Ada yang menyebut perpisahan, wisuda, pelepasan, tasyakuran, haflah akhirussanah dan lain sebagainya. Meski begitu penggunaan istilah wisuda adalah yang populer digaungkan di kalangan masyarakat.
Maraknya penggunaan istilah wisuda inilah yang problematik. Sebab dipandang tidak cocok, berlebihan dan mendistorsi sekaligus menghilangkan sakralitas proses pendidikan di perguruan tinggi. Mengapa demikian? Sebab prosesi wisuda dan penggunaan baju kebesaran-toga mengakar rumput (baca: menjadi budaya) di perguruan tinggi.
Menyikapi temuan--yang dirintis, dievaluasi dan disikapi responsif oleh gubernur Jawa Barat yang kemudian merembet dalam skala nasional--tersebut dinas pendidikan kabupaten Tulungagung mengeluarkan surat edaran yang berisi himbauan tentang pedoman kelulusan. Di dalamnya memuat beberapa poin penting yang perlu disikapi. Diterapkan langsung di satuan pendidikan se-Kabupaten.
Pelarangan penggunaan istilah wisuda di jenjang TK sampai dengan sekolah menengah atas adalah salah satu poin penting di antaranya. Sebagai opsi satuan pendidikan bisa menggunakan istilah pelepasan, perpisahan atau haflah akhirussanah. Yang perlu menjadi catatan, proses itu tidak memberatkan pihak orang tua. Tidak ada pungutan biaya fantastis di luar nalar dan kemampuan.
Atas dasar demikian Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Quran menghelat pelepasan siswa-siswi jenjang TK dan SD dengan istilah akhirussanah dengan sangat sederhana. Sabtu kedua Juni (14/6/2025) kegiatan akhirussanah dilaksanakan tepat di halaman sekolah. Waktu itu sengaja dipilih setelah berakhirnya masa sumatif akhir semester dan sebelum perhelatan Dauroh Tahfidz.
Ini adalah akhirussanah ke-delapan. Artinya SDIT Baitul Quran telah meluluskan delapan angkatan. Tentu dengan jumlah lulusan yang berbeda-beda. Angkatan tahun ini SD meluluskan 18 siswa. Sedangkan jenjang TK meluluskan 12 siswa.
Dalam pelaksanaannya, haflah akhirussanah dimulai dengan tasmi' hafalan Al-Quran 5 juz sekali duduk. Ada tiga siswi yang mengikuti tasmi' yakni ananda Nabila, Nayla dan Maqhfiroh. Nabila dan Nayla adalah siswi kelas 6 yang akan mengikuti pelepasan. Sementara Maqhfiroh adalah siswi kelas 5.
Ketiga siswi mengkhatamkan tasmi' hafalan kurang lebih selama dua setengah jam duduk. Selama tasmi' ketiganya disimak oleh tiga orang guru tahfidz. Tepatnya, mulai dari pukul 05.30-08.00 WIB.
Setelah tasmi' sekali duduk selesai disambung dengan beberapa tampilan pembuka sesuai rundown. Pembacaan ayat suci Al-Quran dilantunkan oleh ananda Faris kelas 2. Kepercayaan ini sengaja diberikan untuk pembibitan: melatih keberanian, mengasah mental dan jam terbang tampil, generasi qori SDIT Baitul Quran selanjutnya.
Selanjutnya siswa-siswi kelas 6 dan TK memasuki tempat acara. Mereka duduk di tempat duduk yang sudah tersedia. Posisinya, siswa-siswi TK menempati kursi paling depan dilanjutkan siswa-siswi SD. Mereka menempati tiga deret kursi utama.
Disambung menyanyikan lagu Indonesia raya, murojaah siswa TK, murojaah siswa SD dan sambutan. Sambutan pertama disampaikan ustadzah Robi'ah Al Adawiyah selaku direktur tahfidz sekaligus mewakili yayasan. Sambutan kedua disampaikan ustadzah Widiya selaku kepala TKIT Baitul Quran. Sebagai pamungkas, kepala SDIT Baitul Quran: Ustadz Roni Ramlan tampil memberi sambutan sekaligus launching buku antologi kedua karya kolaborasi guru dan siswa.
Acara inti dimulai. Para siswa dipanggil satu-persatu menuju panggung. Siswa TK mendapatkan posisi terdepan. Kepala sekolah TK mengalungi gordon, direktur tahfidz memakaikan mahkota sedangkan ketua yayasan bertugas menyalami. Hal yang sama juga berlaku dalam prosesi siswa SD. Perbedaannya, pada sesi ini ketua yayasan mendapatkan tugas memakaikan slempang.
Prosesi selesai. Para siswa diarahkan untuk berfoto bersama dengan dewan guru di panggung sesuai jenjang. Tak ketinggalan, penganugerahan siswa terbaik dan peraih hafalan terbanyak diumumkan. Ananda Alana tampil sebagai siswa terbaik di jenjang TK. Sementara dari jenjang SD, ananda Hisyam meraih penghargaan siswa terbaik umum dan ananda Nayla dinobatkan peraih hafalan terbanyak.
Tak ketinggalan, yayasan pun turut memberikan penghargaan kepada Nayla sebesar Rp. 2.500.000 karena telah meraih hafalan sebanyak 9 juz 12 halaman. Hal ini dilakukan mengingat yayasan menjanjikan reward kepada lulusan yang mencapai hafalan minimal 7 juz. Setiap lulusan yang hafal minimal 7 juz akan mendapatkan uang pembinaan Rp. 1.000.000. Lulusan yang hafal 8 juz mendapat uang pembinaan Rp. 2.000.000. Ada pun siswa lulusan yang mencapai hafalan 10 juz akan memperoleh uang pembinaan Rp. 3.000.000.
Perlu diketahui bersama bahwa ini kali perdana ada lulusan yang menembus target yayasan. Tahun ini pula momentum perdana TK dan SD Baitul Quran menghelat akhirussanah bersama. Biasanya, masing-masing satuan melaksanakan prosesi di waktu dan hari yang berbeda. Meski kemudian lebih sering menggunakan tempat yang sama, yakni aula SD.
Sesi penganugerahan usai. Acara selanjutnya adalah prosesi sungkeman. Saat sungkeman para siswa memakaikan mahkota di kepala orang tua sebagai simbol kemuliaan yang dianugerahkan smag anak. Untuk beberapa saat, haru biru sempat mewarnai momentum ini.
Sebagai penyempurna acara, ibunda ananda Sabiq: Ibu Lusty tampil memberikan sambutan mewakili wali siswa kelas 6. Begitu juga dari lulusan, ananda Nabila tampil memberikan ucapan terima kasih sekaligus pesan dan kesan.
Alhamdulillah, rangkaian acara akhirussanah berjalan dengan lancar tanpa kekurangan apa pun. Sebagai bentuk syukur, senantiasa mengharapkan berkah dan ridha Allah SWT acara dipungkas dengan memanjatkan doa. Ustadz Rizki Romi Faisal, S. Pd. I tampil membumbungkan doa.
Acara selesai, masing-masing siswa antre mengambil rapor, cenderamata dan konsumsi. Kebetulan, sesi foto kenang-kenangan bersama orang tua telah dilakukan sebelum acara dimulai.
Selasa, 27 Mei 2025
Asyiknya Outbound di Singapore Waterpark
Minggu, 27 April 2025
Orangtua Andal di Era Digital
Perkembangan teknologi kian hari kian mutakhir. Transformasi ini melahirkan gaya hidup baru yang mengubah arus utama peradaban manusia tak terkecuali tradisi dan budaya yang mengakar rumput di dunia pendidikan. Salah satu dampak positif yang telah kita rasakan adalah manakala Covid-19 melanda, teknologi digital telah benar-benar menunjukkan tajinya dengan konsep pembelajaran jarak jauh via daring.
Pembelajaran jarak jauh via daring mengajarkan kita bahwa belajar itu tidak terbatas ruang dan jarak. Dimana pun kita berpijak di sanalah dahaga keingintahuan itu harus dicukupi. Informasi terbaru dan materi pelajaran dapat diakses seiring persebaran jaringan internet yang mudah dijangkau.
Ya, era digital memudahkan kita mengakses segala bentuk informasi dengan cepat menggunakan teknologi digital. Teknologi digital (gadget) zaman sekarang bervariatif: gawai, tablet dan laptop. Kendati begitu gawai yang populer kita sebut smart phone adalah benda yang sangat lekat dengan keseharian hidup kita.
Saking lekatnya, tampak akan sangat musykil bagi kita menemukan anak yang asing dan tidak mengenal dengan gawai. Mengapa demikian? Sebab ada istilah yang menyebutkan: "Anak dilahirkan dari rahim manusia, namun diasuh dan dibesarkan oleh media sosial (teknologi digital)."
Tidak percaya? Mari renungkan bersama gambaran rutinitas keluarga atau pun tetangga sekitar kita. Zaman sekarang, jika seorang bayi rewel maka yang dilakukan orangtua (dewasa) bukan berupaya keras membujuknya untuk tenang, namun malah disodorkan tontonan di kanal youtube. Ketika seorang anak kesulitan mengerjakan materi tertentu saat belajar bukan dibimbing langsung namun disuruh bertanya pada google. Saat orangtua sibuk bekerja, mayoritas anak cukup ditenangkan dengan sebuah gawai.
Mirisnya lagi, bahkan saat keluarga besar berkumpul, masing-masing anggota keluarga malah asyik bermain gawai pribadi. Jika pun ada anggota keluarga yang tidak mempunyai gawai maka dicap aneh, katro, kurang update (kudet), dan tidak normal. Tak jarak khalayak umum (termasuk kita) merasa iba manakala mengetahui ada anak yang tidak memiliki gawai.
Pertanyaan mendasarnya, apakah paradigama dan sikap lekat (bahkan, maaf ketergantungan) kita terhadap teknologi digital itu sudah benar? Apakah era digital itu melulu membawa kita pada perdaban yang positif? Atau justru di lain pihak era digital yang digandrungi tersebut lambat laun menjerumuskan kita? Orang-orang yang berkesadaran terhadap arus zaman tentu akan berpikir keras dan refleksi diri dengan apa yang sedang terjadi.
Al-Qur'an menyebutkan, nasib suatu kaum sangat ditentukan dengan ikhtiar dan keputusannya sendiri. Dalam konteks ini, tentu manusia yang hidup di era digital dituntut untuk mawas diri, melakukan refleksi dan proyeksi diri di zaman ia sedang berdiri. Berkaitan dengan dunia pendidikan, selaras dengan perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.
Dalam rangka menghadapi tantangan zaman era digital tersebut SDIT dan TKIT Baitul Qur'an (19/4/2025) mengadakan Halal Bihalal dan Parenting dengan tajuk: Orangtua Andal di Era Digital. Pada kegiatan ini Dr. Naharin Suroyya, M. Pd., CH, Cht. (Konselor, Terapis dan Dosen UIN Sayyid Ali Ramhatullah Tulungagung) tampil sebagai pembicara.
Beliau memaparkan, kebiasaan orangtua saat ini adalah membiarkan anak diasuh oleh teknologi digital. Tidak sekadar membiarkan namun mengarahkan dan memfasilitasinya tanpa kontrol. Kebiasaan tersebut lambat laun tentu akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap orientasi tumbuh kembang sang anak.
Satu sisi kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak positif yang diberikan era digital. Anak pintar memilih informasi, cepat mengambil keputusan, berpikir kreatif dan kebiasaan baik serta terasahnya potensi diri adalah beberapa di antara manfaat yang dapat dituai dari pemanfaatan gawai. Yang demikian terjadi manakala anak menggunakan gawai secara baik dan benar.
Meski begitu, setiap waktu sang anak juga terus dibayang-bayangi dampak negatif dari penggunaan gawai. Hal ini terjadi manakala anak menggunakan gawai dalam rentang waktu yang lama, tanpa kontrol orangtua (dewasa) sampai dengan berselancar di aplikasi yang sia-sia. Kesehatan mata terganggu, kemampuan psikomotorik menurun, telat bicara, perkembangan otak terganggu sampai dengan kondisi mental rentan merupakan dampak negatif yang dapat melanda diri sang anak.
Dampak negatifnya tidak hanya itu, dampak lanjutan lain di antaranya: gangguan perilaku, kecanduan pornografi, cyberbullying, gangguan tidur, obesitas, minim interaksi sosial (anti sosial), kecanduan game online, judol hinggan pinjol. Dampak negatif itu kian kompleks seiring keterkaitan berbagai aspek sosial yang telah digitalisasi.
Lantas, bagaimana cara orangtua mendidik anak di era digital yang baik dan benar? Hemat Bu Dr. Naharin, setidaknya ada 6 tahapan penting yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anak di era digital. Keenam tahapan tersebut yakni dimulai dengan mengenalkan teknologi digital kepada anak, menjalin komunikasi dua arah antara keinginan anak dan orangtua, mengajak anak untuk disiplin dalam menggunakan gawai (perlu dibuat komitmen bersama), sediakan waktu khusus/utama untuk mengajak anak bermain tanpa gawai, monitor aktivitas anak saat menggunakan gawai, sampai dengan manfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan minat dan bakat anak.
Dalam prakteknya, tahapan pendidikan penggunaan teknologi digital ini juga harus disesuaikan dengan tumbuh kembang anak. Ada fase usia yang perlu diperhatikan. Anak usia 1 sampai 3 tahun orangtua mendampingi anak belajar mengenal perbedaan dan membedakan hal baik dan buruk; mengenal fakta dan fantasi. Hal ini dilakukan dengan akses menambah kosa kata, angka dan lagu pada anak.
Ketika anak menginjak usia PAUD dan TK, usia 4 sampai 6 tahun, anak dibimbing meningkatkan keterampilan, mengenal huruf, angka dan pengetahuan dasar. Fokus utama yang diasah masih sekitar tentang membedakan baik dan buruk; mengenal fakta dan yang fantasi. Sedangkan jika anak sudah menginjak usia sekolah dasar, 7-12 tahun, gunakanlah teknologi untuk mengenal dan memahami anggota tubuh serta meningkatkan daya imajinasi anak. Selebihnya, anak diarahkan untuk tidak mendownload aplikasi yang tidak penting dan bukan usianya.
Tak kalah penting, hal yang perlu menjadi perhatian adalah pengawasan dan kontrol saat anak menggunakan teknologi digital. Pengawasan dan kontrol ini dimulai dengan menerapkan jadwal penggunaan perangkat digital saat di rumah, orangtua harus mengerti media sosial dan situs apa saja yang diakses anak, orangtua harus tahu aplikasi edukasi yang berdampak positif bagi anak, dampingi anak saat bermain media digital, memonitor aktivitas dunia maya dan situs-situs yang tidak layak bagi anak, gunakan perangkat yang sama saat dipinjamkan kepada anak sampai dengan mengajak anak untuk bermain offline/tradisional untuk meningkatkan hubungan emosial dan interaksi dengan anak.
Secara pribadi, Dr. Naharin juga berbagi tips menjadi orangtua andal di era digital versi keluarga kecilnya. Mendidik anak di era digital itu dimulai dengan adanya kesadaran orangtua terhadap kewajiban, hak dan tanggungjawab orangtua kepada anak, renungkan kembali firman Allah SWT dan ancaman, orangtua harus belajar menjadi seorang sahabat bagi anak, memberikan keteladanan yang baik, latihan untuk disiplin dalam hal positif, membangun hubungan dan komunikasi yang baik, hindari marah-marah, luangkan waktu untuk bermain dengan anak secara konsisten, pastikan memberi makan/mencukupi kebutuhan anak dengan harta yang halal sampai dengan panjatkan doa terbaik untuk kebaikan sang anak.
Dari paparan tersebut setidaknya kita mampu mengambil satu simpulan bahwa mendidik anak di era digital itu harus didampingi, diawasi dan dikontrol dengan baik oleh orangtua. Orangtua harus mampu memainkan peran; terkadang menjadi sahabat, terkadang menjadi guru, terkadang menjadi orangtua yang tegas. Membangun hubungan dan komunikasi dua arah yang baik adalah kunci utama. Intensitas anda berada di sisi sang anak akan menentukan orientsi masa depan anak.[] (Roni)





.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)



.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)



